JK Dorong Rekonstruksi Rumah Korban Gempa NTT Lewat Skema Gotong Royong

Sulawesi Pos.com – Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla (JK) mendorong percepatan tahap rehabilitasi dan rekonstruksi pascagempa di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Menurut mantan Wapres ini, setelah kebutuhan dasar masa tanggap darurat terpenuhi, fokus penanganan harus segera dialihkan pada pembangunan kembali rumah warga yang rusak.

​Hal tersebut ditegaskan JK saat meninjau posko pengungsian di Gelora Samador dan posko BPBD Kabupaten Sikka, Maumere, NTT, Jumat (28/8/2026).

Dalam kunjungan itu, JK didampingi Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago, Sekretaris Jenderal PMI AM Fachir, serta perwakilan Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC).

​JK mengapresiasi kesadaran mitigasi masyarakat di wilayah rawan bencana (ring of fire) yang dinilainya kian membaik, terutama kesigapan warga pesisir yang langsung mencari tempat tinggi saat gempa terjadi.

Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa dampak kerusakan fisik pada hunian tetap membutuhkan perhatian serius.

​”Namanya gempa tetap punya korban. Satu orang pun tetap korban,” kata JK.

BACA JUGA:  PMI Kirim Kapal Kemanusian Berisi Bantuan 258 Ton untuk Korban Gempa NTT

​JK menjelaskan, penanganan bencana terbagi menjadi dua tahap utama, yakni masa tanggap darurat dan rekonstruksi.

Begitu kebutuhan tempat tinggal sementara, logistik pangan, dan layanan kesehatan terpenuhi, proses rekonstruksi harus segera berjalan.

​”Kalau tiga hal ini terpenuhi, unsur tanggap darurat sudah berjalan. Setelah itu masuk tahap rekonstruksi,” jelasnya.

​Mengingat besarnya anggaran dan waktu yang dibutuhkan, JK menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan organisasi kemanusiaan melalui skema gotong royong seperti yang pernah diterapkan pascagempa Yogyakarta.

Melalui pola ini, pemerintah menyiapkan bahan bangunan, sementara masyarakat bersama mahasiswa teknik turun langsung membangun rumahnya dengan dukungan biaya kerja agar roda ekonomi keluarga tetap berputar.

​”Jangan sampai pengungsi hanya duduk menunggu. Mereka harus bekerja dan terlibat dalam membangun kembali kehidupannya,” tegas JK.

​Selain mendorong keaktifan warga, JK meminta proses rekonstruksi mengoptimalkan sumber daya lokal demi menghemat biaya logistik dan mempercepat pengerjaan.

PMI saat ini tengah mendata kebutuhan material mendesak seperti semen dan seng, dengan target proses rehabilitasi tuntas dalam waktu enam bulan.

BACA JUGA:  Jusuf Kalla Ajak Donasi Korban Gempa NTT Lewat PMI

​”Kalau ada bahan di sini, gunakan yang ada di sini. Tidak perlu semuanya didatangkan dari luar karena ongkosnya lebih mahal. Bencana adalah persoalan kemanusiaan, semua agama mengajarkan untuk membantu orang yang sedang kesusahan,” pungkas JK.

Sulawesi Pos.com – Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla (JK) mendorong percepatan tahap rehabilitasi dan rekonstruksi pascagempa di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Menurut mantan Wapres ini, setelah kebutuhan dasar masa tanggap darurat terpenuhi, fokus penanganan harus segera dialihkan pada pembangunan kembali rumah warga yang rusak.

​Hal tersebut ditegaskan JK saat meninjau posko pengungsian di Gelora Samador dan posko BPBD Kabupaten Sikka, Maumere, NTT, Jumat (28/8/2026).

Dalam kunjungan itu, JK didampingi Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago, Sekretaris Jenderal PMI AM Fachir, serta perwakilan Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC).

​JK mengapresiasi kesadaran mitigasi masyarakat di wilayah rawan bencana (ring of fire) yang dinilainya kian membaik, terutama kesigapan warga pesisir yang langsung mencari tempat tinggi saat gempa terjadi.

Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa dampak kerusakan fisik pada hunian tetap membutuhkan perhatian serius.

​”Namanya gempa tetap punya korban. Satu orang pun tetap korban,” kata JK.

BACA JUGA:  Pramono Anung Tak Mau Masuk Gorong-Gorong, Sebut Dirinya Bekerja dengan Pikiran

​JK menjelaskan, penanganan bencana terbagi menjadi dua tahap utama, yakni masa tanggap darurat dan rekonstruksi.

Begitu kebutuhan tempat tinggal sementara, logistik pangan, dan layanan kesehatan terpenuhi, proses rekonstruksi harus segera berjalan.

​”Kalau tiga hal ini terpenuhi, unsur tanggap darurat sudah berjalan. Setelah itu masuk tahap rekonstruksi,” jelasnya.

​Mengingat besarnya anggaran dan waktu yang dibutuhkan, JK menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan organisasi kemanusiaan melalui skema gotong royong seperti yang pernah diterapkan pascagempa Yogyakarta.

Melalui pola ini, pemerintah menyiapkan bahan bangunan, sementara masyarakat bersama mahasiswa teknik turun langsung membangun rumahnya dengan dukungan biaya kerja agar roda ekonomi keluarga tetap berputar.

​”Jangan sampai pengungsi hanya duduk menunggu. Mereka harus bekerja dan terlibat dalam membangun kembali kehidupannya,” tegas JK.

​Selain mendorong keaktifan warga, JK meminta proses rekonstruksi mengoptimalkan sumber daya lokal demi menghemat biaya logistik dan mempercepat pengerjaan.

PMI saat ini tengah mendata kebutuhan material mendesak seperti semen dan seng, dengan target proses rehabilitasi tuntas dalam waktu enam bulan.

BACA JUGA:  JK: Kreativitas, Keberanian, dan Kepercayaan Jadi Kunci Hadapi Tantangan Ekonomi

​”Kalau ada bahan di sini, gunakan yang ada di sini. Tidak perlu semuanya didatangkan dari luar karena ongkosnya lebih mahal. Bencana adalah persoalan kemanusiaan, semua agama mengajarkan untuk membantu orang yang sedang kesusahan,” pungkas JK.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru