SulawesiPos.com – Pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an yang berbeda untuk setiap delegasi asing dalam prosesi penghormatan terakhir kepada mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei di Grand Mosalla Teheran, Jumat–Sabtu, 3–4 Juli 2026, memicu perdebatan luas karena banyak analis menilai Iran memakai simbol agama untuk mengirim pesan politik kepada sekutu, mitra, dan rivalnya setelah perang dengan Amerika Serikat dan Israel, sebagaimana dilaporkan Middle East Eye dan Muslim Network TV pada Sabtu (4/7/2026).
Perhatian terbesar tertuju pada delegasi Arab Saudi yang disambut dengan pembacaan Surah Ali Imran ayat 13, ayat yang merujuk pada Perang Badar ketika pasukan Muslim yang lebih kecil mengalahkan kekuatan yang lebih besar atas pertolongan Allah.
Ayat itu segera dibaca banyak pengamat sebagai pesan simbolik kepada Riyadh karena Badar terjadi di wilayah yang kini menjadi bagian dari Arab Saudi dan karena hubungan Iran–Saudi tetap dibayangi perang regional terbaru.
Namun hingga kini, otoritas Iran belum mengeluarkan penjelasan resmi apakah pemilihan ayat itu memang disusun sebagai pesan diplomatik khusus untuk setiap delegasi atau hanya bagian dari tata upacara keagamaan.
Ayatollah Ali Khamenei, 86 tahun, disebut tewas dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026, bersama beberapa anggota keluarganya, sebelum jenazahnya disemayamkan dalam rangkaian penghormatan kenegaraan di Teheran.
Pemakaman itu tidak hanya menjadi peristiwa duka, tetapi juga panggung politik besar bagi Iran untuk menunjukkan bahwa negara tersebut belum terisolasi setelah perang dan masih mampu menghadirkan delegasi dari berbagai negara Asia, Timur Tengah, Eurasia, dan kelompok-kelompok sekutunya.
Lebih dari 30 delegasi asing hadir menurut Middle East Eye, sementara Muslim Network TV menyebut lebih dari 70 negara atau perwakilan hadir dalam rangkaian penghormatan tersebut.
Dalam pembacaan Middle East Eye, Iran tampil bukan sekadar sebagai negara berkabung, melainkan sebagai negara yang ingin berbicara seperti pemenang.
Ayat, Sekutu, dan Peta Kedekatan Politik
Untuk Hamas, Jihad Islam Palestina, Hizbullah, Houthi Yaman, Hashd al-Shaabi Irak, dan Taliban Afghanistan, ayat-ayat yang dibacakan berpusat pada tema kesetiaan, syahid, keteguhan, dan kemenangan.
Hamas dikaitkan dengan ayat tentang orang-orang yang membuktikan janji mereka kepada Allah, sebagian telah gugur dan sebagian masih menunggu giliran tanpa mengubah komitmen mereka.
Hizbullah dikaitkan dengan ayat tentang keunggulan kaum beriman, sedangkan Houthi Yaman dikaitkan dengan Surah Al-Fath ayat 29 yang menggambarkan pengikut Nabi Muhammad sebagai tegas terhadap kaum kafir dan penuh kasih di antara sesama.
Hashd al-Shaabi Irak dikaitkan dengan ayat tentang orang-orang yang gugur di jalan Allah tidak mati, melainkan hidup dalam pengertian ruhani yang tidak selalu dapat dipahami manusia.
Jihad Islam Palestina dan Taliban disebut mendapat pembacaan bagian awal Surah Al-Fath, yang berbicara tentang kemenangan yang nyata dan penyempurnaan nikmat Allah.
Bagi Rusia, China, India, dan Mesir, nada ayat yang dibacakan tampak lebih tenang karena berisi pesan tentang kebaikan, ganjaran, keteguhan, dan ketenteraman, bukan seruan medan tempur.
Rusia dikaitkan dengan ayat tentang negeri akhirat bagi mereka yang tidak menghendaki kesombongan dan kerusakan di muka bumi.
China dikaitkan dengan ayat yang menegaskan bahwa kemenangan datang hanya dari Allah dan bahwa kabar gembira diberikan untuk menenangkan hati.
India dikaitkan dengan pesan agar tidak lemah dan tidak bersedih, tetapi dalam tafsir Middle East Eye pembacaan itu tidak sekeras ayat yang diarahkan kepada kelompok perlawanan.
Qatar, Turki, Pakistan, dan Mesir ditempatkan dalam kategori mitra regional yang dihargai, tetapi tidak sepenuhnya dimasukkan ke dalam narasi “poros perlawanan”.
Qatar, yang berperan sebagai mediator dalam diplomasi Iran–Amerika, dikaitkan dengan ayat Surah Al-Fath tentang penyempurnaan nikmat dan petunjuk ke jalan lurus.
Turki dikaitkan dengan ayat yang meninggikan orang-orang yang berjuang dengan harta dan jiwa dibanding mereka yang hanya tinggal di belakang.
Pakistan dikaitkan dengan doa agar Allah memberi jalan masuk yang benar, jalan keluar yang benar, dan kekuatan penolong dari sisi-Nya.
Delegasi resmi Lebanon disebut mendapatkan pembacaan bagian Surah An-Nisa ayat 66, yang oleh sebagian pengamat ditafsirkan sebagai teguran halus terhadap negara Lebanon karena dinilai tidak cukup tegas menghadapi Israel, terutama jika dibandingkan dengan pujian yang diberikan kepada Hizbullah.
Meski demikian, seluruh tafsir tersebut tetap berada dalam wilayah analisis media dan pembacaan simbolik karena tidak ada dokumen resmi Iran yang menjelaskan daftar ayat, alasan pemilihannya, atau pesan khusus kepada masing-masing delegasi.
Antara Simbol Keagamaan dan Bahasa Diplomasi
Pemakaian ayat Al-Qur’an sebagai bahasa politik bukan hal baru dalam tradisi Republik Islam Iran karena sejak Revolusi 1979 ayat-ayat sering hadir dalam slogan, pidato resmi, propaganda perang, dan komunikasi kenegaraan.
Salah satu contoh paling dikenal adalah penggunaan ayat “نصر من الله وفتح قريب” ( Pertolongan datang dari Allah, dan kemenangan itu sudah dekat) dari Surah Ash-Shaff ayat 13 yang kerap dipakai Iran dalam konteks militer dan kemenangan.
Ayat Ali Imran 3:13 juga pernah digunakan Ayatollah Ali Ali Khamenei dalam pesan kepada mendiang pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah setelah perang Hizbullah–Israel pada 2006, sehingga pilihan ayat untuk delegasi Saudi dianggap memiliki jejak simbolik yang kuat.
Iran International melaporkan bahwa ada berbagai respon soal ayat-ayat ini berkembang luas karena setiap delegasi tampak disambut dengan bacaan berbeda saat berdiri di depan peti jenazah Khamenei.
Muslim Network TV menekankan bahwa video dari prosesi itu memang menunjukkan pola pembacaan ayat berbeda, tetapi otoritas Iran tidak menjelaskan apakah pemilihan itu bersifat politis.
Respon yang lain melihat adanya pengaruhi suasana geopolitik baru setelah perang, termasuk ketegangan di Selat Hormuz, penghentian sementara negosiasi Iran–AS, dan upaya Iran menampilkan diri tetap kuat di hadapan Barat.
Bagi sebagian analis, “diplomasi ayat” ini memperlihatkan kemampuan Iran menggunakan bahasa agama untuk menyampaikan pesan yang lebih halus daripada pernyataan diplomatik biasa.
Bagi pengkritik, membaca setiap ayat sebagai pesan politik dapat melahirkan tafsir berlebihan karena teks suci memiliki banyak lapisan makna dan tidak selalu bisa direduksi menjadi kode politik.
Kesimpulannya, pemakaman Khamenei menjadi panggung simbolik yang mempertemukan duka, legitimasi negara, pesan kepada sekutu, peringatan kepada rival, dan wacana tentang batas antara pembacaan agama dan diplomasi politik. (Ali)


