Stok Beras BULOG Tembus 5,36 Juta Ton, Tertinggi Sepanjang Sejarah

SulawesiPos.com – Perum BULOG mencatat capaian bersejarah dalam pengelolaan cadangan pangan nasional.

Hingga Mei 2026, stok beras yang dikelola BULOG mencapai sekitar 5,36 juta ton, menjadi jumlah tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.

Capaian ini dinilai sebagai indikator kuat semakin kokohnya ketahanan pangan nasional dan keberhasilan pemerintah dalam memperkuat swasembada pangan berkelanjutan.

Direktur Utama Perum BULOG Letnan Jenderal TNI (Purn.) Dr. Ahmad Rizal Ramdhani, S.Sos., S.H., M.Han mengatakan tingginya stok beras tersebut tidak terlepas dari meningkatnya produksi padi nasional dan optimalisasi penyerapan hasil panen petani oleh BULOG.

“Saat ini, stok beras yang dikelola BULOG mencapai sekitar 5,36 juta ton stok tertinggi dalam sejarah, dengan total kapasitas simpan yang disediakan sekitar 6,2 juta ton. Kapasitas tersebut akan terus diperkuat seiring meningkatnya produksi padi nasional,” ujar Ahmad Rizal Ramdhani dalam keterangannya, Rabu (27/5/2026).

Menurutnya, keberhasilan menjaga stok beras nasional bukan hanya soal jumlah produksi, tetapi juga kemampuan negara dalam menyerap gabah dan beras petani, memperkuat infrastruktur pascapanen, hingga memastikan distribusi pangan berjalan stabil dan merata.

BACA JUGA:  Guru Besar UGM: Kunjungan Presiden ke Gudang Bulog Danurejo Perkuat Indikasi Ketahanan Stok Beras Nasional

Dari sisi pengadaan, BULOG telah menyerap sekitar 2,8 juta ton beras dari target nasional sebesar 4 juta ton.

Penyerapan ini dinilai penting untuk menjaga keseimbangan harga di tingkat petani sekaligus memperkuat Cadangan Beras Pemerintah (CBP).

BULOG juga terus memperkuat infrastruktur pangan nasional. Tahun ini, perusahaan akan menambah fasilitas pascapanen di 100 titik di berbagai daerah sebagai bagian dari strategi jangka panjang menjaga keberlanjutan swasembada pangan.

Selain memperkuat stok dan infrastruktur, BULOG juga mendorong peningkatan literasi pangan di kalangan generasi muda.

Salah satunya melalui kegiatan Focus Group Discussion bertajuk “Peran Kampus dalam Mewujudkan Swasembada Pangan Berkelanjutan untuk Cadangan Pangan Pemerintah” yang digelar di Kompleks Pergudangan Utama BULOG Kota Cimahi, Jawa Barat.

Kegiatan tersebut melibatkan perwakilan mahasiswa se-Bandung untuk melihat langsung pengelolaan Cadangan Pangan Pemerintah, mulai dari penyimpanan stok, pengendalian kualitas beras, hingga sistem logistik pangan nasional.

Ahmad Rizal menegaskan kampus memiliki peran strategis dalam mendukung agenda besar ketahanan pangan nasional melalui riset, inovasi, dan edukasi publik.

BACA JUGA:  Bulog Jamin Pasokan Minyak Goreng Stabil, Stok di Makassar Capai 50 Ribu Liter

“Upaya mewujudkan swasembada pangan berkelanjutan membutuhkan sinergi lintas sektor, termasuk kontribusi aktif dari dunia kampus sebagai pusat pengetahuan, riset, inovasi, dan lahirnya gagasan baru,” tambahnya.

Berdasarkan data FAO, Indonesia juga tercatat berada di peringkat kedua dunia dalam kenaikan produksi padi, di antara Brasil dan Myanmar.

Capaian tersebut menjadi sinyal positif atas semakin kuatnya sektor pangan nasional dan memperbesar peluang Indonesia menjaga swasembada pangan secara berkelanjutan.

SulawesiPos.com – Perum BULOG mencatat capaian bersejarah dalam pengelolaan cadangan pangan nasional.

Hingga Mei 2026, stok beras yang dikelola BULOG mencapai sekitar 5,36 juta ton, menjadi jumlah tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.

Capaian ini dinilai sebagai indikator kuat semakin kokohnya ketahanan pangan nasional dan keberhasilan pemerintah dalam memperkuat swasembada pangan berkelanjutan.

Direktur Utama Perum BULOG Letnan Jenderal TNI (Purn.) Dr. Ahmad Rizal Ramdhani, S.Sos., S.H., M.Han mengatakan tingginya stok beras tersebut tidak terlepas dari meningkatnya produksi padi nasional dan optimalisasi penyerapan hasil panen petani oleh BULOG.

“Saat ini, stok beras yang dikelola BULOG mencapai sekitar 5,36 juta ton stok tertinggi dalam sejarah, dengan total kapasitas simpan yang disediakan sekitar 6,2 juta ton. Kapasitas tersebut akan terus diperkuat seiring meningkatnya produksi padi nasional,” ujar Ahmad Rizal Ramdhani dalam keterangannya, Rabu (27/5/2026).

Menurutnya, keberhasilan menjaga stok beras nasional bukan hanya soal jumlah produksi, tetapi juga kemampuan negara dalam menyerap gabah dan beras petani, memperkuat infrastruktur pascapanen, hingga memastikan distribusi pangan berjalan stabil dan merata.

BACA JUGA:  Bulog Guyur 4.100 Ton Beras ke Papua, 838 Ribu Keluarga Jadi Sasaran Bantuan Pangan

Dari sisi pengadaan, BULOG telah menyerap sekitar 2,8 juta ton beras dari target nasional sebesar 4 juta ton.

Penyerapan ini dinilai penting untuk menjaga keseimbangan harga di tingkat petani sekaligus memperkuat Cadangan Beras Pemerintah (CBP).

BULOG juga terus memperkuat infrastruktur pangan nasional. Tahun ini, perusahaan akan menambah fasilitas pascapanen di 100 titik di berbagai daerah sebagai bagian dari strategi jangka panjang menjaga keberlanjutan swasembada pangan.

Selain memperkuat stok dan infrastruktur, BULOG juga mendorong peningkatan literasi pangan di kalangan generasi muda.

Salah satunya melalui kegiatan Focus Group Discussion bertajuk “Peran Kampus dalam Mewujudkan Swasembada Pangan Berkelanjutan untuk Cadangan Pangan Pemerintah” yang digelar di Kompleks Pergudangan Utama BULOG Kota Cimahi, Jawa Barat.

Kegiatan tersebut melibatkan perwakilan mahasiswa se-Bandung untuk melihat langsung pengelolaan Cadangan Pangan Pemerintah, mulai dari penyimpanan stok, pengendalian kualitas beras, hingga sistem logistik pangan nasional.

Ahmad Rizal menegaskan kampus memiliki peran strategis dalam mendukung agenda besar ketahanan pangan nasional melalui riset, inovasi, dan edukasi publik.

BACA JUGA:  Guru Besar UGM: Kunjungan Presiden ke Gudang Bulog Danurejo Perkuat Indikasi Ketahanan Stok Beras Nasional

“Upaya mewujudkan swasembada pangan berkelanjutan membutuhkan sinergi lintas sektor, termasuk kontribusi aktif dari dunia kampus sebagai pusat pengetahuan, riset, inovasi, dan lahirnya gagasan baru,” tambahnya.

Berdasarkan data FAO, Indonesia juga tercatat berada di peringkat kedua dunia dalam kenaikan produksi padi, di antara Brasil dan Myanmar.

Capaian tersebut menjadi sinyal positif atas semakin kuatnya sektor pangan nasional dan memperbesar peluang Indonesia menjaga swasembada pangan secara berkelanjutan.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru