Tiran Group Nusantara Gelar Internal Sharing Session, Bekali Karyawan Pemahaman Pasar Modal

SulawesiPos.com – Tiran Group Nusantara (TNG) menggelar TNG Internal Sharing Session yang berlangsung secara hybrid di Lantai 3 AAS Building, Selasa (4/8/2026). Kegiatan ini membekali peserta dengan pemahaman dasar mengenai pasar modal hingga strategi perusahaan menjadi emiten di Bursa Efek Indonesia.

Kegiatan tersebut menghadirkan Kepala Divisi Investment Banking Capital Market, Edwin Sukri, yang mengupas konsep dasar pasar modal, tahapan menuju perusahaan terbuka (go public), hingga tantangan yang harus dipersiapkan perusahaan sebelum melantai di bursa.

Dalam pemaparannya, Edwin menegaskan bahwa proses menuju IPO tidak hanya berfokus pada pemenuhan persyaratan administratif, tetapi juga membangun kepercayaan publik sebagai calon investor.

“Pasar modal, kita tidak hanya bisa meyakinkan regulator maupun underwriter. Tetapi kita harus membangun story, memperbaiki apa-apa yang menjadi persyaratan untuk IPO. Karena yang diyakinkan itu bukan hanya Bursa Efek, bukan hanya OJK, bukan hanya underwriter, tetapi publik sebagai pemegang atau pemilik dana nantinya,” ujar Edwin Sukri.

BACA JUGA:  Ketua OJK dan Dua Pejabatnya Mundur

Menurut Edwin, perkembangan pasar modal Indonesia telah mengalami perubahan besar dalam dua dekade terakhir.

Jika sebelumnya akses investasi saham hanya dinikmati kalangan tertentu, kini pasar modal semakin inklusif berkat transformasi regulasi dan kemajuan teknologi.

“Pasar modal kita ini sangat berbeda sekali. Dulu 20 tahun yang lalu pasar modal kita sangat eksklusif. Kemudian ada tuntutan bagaimana pasar modal ini harus inklusif, sehingga seluruh infrastruktur, peraturan, maupun kebijakan yang ada di pasar modal itu totally berubah semua,” katanya.

Ia menjelaskan, pada masa lalu masyarakat yang ingin membeli saham harus datang langsung ke lantai perdagangan Bursa Efek Indonesia melalui perantara broker untuk memasukkan transaksi jual maupun beli.

Namun, kondisi tersebut kini berubah seiring digitalisasi yang membuat investasi saham jauh lebih mudah diakses masyarakat.

“Sekarang di era digitalisasi ini semuanya berubah. Mau beli saham di Bursa Efek Indonesia atau di pasar modal itu semudah kita membeli barang-barang yang ada di toko oranye maupun toko hijau,” jelas Edwin.

BACA JUGA:  Hipmi Berpesan Penguatan IHSG Harus Diikuti Kebijakan Konkret

Edwin kemudian mengibaratkan kemudahan investasi saham saat ini seperti berbelanja di platform marketplace.

Perbedaannya, kata dia, produk yang diperdagangkan di pasar modal merupakan instrumen investasi, bukan barang konsumsi.

“Cuma yang membedakan kalau di marketplace itu sifatnya barang-barang konsumtif, kalau di sini adalah produk yang sifatnya investasi,” pungkasnya.

SulawesiPos.com – Tiran Group Nusantara (TNG) menggelar TNG Internal Sharing Session yang berlangsung secara hybrid di Lantai 3 AAS Building, Selasa (4/8/2026). Kegiatan ini membekali peserta dengan pemahaman dasar mengenai pasar modal hingga strategi perusahaan menjadi emiten di Bursa Efek Indonesia.

Kegiatan tersebut menghadirkan Kepala Divisi Investment Banking Capital Market, Edwin Sukri, yang mengupas konsep dasar pasar modal, tahapan menuju perusahaan terbuka (go public), hingga tantangan yang harus dipersiapkan perusahaan sebelum melantai di bursa.

Dalam pemaparannya, Edwin menegaskan bahwa proses menuju IPO tidak hanya berfokus pada pemenuhan persyaratan administratif, tetapi juga membangun kepercayaan publik sebagai calon investor.

“Pasar modal, kita tidak hanya bisa meyakinkan regulator maupun underwriter. Tetapi kita harus membangun story, memperbaiki apa-apa yang menjadi persyaratan untuk IPO. Karena yang diyakinkan itu bukan hanya Bursa Efek, bukan hanya OJK, bukan hanya underwriter, tetapi publik sebagai pemegang atau pemilik dana nantinya,” ujar Edwin Sukri.

BACA JUGA:  Hipmi Berpesan Penguatan IHSG Harus Diikuti Kebijakan Konkret

Menurut Edwin, perkembangan pasar modal Indonesia telah mengalami perubahan besar dalam dua dekade terakhir.

Jika sebelumnya akses investasi saham hanya dinikmati kalangan tertentu, kini pasar modal semakin inklusif berkat transformasi regulasi dan kemajuan teknologi.

“Pasar modal kita ini sangat berbeda sekali. Dulu 20 tahun yang lalu pasar modal kita sangat eksklusif. Kemudian ada tuntutan bagaimana pasar modal ini harus inklusif, sehingga seluruh infrastruktur, peraturan, maupun kebijakan yang ada di pasar modal itu totally berubah semua,” katanya.

Ia menjelaskan, pada masa lalu masyarakat yang ingin membeli saham harus datang langsung ke lantai perdagangan Bursa Efek Indonesia melalui perantara broker untuk memasukkan transaksi jual maupun beli.

Namun, kondisi tersebut kini berubah seiring digitalisasi yang membuat investasi saham jauh lebih mudah diakses masyarakat.

“Sekarang di era digitalisasi ini semuanya berubah. Mau beli saham di Bursa Efek Indonesia atau di pasar modal itu semudah kita membeli barang-barang yang ada di toko oranye maupun toko hijau,” jelas Edwin.

BACA JUGA:  Rekomendasi Saham Hari Ini 4 Agustus 2026: IHSG Masih Rawan Berbalik, Cermati AMMN hingga HRUM

Edwin kemudian mengibaratkan kemudahan investasi saham saat ini seperti berbelanja di platform marketplace.

Perbedaannya, kata dia, produk yang diperdagangkan di pasar modal merupakan instrumen investasi, bukan barang konsumsi.

“Cuma yang membedakan kalau di marketplace itu sifatnya barang-barang konsumtif, kalau di sini adalah produk yang sifatnya investasi,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru