SulawesiPos.com – Menteri Luar Negeri China Wang Yi dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menegaskan semakin kuatnya kemitraan strategis Beijing-Moskow dalam pertemuan di sela Sidang Dewan Menteri Luar Negeri Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di Cholpon-Ata, Kirgizstan, Jumat (24/7/2026). Keduanya membahas hubungan bilateral, krisis Ukraina, hubungan dengan Amerika Serikat, serta penguatan koordinasi di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), BRICS, G20, APEC, dan SCO guna mendorong terwujudnya tatanan dunia multipolar yang lebih demokratis dan stabil. Laporan ini bersumber dari Kementerian Luar Negeri Rusia yang dipublikasikan pada 24 Juli 2026.
Wang Yi menegaskan bahwa pertemuan Presiden Xi Jinping dan Presiden Vladimir Putin di Beijing pada Mei 2026 telah membuka babak baru hubungan China-Rusia yang ditandai percepatan kerja sama strategis di berbagai bidang.
Menteri luar negeri China itu juga menyampaikan dukungan terhadap penyelenggaraan pemilihan anggota Duma Rusia pada September mendatang sebagai bentuk penghormatan terhadap pilihan politik rakyat Rusia.
Ia mengingatkan bahwa tahun 2026 menandai 25 tahun Perjanjian Persahabatan, Kerja Sama, dan Bertetangga Baik China-Rusia sekaligus seperempat abad berdirinya SCO yang kini berkembang menjadi salah satu organisasi keamanan dan ekonomi paling berpengaruh di kawasan Eurasia.
Menurut Wang Yi, kedua negara harus terus menghidupkan Semangat Shanghai (Shanghai Spirit) yang menekankan kepercayaan bersama, saling menguntungkan, kesetaraan, konsultasi, penghormatan terhadap keberagaman peradaban, dan pembangunan bersama.
Ia menilai prinsip tersebut semakin relevan ketika dunia menghadapi meningkatnya rivalitas geopolitik dan fragmentasi sistem internasional.
Wang Yi juga menyerukan penguatan koordinasi strategis di PBB, APEC, BRICS, G20, serta berbagai forum multilateral lainnya guna memperbaiki tata kelola global dan mempercepat terbentuknya komunitas dengan masa depan bersama bagi umat manusia.
Dalam isu keamanan internasional, Wang Yi menegaskan pentingnya mempertahankan hasil Perang Dunia II dan menyatakan penolakan terhadap setiap bentuk remiliterisasi Jepang yang dinilai dapat mengganggu stabilitas kawasan Asia-Pasifik.
Lavrov menyebut diplomasi tingkat kepala negara tetap menjadi mesin utama yang menggerakkan hubungan Rusia dan China menuju tingkat yang belum pernah dicapai sebelumnya.
Ia mengungkapkan bahwa Presiden Putin dan Presiden Xi Jinping telah bertemu lebih dari 50 kali dalam berbagai kunjungan bilateral maupun forum internasional sehingga menciptakan tingkat kepercayaan politik yang sangat tinggi.
Lavrov juga mengapresiasi keberhasilan China menyelenggarakan World Artificial Intelligence Conference (WAIC) 2026 di Shanghai.
Rusia, lanjut Lavrov, telah bergabung dalam World AI Cooperation Organization (WAICO) dan berharap kerja sama inovasi, kecerdasan buatan, serta ilmu pengetahuan dengan China semakin mendalam melalui platform tersebut.
Perdagangan Melonjak Meski Dihantam Sanksi Barat
Lavrov menegaskan bahwa tekanan ekonomi dan sanksi yang diterapkan negara-negara Barat tidak mampu menghentikan pertumbuhan hubungan ekonomi Rusia dan China.
Ia mengungkapkan bahwa perdagangan bilateral selama semester pertama 2026 meningkat sekitar 25 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Menurut Lavrov, apabila tren tersebut terus berlanjut maka nilai perdagangan kedua negara berpeluang mencetak rekor baru pada akhir 2026.
Peningkatan tersebut didorong oleh bertambahnya transaksi energi, pertanian, logistik, teknologi tinggi, industri manufaktur, serta penggunaan mata uang nasional dalam perdagangan bilateral.
Pada kunjungan resmi Presiden Putin ke China pada Mei lalu, kedua negara juga menandatangani 42 dokumen kerja sama, termasuk deklarasi bersama untuk memperkuat kemitraan strategis komprehensif.
Perjanjian Persahabatan, Kerja Sama, dan Bertetangga Baik yang menjadi fondasi hubungan kedua negara kembali diperingati secara luas sepanjang tahun ini melalui berbagai kegiatan diplomatik di banyak negara.
Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan implementasi seluruh kesepakatan yang dicapai Presiden Putin dan Presiden Xi menjadi prioritas utama kedua pemerintahan.
Bahas Amerika Serikat dan Krisis Ukraina
Selain membahas hubungan bilateral, Wang Yi dan Lavrov bertukar pandangan mengenai hubungan masing-masing negara dengan Amerika Serikat.
Kedua pihak juga mendiskusikan perkembangan terbaru konflik Ukraina beserta berbagai kemungkinan penyelesaian melalui jalur politik dan diplomatik.
Kementerian Luar Negeri Rusia menyebut diskusi berlangsung terbuka, konstruktif, dan menunjukkan bahwa posisi kedua negara terhadap sebagian besar isu internasional memiliki tingkat kesamaan yang sangat tinggi.
Kedua menteri juga membahas persiapan Konferensi Tingkat Tinggi SCO berikutnya yang diharapkan memperkuat modernisasi organisasi tersebut.
Dalam kesempatan terpisah di sela forum SCO, Lavrov juga melakukan pembicaraan bilateral dengan Menteri Luar Negeri Iran mengenai perkembangan kawasan dan kerja sama strategis.
China pada saat yang sama mengumumkan pembatasan ekspor produk dual-use kepada 14 perusahaan Eropa sebagai respons terhadap putaran terbaru sanksi Uni Eropa yang menyasar sejumlah perusahaan China dan Hong Kong terkait hubungan dagang dengan Rusia.
Langkah tersebut memperlihatkan bahwa rivalitas ekonomi antara blok Barat dan poros Eurasia semakin meluas ke sektor teknologi tinggi dan rantai pasok global.
SCO Kian Menjadi Pilar Tatanan Dunia Multipolar
Pertemuan Wang Yi dan Lavrov memperlihatkan bahwa kerja sama China-Rusia kini tidak lagi terbatas pada hubungan bilateral, melainkan berkembang menjadi koordinasi strategis dalam membentuk arsitektur geopolitik internasional yang lebih multipolar.
Dengan anggota tetap yang mencakup China, Rusia, India, Pakistan, Iran, Kazakhstan, Kirgizstan, Tajikistan, Uzbekistan, dan Belarus, SCO kini merepresentasikan hampir setengah populasi dunia serta menjadi salah satu organisasi regional terbesar dari sisi wilayah dan jumlah penduduk.
Para pengamat hubungan internasional menilai penguatan koordinasi Beijing dan Moskow di bawah payung SCO, BRICS, serta berbagai forum multilateral lainnya menunjukkan semakin bergesernya pusat gravitasi politik dan ekonomi global menuju Eurasia.
Di tengah meningkatnya persaingan antar-kekuatan besar, dialog strategis semacam ini menjadi salah satu instrumen penting untuk menjaga stabilitas internasional, memperluas kerja sama ekonomi lintas kawasan, mendorong inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memperkuat mekanisme penyelesaian konflik melalui diplomasi dibandingkan konfrontasi militer. (Ali)


