SulawesiPos.com – Harga minyak dunia melonjak lebih dari enam persen pada perdagangan Rabu (8/7/2026), setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan kesepahaman penghentian konflik dengan Iran telah berakhir dan Washington tidak lagi berminat melanjutkan perundingan dengan Teheran, memicu kekhawatiran baru terhadap keamanan pasokan energi dari Timur Tengah serta mendorong harga minyak mencapai level tertinggi dalam dua pekan terakhir sebagaimana laporan The Wall Street Journal yang dipublikasikan pada Kamis (9/7/2026).
Pada perdagangan tersebut, minyak mentah Brent sebagai acuan internasional melonjak sekitar 6,2 persen hingga mencapai sekitar US$78,7 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik hampir 6 persen menjadi sekitar US$74,7 per barel, sekaligus menjadi harga tertinggi sejak akhir Juni 2026.
Lonjakan tersebut terjadi setelah Trump menyatakan bahwa kesepahaman yang sebelumnya dicapai dengan Iran telah berakhir dan tidak lagi memiliki prospek untuk diteruskan, sehingga pelaku pasar memperkirakan risiko gangguan pasokan minyak dari kawasan Teluk kembali meningkat.
Pernyataan itu muncul bersamaan dengan dimulainya gelombang baru operasi militer Amerika Serikat terhadap sejumlah sasaran di Iran serta pencabutan izin sementara yang sebelumnya memungkinkan ekspor minyak Iran ke pasar internasional.
Langkah Washington juga diikuti meningkatnya kekhawatiran terhadap keselamatan jalur pelayaran di Selat Hormuz setelah muncul laporan mengenai serangan terhadap sejumlah kapal dagang yang melintasi kawasan strategis tersebut.
Sebelumnya, pasar minyak sebenarnya telah bergerak menguat setelah Amerika Serikat membatalkan pengecualian sementara terhadap sanksi ekspor minyak Iran, namun meningkatnya eskalasi militer membuat aksi pembelian sebagai langkah antisipasi semakin besar.
Risiko Geopolitik Kembali Mendominasi Pergerakan Pasar
Kenaikan harga minyak lebih dari enam persen hanya dalam satu hari menunjukkan kembali munculnya geopolitical risk premium, yakni tambahan harga yang berasal dari meningkatnya risiko politik dan keamanan, bukan semata-mata dipicu oleh perubahan keseimbangan permintaan dan penawaran.
Secara teknikal, keberhasilan Brent menembus kisaran US$78 per barel mematahkan level resistensi jangka pendek sekaligus meningkatkan volatilitas (Fluktuasi Harga) perdagangan komoditas energi dunia.
Para analis menilai bahwa dalam kondisi saat ini, perkembangan politik dan keamanan jauh lebih menentukan arah harga dibandingkan indikator fundamental seperti produksi, konsumsi, maupun cadangan minyak.
Reaksi pasar yang sangat cepat memperlihatkan bahwa keamanan pasokan minyak dari Timur Tengah masih menjadi faktor utama pembentuk harga energi global.
Setiap peningkatan ancaman terhadap jalur ekspor, khususnya di Selat Hormuz, berpotensi menaikkan biaya pengiriman, premi asuransi kapal tanker, hingga harga akhir minyak yang dibayar negara-negara pengimpor.
Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur energi terpenting di dunia karena setiap hari sekitar seperlima perdagangan minyak global melewati kawasan sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut.
Meningkatnya harga minyak juga berpotensi mendorong inflasi global, memengaruhi kebijakan suku bunga bank sentral, serta meningkatkan biaya produksi berbagai sektor industri yang bergantung pada energi.
Ketidakpastian Politik Memperbesar Tekanan Pasar
Pelaku pasar memandang pernyataan Trump sebagai sinyal mengecilnya peluang penyelesaian diplomatik antara Washington dan Teheran sehingga risiko eskalasi konflik kembali dimasukkan ke dalam perhitungan harga minyak.
Reaksi tersebut menunjukkan bahwa perubahan ekspektasi politik saja sudah mampu menggerakkan pasar energi dunia, bahkan sebelum terjadi gangguan nyata terhadap produksi maupun distribusi minyak.
Sementara itu, Kantor Pengawasan Aset Asing Departemen Keuangan Amerika Serikat (OFAC) dilaporkan mencabut izin sementara ekspor minyak Iran yang sebelumnya diberikan selama dua bulan, sebuah langkah yang semakin memperkuat tekanan ekonomi terhadap Teheran.
Laporan The Wall Street Journal dan Axios juga menyebut adanya tuduhan dari pejabat Amerika bahwa sejumlah kapal dagang di Selat Hormuz menjadi sasaran serangan setelah berakhirnya masa gencatan senjata, meskipun berbagai klaim mengenai insiden tersebut masih terus berkembang dan belum seluruhnya memperoleh verifikasi independen.
Di sisi lain, UK Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan sebuah proyektil menghantam kapal tanker di lepas pantai Oman sehingga memicu kebakaran, memperkuat kekhawatiran pasar terhadap keamanan jalur pelayaran internasional.
Perkembangan terbaru tersebut kembali menegaskan bahwa pasar minyak dunia sangat sensitif terhadap dinamika geopolitik, sementara setiap perubahan situasi keamanan di Timur Tengah dapat memengaruhi stabilitas ekonomi global dalam hitungan jam karena kawasan ini tetap menjadi pusat produksi dan distribusi energi terbesar di dunia. (Ali)


