Kedua pihak juga mendiskusikan perkembangan terbaru konflik Ukraina beserta berbagai kemungkinan penyelesaian melalui jalur politik dan diplomatik.
Kementerian Luar Negeri Rusia menyebut diskusi berlangsung terbuka, konstruktif, dan menunjukkan bahwa posisi kedua negara terhadap sebagian besar isu internasional memiliki tingkat kesamaan yang sangat tinggi.
Kedua menteri juga membahas persiapan Konferensi Tingkat Tinggi SCO berikutnya yang diharapkan memperkuat modernisasi organisasi tersebut.
Dalam kesempatan terpisah di sela forum SCO, Lavrov juga melakukan pembicaraan bilateral dengan Menteri Luar Negeri Iran mengenai perkembangan kawasan dan kerja sama strategis.
China pada saat yang sama mengumumkan pembatasan ekspor produk dual-use kepada 14 perusahaan Eropa sebagai respons terhadap putaran terbaru sanksi Uni Eropa yang menyasar sejumlah perusahaan China dan Hong Kong terkait hubungan dagang dengan Rusia.
Langkah tersebut memperlihatkan bahwa rivalitas ekonomi antara blok Barat dan poros Eurasia semakin meluas ke sektor teknologi tinggi dan rantai pasok global.
SCO Kian Menjadi Pilar Tatanan Dunia Multipolar
Pertemuan Wang Yi dan Lavrov memperlihatkan bahwa kerja sama China-Rusia kini tidak lagi terbatas pada hubungan bilateral, melainkan berkembang menjadi koordinasi strategis dalam membentuk arsitektur geopolitik internasional yang lebih multipolar.
Dengan anggota tetap yang mencakup China, Rusia, India, Pakistan, Iran, Kazakhstan, Kirgizstan, Tajikistan, Uzbekistan, dan Belarus, SCO kini merepresentasikan hampir setengah populasi dunia serta menjadi salah satu organisasi regional terbesar dari sisi wilayah dan jumlah penduduk.
Para pengamat hubungan internasional menilai penguatan koordinasi Beijing dan Moskow di bawah payung SCO, BRICS, serta berbagai forum multilateral lainnya menunjukkan semakin bergesernya pusat gravitasi politik dan ekonomi global menuju Eurasia.
Di tengah meningkatnya persaingan antar-kekuatan besar, dialog strategis semacam ini menjadi salah satu instrumen penting untuk menjaga stabilitas internasional, memperluas kerja sama ekonomi lintas kawasan, mendorong inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memperkuat mekanisme penyelesaian konflik melalui diplomasi dibandingkan konfrontasi militer. (Ali)


