Lavrov juga mengapresiasi keberhasilan China menyelenggarakan World Artificial Intelligence Conference (WAIC) 2026 di Shanghai.
Rusia, lanjut Lavrov, telah bergabung dalam World AI Cooperation Organization (WAICO) dan berharap kerja sama inovasi, kecerdasan buatan, serta ilmu pengetahuan dengan China semakin mendalam melalui platform tersebut.
Perdagangan Melonjak Meski Dihantam Sanksi Barat
Lavrov menegaskan bahwa tekanan ekonomi dan sanksi yang diterapkan negara-negara Barat tidak mampu menghentikan pertumbuhan hubungan ekonomi Rusia dan China.
Ia mengungkapkan bahwa perdagangan bilateral selama semester pertama 2026 meningkat sekitar 25 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Menurut Lavrov, apabila tren tersebut terus berlanjut maka nilai perdagangan kedua negara berpeluang mencetak rekor baru pada akhir 2026.
Peningkatan tersebut didorong oleh bertambahnya transaksi energi, pertanian, logistik, teknologi tinggi, industri manufaktur, serta penggunaan mata uang nasional dalam perdagangan bilateral.
Pada kunjungan resmi Presiden Putin ke China pada Mei lalu, kedua negara juga menandatangani 42 dokumen kerja sama, termasuk deklarasi bersama untuk memperkuat kemitraan strategis komprehensif.
Perjanjian Persahabatan, Kerja Sama, dan Bertetangga Baik yang menjadi fondasi hubungan kedua negara kembali diperingati secara luas sepanjang tahun ini melalui berbagai kegiatan diplomatik di banyak negara.
Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan implementasi seluruh kesepakatan yang dicapai Presiden Putin dan Presiden Xi menjadi prioritas utama kedua pemerintahan.
Bahas Amerika Serikat dan Krisis Ukraina
Selain membahas hubungan bilateral, Wang Yi dan Lavrov bertukar pandangan mengenai hubungan masing-masing negara dengan Amerika Serikat.


