Makassar Ribut Pemilahan Sampah, Ini Sistem di Jepang dan Australia: Ketat dari Rumah, Tetapi Jalurnya Berbeda

SulawesiPos.com – Saat Makassar baru ribut dengan pemilahan sampah dari rumah, Jepang dan Australia sudah lebih dulu membangun sistem yang menempatkan warga sebagai titik awal pengelolaan. Namun cara keduanya berjalan berbeda: Jepang mengandalkan disiplin pemilahan yang sangat rinci di level kota, sedangkan Australia membangun jalur bin rumah tangga yang lebih seragam dengan dorongan kuat pada pemisahan sampah organik.

Di Jepang, pengelolaan sampah rumah tangga berada di tangan pemerintah daerah. Kerangka nasionalnya ditopang aturan pengelolaan sampah dan daur ulang, tetapi pelaksanaan teknis di lapangan disusun per kota atau municipal.

Itu sebabnya kategori buang sampah di Jepang tidak selalu sama antarwilayah, meski polanya mirip: warga biasanya harus memisahkan sampah bakar, sampah nonbakar, botol PET, kaleng, kaca, kertas, hingga barang berukuran besar, lengkap dengan hari buang dan titik pengumpulan yang sudah ditentukan.

Sistem itu membuat pemilahan tidak berhenti sebagai imbauan. Warga dituntut mengikuti jadwal dan kategori yang spesifik sejak dari rumah agar barang yang masih punya nilai material tidak bercampur lagi dengan residu.

BACA JUGA:  Semen Tonasa Raih PROPER Hijau ke-9, Bukti Konsistensi Industri Berkelanjutan

Kementerian Lingkungan Jepang juga menempatkan sorted collection oleh pemerintah daerah sebagai tulang punggung rantai daur ulang untuk kemasan, plastik tertentu, dan aneka sumber sampah rumah tangga lain.

Data terbaru yang dipublikasikan Kementerian Lingkungan Jepang pada Maret 2026 menunjukkan volume sampah yang didaur ulang dari municipal solid waste pada FY2024 mencapai 7,38 juta ton.

Pada periode yang sama, volume sampah yang masuk landfill turun menjadi 3,06 juta ton, sementara tingkat recycling tercatat 19,3 persen.

Angka itu menunjukkan beban ke tempat pembuangan akhir terus ditekan, meski Jepang tetap bergantung pada kepatuhan warga dan pemrosesan lanjutan setelah sampah dipilah.

Jalur Australia Bertumpu pada Sistem Bin Rumah Tangga

Australia menempuh jalur yang berbeda. Pemerintah federal melalui Department of Climate Change, Energy, the Environment and Water mendorong penyederhanaan perilaku warga lewat sistem kerbside collection atau pengumpulan sampah rumah tangga berbasis bin.

Dalam peta jalan nasionalnya, fungsi bin dibuat mudah dikenali: sampah umum atau residu biasanya masuk bin bertutup merah atau hijau tua, daur ulang kering ke bin kuning, sedangkan sampah organik masuk bin hijau melalui layanan garden organics atau Food Organics and Garden Organics, yang dikenal sebagai FOGO.

BACA JUGA:  Video Appi Gratiskan Iuran Sampah Viral Lagi, Begini Penerapannya di Makassar Sekarang

Model ini membuat pemilahan di Australia cenderung dibangun lewat desain layanan. Rumah tangga diarahkan untuk memisahkan tiga arus utama, yakni residu, bahan daur ulang kering, dan organik.

SulawesiPos.com – Saat Makassar baru ribut dengan pemilahan sampah dari rumah, Jepang dan Australia sudah lebih dulu membangun sistem yang menempatkan warga sebagai titik awal pengelolaan. Namun cara keduanya berjalan berbeda: Jepang mengandalkan disiplin pemilahan yang sangat rinci di level kota, sedangkan Australia membangun jalur bin rumah tangga yang lebih seragam dengan dorongan kuat pada pemisahan sampah organik.

Di Jepang, pengelolaan sampah rumah tangga berada di tangan pemerintah daerah. Kerangka nasionalnya ditopang aturan pengelolaan sampah dan daur ulang, tetapi pelaksanaan teknis di lapangan disusun per kota atau municipal.

Itu sebabnya kategori buang sampah di Jepang tidak selalu sama antarwilayah, meski polanya mirip: warga biasanya harus memisahkan sampah bakar, sampah nonbakar, botol PET, kaleng, kaca, kertas, hingga barang berukuran besar, lengkap dengan hari buang dan titik pengumpulan yang sudah ditentukan.

Sistem itu membuat pemilahan tidak berhenti sebagai imbauan. Warga dituntut mengikuti jadwal dan kategori yang spesifik sejak dari rumah agar barang yang masih punya nilai material tidak bercampur lagi dengan residu.

BACA JUGA:  Garuda Muda Masuk Grup Neraka Piala Asia U-17 2026, Jepang Jadi Lawan Terberat

Kementerian Lingkungan Jepang juga menempatkan sorted collection oleh pemerintah daerah sebagai tulang punggung rantai daur ulang untuk kemasan, plastik tertentu, dan aneka sumber sampah rumah tangga lain.

Data terbaru yang dipublikasikan Kementerian Lingkungan Jepang pada Maret 2026 menunjukkan volume sampah yang didaur ulang dari municipal solid waste pada FY2024 mencapai 7,38 juta ton.

Pada periode yang sama, volume sampah yang masuk landfill turun menjadi 3,06 juta ton, sementara tingkat recycling tercatat 19,3 persen.

Angka itu menunjukkan beban ke tempat pembuangan akhir terus ditekan, meski Jepang tetap bergantung pada kepatuhan warga dan pemrosesan lanjutan setelah sampah dipilah.

Jalur Australia Bertumpu pada Sistem Bin Rumah Tangga

Australia menempuh jalur yang berbeda. Pemerintah federal melalui Department of Climate Change, Energy, the Environment and Water mendorong penyederhanaan perilaku warga lewat sistem kerbside collection atau pengumpulan sampah rumah tangga berbasis bin.

Dalam peta jalan nasionalnya, fungsi bin dibuat mudah dikenali: sampah umum atau residu biasanya masuk bin bertutup merah atau hijau tua, daur ulang kering ke bin kuning, sedangkan sampah organik masuk bin hijau melalui layanan garden organics atau Food Organics and Garden Organics, yang dikenal sebagai FOGO.

BACA JUGA:  Gol Akhir Daichi Kamada Buyarkan Kemenangan Belanda, Jepang Tahan Imbang 2-2

Model ini membuat pemilahan di Australia cenderung dibangun lewat desain layanan. Rumah tangga diarahkan untuk memisahkan tiga arus utama, yakni residu, bahan daur ulang kering, dan organik.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru