Elon Musk Kehilangan Status Triliuner Hanya dalam 12 Hari, Kekayaan Anjlok Akibat Koreksi Saham Teknologi

SulawesiPos.com – Pendiri SpaceX dan Tesla, Elon Musk, kehilangan status sebagai triliuner pertama di dunia pada Selasa (23/6/2026), setelah nilai kekayaannya merosot di bawah satu triliun dolar AS akibat koreksi tajam saham-saham teknologi, terutama SpaceX dan Tesla, menyusul meningkatnya kekhawatiran investor terhadap tingginya valuasi industri kecerdasan buatan (AI), menurut laporan Forbes, Bloomberg Billionaires Index, Mashable, dan sejumlah media internasional yang dipublikasikan pada 24 Juni 2026.

Berdasarkan pembaruan harian Bloomberg Billionaires Index, kekayaan bersih Musk turun menjadi sekitar US$957 miliar, setelah kurang dari dua pekan sebelumnya sempat melampaui angka US$1 triliun.

Status bersejarah tersebut pertama kali diraih Musk pada 12 Juni 2026 setelah SpaceX melantai di bursa Nasdaq melalui penawaran saham perdana (IPO) terbesar dalam sejarah perusahaan antariksa.

IPO SpaceX dipatok pada harga US$135 per saham dan dibuka pada kisaran US$150, sehingga valuasi perusahaan langsung melampaui US$1,77 triliun.

Karena Musk menguasai sekitar 42 persen saham SpaceX, lonjakan valuasi tersebut secara otomatis mengangkat nilai kekayaan pribadinya melewati ambang psikologis satu triliun dolar.

Antusiasme investor yang luar biasa kemudian mendorong harga saham SpaceX mencapai sekitar US$225 per saham pada 16 Juni, sehingga kekayaan Musk sempat melonjak hingga kisaran US$1,3–1,45 triliun, tergantung metode perhitungan lembaga pemeringkat kekayaan.

BACA JUGA:  Arab Saudi 2026 Raih Penghargaan Tertinggi PBB, Ustadz Das'ad Latif: Teknologi Harus Melayani Kemanusiaan

Euforia AI Berubah Menjadi Gelombang Koreksi Pasar

Kenaikan spektakuler tersebut ternyata hanya berlangsung singkat.

Pasar saham teknologi global kemudian memasuki fase koreksi setelah investor mulai mempertanyakan apakah investasi raksasa pada infrastruktur kecerdasan buatan benar-benar mampu menghasilkan keuntungan sebesar yang selama ini diperkirakan.

Kekhawatiran mengenai tingginya belanja modal pusat data AI, biaya pengembangan teknologi, serta masih tingginya suku bunga memicu aksi jual besar-besaran di Wall Street.

Saham sejumlah perusahaan teknologi besar seperti Nvidia, AMD, Intel, dan Tesla ikut mengalami tekanan.

Saham Tesla bahkan sempat turun hampir 6 persen hanya dalam satu hari perdagangan sehingga memangkas puluhan miliar dolar nilai kapitalisasi pasarnya.

Namun pukulan terbesar justru datang dari SpaceX.

Setelah mencapai puncaknya pada pertengahan Juni, harga saham SpaceX anjlok lebih dari 30 persen, bahkan sempat merosot sekitar 16 persen hanya dalam satu hari perdagangan pada 22 Juni.

Penurunan tersebut menghapus ratusan miliar dolar nilai pasar SpaceX dan sekaligus menggerus kekayaan Musk dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.

BACA JUGA:  Hetifah: AI Harus Jadi Alat Bantu Jurnalis, Bukan Pengganti Manusia

Sebagian analis memperkirakan penurunan kekayaan Musk selama periode tersebut merupakan salah satu penyusutan kekayaan pribadi terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah pasar modal modern.

Kekayaan Musk Sangat Bergantung pada Dua Perusahaan

Analis investasi menjelaskan bahwa fluktuasi ekstrem tersebut terjadi karena sebagian besar kekayaan Musk bukan berupa uang tunai, melainkan nilai saham perusahaan yang dimilikinya.

Sekitar 80 persen kekayaan Musk berasal dari kepemilikan saham SpaceX, sedangkan sebagian besar sisanya berasal dari Tesla.

Struktur kepemilikan yang sangat terkonsentrasi membuat perubahan harga saham kedua perusahaan tersebut langsung berdampak besar terhadap total kekayaannya.

Kepala Analisis Keuangan AJ Bell, Danni Hewson, menilai volatilitas seperti ini sebenarnya lazim terjadi pada perusahaan teknologi dengan valuasi sangat tinggi setelah IPO.

Menurut Hewson, banyak keputusan investasi pada SpaceX masih didorong oleh ekspektasi besar terhadap masa depan eksplorasi ruang angkasa dan komersialisasi teknologi antariksa sehingga investor perlu bersikap lebih rasional dan sabar ketika menghadapi fluktuasi harga yang tajam.

Pengamat investasi lainnya, Ben McKeon dari Dowgate Wealth, menilai kisah Musk menunjukkan prinsip klasik dunia investasi bahwa membangun kekayaan sering kali membutuhkan konsentrasi aset, tetapi mempertahankan kekayaan dalam jangka panjang memerlukan diversifikasi.

BACA JUGA:  Korea Selatan Bidik Tiga Besar Kekuatan AI Dunia, Siapkan Ekosistem Teknologi dari Chip hingga Talenta Nasional

Masih Orang Terkaya di Dunia, tetapi Masa Depan Tetap Berisiko

Meskipun kehilangan status triliuner, Elon Musk tetap bertahan sebagai orang terkaya di dunia dengan selisih yang sangat jauh dibanding para pesaingnya.

Pergerakan kekayaannya dalam beberapa pekan mendatang diperkirakan masih sangat dipengaruhi oleh kinerja saham SpaceX dan Tesla serta perkembangan industri kecerdasan buatan global.

Lembaga keuangan Goldman Sachs sebelumnya juga telah memperingatkan bahwa saham-saham perusahaan yang menikmati lonjakan valuasi akibat euforia AI masih rentan mengalami koreksi apabila belanja investasi perusahaan-perusahaan teknologi besar mulai melambat.

Di sisi lain, pembatasan penjualan saham oleh orang dalam SpaceX dijadwalkan mulai dilonggarkan secara bertahap pada akhir Juli sehingga dinamika perdagangan saham perusahaan tersebut masih berpotensi menciptakan volatilitas baru.

Sejumlah analis bahkan memperkirakan Musk dapat kembali memperoleh status triliuner apabila saham SpaceX hanya pulih sekitar enam persen dari posisi saat ini, sehingga bukan tidak mungkin ia menjadi orang pertama di dunia yang berulang kali keluar dan masuk ke klub triliuner dalam waktu relatif singkat. (Ali)

SulawesiPos.com – Pendiri SpaceX dan Tesla, Elon Musk, kehilangan status sebagai triliuner pertama di dunia pada Selasa (23/6/2026), setelah nilai kekayaannya merosot di bawah satu triliun dolar AS akibat koreksi tajam saham-saham teknologi, terutama SpaceX dan Tesla, menyusul meningkatnya kekhawatiran investor terhadap tingginya valuasi industri kecerdasan buatan (AI), menurut laporan Forbes, Bloomberg Billionaires Index, Mashable, dan sejumlah media internasional yang dipublikasikan pada 24 Juni 2026.

Berdasarkan pembaruan harian Bloomberg Billionaires Index, kekayaan bersih Musk turun menjadi sekitar US$957 miliar, setelah kurang dari dua pekan sebelumnya sempat melampaui angka US$1 triliun.

Status bersejarah tersebut pertama kali diraih Musk pada 12 Juni 2026 setelah SpaceX melantai di bursa Nasdaq melalui penawaran saham perdana (IPO) terbesar dalam sejarah perusahaan antariksa.

IPO SpaceX dipatok pada harga US$135 per saham dan dibuka pada kisaran US$150, sehingga valuasi perusahaan langsung melampaui US$1,77 triliun.

Karena Musk menguasai sekitar 42 persen saham SpaceX, lonjakan valuasi tersebut secara otomatis mengangkat nilai kekayaan pribadinya melewati ambang psikologis satu triliun dolar.

Antusiasme investor yang luar biasa kemudian mendorong harga saham SpaceX mencapai sekitar US$225 per saham pada 16 Juni, sehingga kekayaan Musk sempat melonjak hingga kisaran US$1,3–1,45 triliun, tergantung metode perhitungan lembaga pemeringkat kekayaan.

BACA JUGA:  Elon Musk Sebut Kuliah Kedokteran Tak Lagi Relevan, Prof. Murdani Abdullah: AI Tak Akan Menghapus Hakikat Kemanusiaan dalam Medis

Euforia AI Berubah Menjadi Gelombang Koreksi Pasar

Kenaikan spektakuler tersebut ternyata hanya berlangsung singkat.

Pasar saham teknologi global kemudian memasuki fase koreksi setelah investor mulai mempertanyakan apakah investasi raksasa pada infrastruktur kecerdasan buatan benar-benar mampu menghasilkan keuntungan sebesar yang selama ini diperkirakan.

Kekhawatiran mengenai tingginya belanja modal pusat data AI, biaya pengembangan teknologi, serta masih tingginya suku bunga memicu aksi jual besar-besaran di Wall Street.

Saham sejumlah perusahaan teknologi besar seperti Nvidia, AMD, Intel, dan Tesla ikut mengalami tekanan.

Saham Tesla bahkan sempat turun hampir 6 persen hanya dalam satu hari perdagangan sehingga memangkas puluhan miliar dolar nilai kapitalisasi pasarnya.

Namun pukulan terbesar justru datang dari SpaceX.

Setelah mencapai puncaknya pada pertengahan Juni, harga saham SpaceX anjlok lebih dari 30 persen, bahkan sempat merosot sekitar 16 persen hanya dalam satu hari perdagangan pada 22 Juni.

Penurunan tersebut menghapus ratusan miliar dolar nilai pasar SpaceX dan sekaligus menggerus kekayaan Musk dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.

BACA JUGA:  Diduga Sengaja Disebar Pelaku, Polisi Pastikan Foto Terduga Pelaku Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS Andrie Yunus Buatan AI

Sebagian analis memperkirakan penurunan kekayaan Musk selama periode tersebut merupakan salah satu penyusutan kekayaan pribadi terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah pasar modal modern.

Kekayaan Musk Sangat Bergantung pada Dua Perusahaan

Analis investasi menjelaskan bahwa fluktuasi ekstrem tersebut terjadi karena sebagian besar kekayaan Musk bukan berupa uang tunai, melainkan nilai saham perusahaan yang dimilikinya.

Sekitar 80 persen kekayaan Musk berasal dari kepemilikan saham SpaceX, sedangkan sebagian besar sisanya berasal dari Tesla.

Struktur kepemilikan yang sangat terkonsentrasi membuat perubahan harga saham kedua perusahaan tersebut langsung berdampak besar terhadap total kekayaannya.

Kepala Analisis Keuangan AJ Bell, Danni Hewson, menilai volatilitas seperti ini sebenarnya lazim terjadi pada perusahaan teknologi dengan valuasi sangat tinggi setelah IPO.

Menurut Hewson, banyak keputusan investasi pada SpaceX masih didorong oleh ekspektasi besar terhadap masa depan eksplorasi ruang angkasa dan komersialisasi teknologi antariksa sehingga investor perlu bersikap lebih rasional dan sabar ketika menghadapi fluktuasi harga yang tajam.

Pengamat investasi lainnya, Ben McKeon dari Dowgate Wealth, menilai kisah Musk menunjukkan prinsip klasik dunia investasi bahwa membangun kekayaan sering kali membutuhkan konsentrasi aset, tetapi mempertahankan kekayaan dalam jangka panjang memerlukan diversifikasi.

BACA JUGA:  Penipuan Catut Nama Kajati Sulsel Gunakan AI, Kejati Keluarkan Peringatan Resmi

Masih Orang Terkaya di Dunia, tetapi Masa Depan Tetap Berisiko

Meskipun kehilangan status triliuner, Elon Musk tetap bertahan sebagai orang terkaya di dunia dengan selisih yang sangat jauh dibanding para pesaingnya.

Pergerakan kekayaannya dalam beberapa pekan mendatang diperkirakan masih sangat dipengaruhi oleh kinerja saham SpaceX dan Tesla serta perkembangan industri kecerdasan buatan global.

Lembaga keuangan Goldman Sachs sebelumnya juga telah memperingatkan bahwa saham-saham perusahaan yang menikmati lonjakan valuasi akibat euforia AI masih rentan mengalami koreksi apabila belanja investasi perusahaan-perusahaan teknologi besar mulai melambat.

Di sisi lain, pembatasan penjualan saham oleh orang dalam SpaceX dijadwalkan mulai dilonggarkan secara bertahap pada akhir Juli sehingga dinamika perdagangan saham perusahaan tersebut masih berpotensi menciptakan volatilitas baru.

Sejumlah analis bahkan memperkirakan Musk dapat kembali memperoleh status triliuner apabila saham SpaceX hanya pulih sekitar enam persen dari posisi saat ini, sehingga bukan tidak mungkin ia menjadi orang pertama di dunia yang berulang kali keluar dan masuk ke klub triliuner dalam waktu relatif singkat. (Ali)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru