Ekspor Sawit Naik 7,32 Persen, BPS Sebut Jadi Penopang Ekspor Pertanian Semester I 2026

Di antara tiga kelompok komoditas utama tersebut, CPO justru mencatat pertumbuhan nilai ekspor tertinggi, yakni 7,32 persen.

Pada periode yang sama, ekspor besi dan baja turun 0,16 persen, sedangkan batu bara hanya tumbuh 0,63 persen.

Angka itu memperlihatkan kontribusi sawit bukan hanya besar dari sisi pangsa, tetapi juga lebih menonjol dari sisi pertumbuhan nilai dibanding dua komoditas utama lainnya pada paruh pertama 2026.

Amran Dorong Hilirisasi untuk Tambah Nilai

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan penguatan ekspor komoditas pertanian perlu terus didorong lewat hilirisasi agar memberi nilai tambah lebih besar bagi perekonomian nasional dan kesejahteraan petani.

“Kita nomor satu dunia. Total sekitar 80 persen produksi CPO dunia dikuasai Indonesia dan Malaysia. Karena itu, hilirisasi CPO menjadi senjata strategis Indonesia,” ujar Amran.

Menurut Amran, posisi Indonesia sebagai produsen sawit terbesar di dunia memberi ruang besar untuk meningkatkan devisa, tidak hanya dari volume ekspor mentah, tetapi juga dari penguatan industri hilir.

BACA JUGA:  APPSI Gelar Pra-Rakernas, Sudaryono Instruksikan Anggota Kawal Stabilisasi Harga Sembako

Kementerian Pertanian menyebut dorongan itu akan terus diarahkan agar kenaikan ekspor juga diikuti pertumbuhan nilai tambah di dalam negeri.

Di antara tiga kelompok komoditas utama tersebut, CPO justru mencatat pertumbuhan nilai ekspor tertinggi, yakni 7,32 persen.

Pada periode yang sama, ekspor besi dan baja turun 0,16 persen, sedangkan batu bara hanya tumbuh 0,63 persen.

Angka itu memperlihatkan kontribusi sawit bukan hanya besar dari sisi pangsa, tetapi juga lebih menonjol dari sisi pertumbuhan nilai dibanding dua komoditas utama lainnya pada paruh pertama 2026.

Amran Dorong Hilirisasi untuk Tambah Nilai

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan penguatan ekspor komoditas pertanian perlu terus didorong lewat hilirisasi agar memberi nilai tambah lebih besar bagi perekonomian nasional dan kesejahteraan petani.

“Kita nomor satu dunia. Total sekitar 80 persen produksi CPO dunia dikuasai Indonesia dan Malaysia. Karena itu, hilirisasi CPO menjadi senjata strategis Indonesia,” ujar Amran.

Menurut Amran, posisi Indonesia sebagai produsen sawit terbesar di dunia memberi ruang besar untuk meningkatkan devisa, tidak hanya dari volume ekspor mentah, tetapi juga dari penguatan industri hilir.

BACA JUGA:  APPSI Gelar Pra-Rakernas, Sudaryono Instruksikan Anggota Kawal Stabilisasi Harga Sembako

Kementerian Pertanian menyebut dorongan itu akan terus diarahkan agar kenaikan ekspor juga diikuti pertumbuhan nilai tambah di dalam negeri.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru