SulawesiPos.com – Ahli waris Aprida Rapi (49), ASN Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya yang tewas ditembak ketika menjalankan tugas di Distrik Muliama, menerima santunan Rp420.648.400 dari PT Taspen.
Santunan diserahkan kepada suaminya, Yohanis Tonglo, di rumah duka di Lembang Leatung Matallo, Kecamatan Sangalla Utara, Tana Toraja, Sabtu (12/9/2026).
Aprida menjabat Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan.
Ia meninggalkan seorang suami dan tiga anak, terdiri atas dua perempuan dan seorang laki-laki yang masih duduk di bangku SMP.
Santunan tersebut terdiri atas manfaat Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) Tewas sebesar Rp320.274.600 dan Tabungan Hari Tua (THT) Rp100.373.800.
Kepala Kantor PT Taspen Cabang Palopo Asep Slamet Riyadi menyerahkan santunan secara simbolis kepada Yohanis.
Ia mengatakan nilai uang tidak dapat dibandingkan dengan nyawa yang hilang.
“Kami sangat yakin nominal ini tidak akan tertukar dengan betapa berharganya nyawa seseorang,” kata Asep saat menyerahkan santunan.
Menurut Asep, pembayaran tersebut merupakan bentuk perlindungan negara atas risiko yang dialami ASN ketika melaksanakan tugas.
Ia berharap hak-hak keuangan Aprida dapat membantu keluarga, terutama membiayai pendidikan anak-anak yang ditinggalkan.
“Namun sekali lagi ini adalah bentuk perhatian negara, pemerintah dan peninggalan dari almarhumah Ibu Aprida Rapi untuk keluarga yang ditinggalkan, apalagi masih ada anak-anak yang masih sekolah, yang memerlukan biaya untuk pendidikan lebih lanjut ke depannya,” ujarnya.
Ditembak Sepulang Mengantar Bantuan Ternak
Aprida menjadi satu dari tiga ASN Dinas Pertanian Jayawijaya yang tewas ditembak di jalan Distrik Muliama pada Rabu (9/9/2026) sekitar pukul 15.53 WIT.
Dua korban lainnya ialah Alfonsius Albinus Mehan (35) dan Wili Mbuik (24).
Rombongan berjumlah 11 orang itu sebelumnya berangkat dari Wamena untuk menyalurkan bantuan anak babi, memeriksa lahan program cetak sawah, dan memberikan penyuluhan peternakan kepada masyarakat.
Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz 2026 Kombes Pol Yusuf Sutejo mengatakan kendaraan para pegawai diadang ketika mereka dalam perjalanan pulang.
“Dalam perjalanan kembali menuju ke Kabupaten Wamena, kendaraan yang mereka tumpangi diduga diadang oleh kelompok bersenjata dan diperintahkan berhenti,” kata Yusuf.
Menurut polisi, ketiga korban diperintahkan turun dan digiring ke belakang kendaraan sebelum terdengar tiga letusan senjata api.
Aprida meninggal di lokasi akibat luka tembak di perut, sedangkan delapan anggota rombongan lainnya selamat.
Polisi menemukan tiga selongsong peluru ketika mengolah tempat kejadian perkara.
Dua selongsong berukuran 5,56 milimeter dan satu lainnya berkaliber 9 milimeter.
“Berdasarkan keterangan awal saksi, kelompok yang diduga melakukan penembakan tersebut berjumlah sekitar delapan orang. Tentunya kita kejar, insyaallah kita dapat karena identitas pelaku sudah kita kantongi,” ujar Yusuf.
Keluarga Minta Tak Ada Korban Berikutnya
Jenazah Aprida tiba di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin pada Jumat (11/9/2026) malam dan dibawa ke Tana Toraja.
Yohanis mengatakan istrinya telah mengabdi sebagai ASN selama sekitar 24 tahun.
Ia menuturkan Aprida dan rombongan diserang setelah menyelesaikan pembagian bantuan kepada masyarakat di wilayah pedalaman.
Keluarga mengetahui kejadian tersebut sekitar 15 menit setelah penembakan dilaporkan kepada aparat keamanan.
Yohanis meminta pemerintah dan aparat menuntaskan kasus tersebut serta memperkuat perlindungan bagi masyarakat dan petugas yang bekerja di pedalaman Papua.
“Harapan kami dari keluarga ya mudah-mudahan pihak keamanan, pemerintah setempat bisa mengambil tindakan, supaya korban-korban berikutnya tidak ada lagi. Kejadian seperti ini sudah terlalu sering dan seakan-akan tidak ada kepedulian dari pemerintah setempat,” kata Yohanis.
Satgas Operasi Damai Cartenz telah menambah personel di Wamena dan mengejar kelompok yang diduga terlibat.
Hingga pembaruan terakhir yang diperiksa, polisi belum mengumumkan penangkapan pelaku.

