SulawesiPos.com – Temuan kasus HIV-AIDS di Sulawesi Selatan (Sulsel) menunjukkan tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Namun, Kota Makassar masih mencatat temuan kasus tertinggi dibandingkan daerah lain di Sulsel.
Wakil Wali Kota Makassar Aliyah Mustika Ilham mengatakan jumlah temuan kasus HIV-AIDS di Sulsel hingga Juli 2026 tercatat 963 kasus, terendah dalam 4 tahun terakhir.
Dari jumlah tersebut, Kota Makassar mencatat angka tertinggi yakni 445 temuan kasus.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar dr. Nursaidah Sirajuddin, M.Kes., menjelaskan tingginya temuan kasus di Makassar tidak serta-merta menunjukkan tingginya penularan yang hanya berasal dari warga Kota Makassar.
Sebagai kota besar dengan mobilitas tinggi, Makassar memiliki aktivitas pemeriksaan atau screening kesehatan yang lebih banyak.
Menurutnya, karakteristik orang dengan HIV (ODHIV) dan komunitas populasi kunci juga memengaruhi tingginya angka temuan di Makassar.
Adapun, populasi kunci merupakan kelompok masyarakat tertentu yang memiliki perilaku berisiko lebih tinggi tertular atau menularkan HIV maupun infeksi menular seksual (IMS) lainnya.
“Terus yang kedua, terkait dengan karakteristik ODHIV atau orang dengan HIV dan komunitas populasi kunci sampai saat ini adalah masih sama yaitu mereka akan akses faskes sejauh mungkin dari tempat tinggalnya,” ucap Nursaidah kepada SulawesiPos.com, Jumat (18/9/2026).
Kondisi tersebut membuat masyarakat dari daerah lain di Sulsel turut mengakses layanan kesehatan di Makassar.
Minim Diskriminasi – Faskes Nyaman di Kota Makassar
Nursaidah mengatakan salah satu pertimbangannya adalah masih adanya stigma dan diskriminasi terhadap ODHIV maupun populasi kunci.
“Semua di kabupaten-kabupaten juga ada program HIV AIDS tapi kenapa Kota Makassar tinggi? Karena mereka mereka menginginkan bagaimana mereka jauh dari tempat tinggalnya. Di Kota Makassar temuan kasus itu 46% adalah domisili di luar Kota Makassar,” ujarnya.
Dengan demikian, hampir separuh temuan kasus HIV di Makassar tersebut berasal dari orang yang berdomisili di luar Kota Makassar. Kondisi itu turut berkontribusi terhadap tingginya angka temuan HIV di ibu kota Sulsel tersebut.
“Ketiga, selain itu juga, Makassar dibandingkan daerah lain di Sulsel yang yang paling banyak dukungan support program HIV AIDS yang lengkap,” katanya.
Selain dukungan program, Nursaidah menyebut karakter layanan kesehatan di Makassar turut menjadi faktor yang membuat masyarakat mengakses pemeriksaan dan pengobatan di kota tersebut.
Layanan HIV di sejumlah fasilitas kesehatan dinilai telah memberikan kenyamanan bagi ODHIV dan komunitas populasi kunci.
“Itu yang menjadi alasan sehingga Kota Makassar sangat tinggi walaupun data yang rendah, sangat tinggi untuk bagaimana temuan kasusnya,” ujarnya.
Layanan HIV di Puskesmas Diperluas
Dinas Kesehatan Kota Makassar juga terus memperluas akses layanan HIV di tingkat puskesmas.
Saat ini, terdapat 25 puskesmas yang memberikan layanan HIV dan jumlah tersebut ditargetkan berkembang menjadi 47 puskesmas.
“Karena melihat kondisi-kondisi bahwa orang dengan HIV/AIDS dengan populasi kunci ini mereka lebih senang berobat di puskesmas karena mereka ter-silent (dijaga kerahasiaannya),” kata Nursaidah.
Ia menjelaskan layanan yang bersifat menjaga kerahasiaan pasien menjadi salah satu pertimbangan ODHIV dan populasi kunci dalam memilih fasilitas kesehatan.
Hal tersebut juga menjadi bagian dari upaya menghadirkan layanan yang lebih mudah diakses.
Mayoritas Temuan Berusia 25-49 Tahun
Sementara itu, Aliyah memaparkan temuan HIV-AIDS di Sulsel didominasi kelompok usia 25-49 tahun dengan persentase 58 persen.
Selanjutnya, kelompok usia 15-24 tahun menyumbang 35 persen, usia 30-50 tahun sebesar 6 persen, serta kelompok usia 15 tahun ke bawah sebesar 1 persen.
Data tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah untuk terus memperkuat upaya pencegahan dan penanggulangan HIV-AIDS, khususnya melalui edukasi dan koordinasi lintas sektor.
Aliyah menegaskan tingginya temuan kasus di Makassar perlu diikuti penguatan langkah preventif dan promotif agar masyarakat memperoleh informasi yang tepat mengenai HIV-AIDS.
“Angka ini tentu menjadi perhatian kita bersama. Karena itu pencegahan harus terus diperkuat. Edukasi kepada masyarakat juga penting agar informasi yang benar mengenai HIV-AIDS dapat dipahami dengan baik dan tidak menimbulkan stigma,” ucapnya dalam rakor, Kamis (18/9).


