Danau Baru Muncul di Perbatasan China-Nepal, Ancaman Banjir Susulan Mengintai

SulawesiPos.com — Bencana longsor di kawasan perbatasan China-Nepal memunculkan ancaman baru. Material longsor yang membendung aliran air membentuk sebuah danau baru yang kini dikhawatirkan jebol dan memicu banjir di wilayah hilir.

Danau tersebut terbentuk setelah longsor menerjang kawasan perbatasan Gyirong pada Rabu (26/8/2026).

Bencana ini masih menyisakan persoalan besar karena hingga Jumat (28/8), ratusan orang di wilayah China dan Nepal dilaporkan belum diketahui nasibnya.

Alih-alih menjadi akhir dari bencana, terbentuknya danau baru justru meningkatkan kewaspadaan otoritas.

Media pemerintah China, CCTV, melaporkan bendungan alami dari material longsor tersebut berpotensi jebol sewaktu-waktu.

Jika danau sampai jebol, air dalam jumlah besar dapat mengalir deras ke wilayah hilir dan menyebabkan banjir baru.

Ancaman tersebut semakin besar karena permukaan air danau diperkirakan masih akan terus meningkat dalam beberapa hari mendatang.

CCTV memprediksi puncak kenaikan permukaan air danau terjadi pada 1 September 2026.

“Menurut perkiraan, aliran masuk ke danau dapat mencapai sekitar 3 juta meter kubik selama tiga hari ke depan di tengah curah hujan yang terus berlanjut, meningkatkan risiko jebol yang dapat menyebabkan banjir di hilir dan berpotensi menyebabkan kerusakan lebih lanjut di daerah-daerah termasuk Pelabuhan Gyirong dan tempat lain di hilir,” kata laporan media pemerintah China lainnya, Xinhua, seperti dikutip Reuters.

BACA JUGA:  Warga Boleh Ambil Kayu Hanyut Pasca-Banjir, DPR Desak Pemerintah Segera Terbitkan Payung Hukum

Ancaman banjir susulan semakin diperkuat oleh prakiraan cuaca.

Otoritas China memprediksi hujan deras akan mengguyur kawasan bencana dalam tiga hari ke depan.

Curah hujan tersebut berpotensi menambah volume air danau dengan cepat.

Kondisi itu sekaligus meningkatkan tekanan terhadap material longsor yang saat ini berfungsi sebagai bendungan alami.

Otoritas pun menghadapi situasi yang mendesak untuk mengantisipasi kemungkinan jebolnya danau dan dampaknya terhadap wilayah yang berada di sepanjang aliran hilir.

SulawesiPos.com — Bencana longsor di kawasan perbatasan China-Nepal memunculkan ancaman baru. Material longsor yang membendung aliran air membentuk sebuah danau baru yang kini dikhawatirkan jebol dan memicu banjir di wilayah hilir.

Danau tersebut terbentuk setelah longsor menerjang kawasan perbatasan Gyirong pada Rabu (26/8/2026).

Bencana ini masih menyisakan persoalan besar karena hingga Jumat (28/8), ratusan orang di wilayah China dan Nepal dilaporkan belum diketahui nasibnya.

Alih-alih menjadi akhir dari bencana, terbentuknya danau baru justru meningkatkan kewaspadaan otoritas.

Media pemerintah China, CCTV, melaporkan bendungan alami dari material longsor tersebut berpotensi jebol sewaktu-waktu.

Jika danau sampai jebol, air dalam jumlah besar dapat mengalir deras ke wilayah hilir dan menyebabkan banjir baru.

Ancaman tersebut semakin besar karena permukaan air danau diperkirakan masih akan terus meningkat dalam beberapa hari mendatang.

CCTV memprediksi puncak kenaikan permukaan air danau terjadi pada 1 September 2026.

“Menurut perkiraan, aliran masuk ke danau dapat mencapai sekitar 3 juta meter kubik selama tiga hari ke depan di tengah curah hujan yang terus berlanjut, meningkatkan risiko jebol yang dapat menyebabkan banjir di hilir dan berpotensi menyebabkan kerusakan lebih lanjut di daerah-daerah termasuk Pelabuhan Gyirong dan tempat lain di hilir,” kata laporan media pemerintah China lainnya, Xinhua, seperti dikutip Reuters.

BACA JUGA:  Bank Dunia Siapkan Stop Pinjaman ke China pada 2031, Status Ekonomi Beijing Jadi Alasan Utama

Ancaman banjir susulan semakin diperkuat oleh prakiraan cuaca.

Otoritas China memprediksi hujan deras akan mengguyur kawasan bencana dalam tiga hari ke depan.

Curah hujan tersebut berpotensi menambah volume air danau dengan cepat.

Kondisi itu sekaligus meningkatkan tekanan terhadap material longsor yang saat ini berfungsi sebagai bendungan alami.

Otoritas pun menghadapi situasi yang mendesak untuk mengantisipasi kemungkinan jebolnya danau dan dampaknya terhadap wilayah yang berada di sepanjang aliran hilir.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru