Hujan Mulai Guyur Malino hingga Makassar, Udara Berkabut Lagi akibat PM2.5 Naik

SulawesiPos.com – Hujan mulai turun di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel), termasuk Malino di Kabupaten Gowa, sebagian Kabupaten Maros, dan Kota Makassar. Namun, hujan yang menjadi salah satu tanda peralihan musim tersebut belum merata, sementara konsentrasi polusi udara di Makassar justru meningkat hingga membuat langit kembali tampak berkabut.

Prakirawan BMKG Wilayah IV Makassar, Rekun Matandung, mengatakan hujan yang terjadi di sejumlah wilayah tersebut berkaitan dengan karakteristik musim peralihan.

Pada periode ini, pertumbuhan awan hujan mulai meningkat di beberapa lokasi, terutama di wilayah dataran tinggi.

“Iya betul, di wilayah Malino, kemudian sebagian wilayah Maros dan sebagian wilayah Makassar kemarin sempat terjadi hujan,” kata Rekun Matandung, Minggu (25/10/2026).

Menurut Rekun, wilayah dataran tinggi cenderung lebih awal mengalami hujan karena pertumbuhan awan konvektif lebih signifikan di kawasan tersebut.

Sementara itu, wilayah lain masih berpotensi mengalami cuaca berawan tanpa hujan.

Rekun juga memprakirakan hujan berpotensi terjadi di Kota Makassar pada 24 hingga 26 Oktober 2026.

BACA JUGA:  Waspada Banjir! Besok, Hujan Ringan hingga Sedang Diprediksi Guyur Makassar

Meski demikian, potensi tersebut belum mencakup seluruh wilayah kota secara merata.

Ia menjelaskan, kondisi labilitas atmosfer saat ini belum mendukung terjadinya hujan secara menyeluruh.

Akibatnya, hujan dapat turun di sejumlah titik, sedangkan wilayah lainnya masih mengalami cuaca berawan dan kondisi udara yang relatif kering.

Di tengah hujan yang mulai turun secara lokal, kualitas udara di Makassar kembali menjadi perhatian.

Konsentrasi partikulat halus atau PM2.5 dilaporkan berada pada kisaran 74 mikrogram per meter kubik, meningkat dibandingkan beberapa hari sebelumnya.

Peningkatan konsentrasi partikulat tersebut turut membuat kondisi udara di Makassar kembali tampak berkabut.

“Memang meningkat dibandingkan dengan beberapa hari kemarin, makanya seperti berkabut lagi karena konsentrasi kualitas udaranya mengalami peningkatan,” jelas Rekun.

PM2.5 merupakan partikel berukuran sangat kecil yang dapat melayang di udara dan masuk ke saluran pernapasan ketika terhirup.

Paparan partikel ini berisiko mengganggu kesehatan, terutama bagi kelompok rentan.

Rekun menambahkan, kondisi langit yang tampak mendung tidak hanya berkaitan dengan cuaca berawan, tetapi juga keberadaan asap yang memengaruhi penampakan udara di wilayah Makassar.

BACA JUGA:  Kasus ISPA di Sulsel Tembus 70 Ribu Akibat Kualitas Udara Sangat Tidak Sehat

Kombinasi kedua kondisi tersebut membuat suasana di sejumlah wilayah terlihat berkabut.

Masyarakat diimbau tetap memperhatikan perkembangan cuaca dan kualitas udara, terutama ketika konsentrasi PM2.5 meningkat.

Warga yang sensitif terhadap polusi udara disarankan membatasi aktivitas berat di luar ruangan apabila kualitas udara memburuk serta menggunakan masker yang sesuai untuk mengurangi paparan partikel halus.

Rekun mengingatkan bahwa potensi hujan pada periode peralihan musim masih bersifat lokal dan belum merata.

Masyarakat diharapkan terus memantau informasi resmi BMKG untuk mengetahui perkembangan cuaca, sembari meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi kualitas udara di lingkungan masing-masing.

SulawesiPos.com – Hujan mulai turun di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel), termasuk Malino di Kabupaten Gowa, sebagian Kabupaten Maros, dan Kota Makassar. Namun, hujan yang menjadi salah satu tanda peralihan musim tersebut belum merata, sementara konsentrasi polusi udara di Makassar justru meningkat hingga membuat langit kembali tampak berkabut.

Prakirawan BMKG Wilayah IV Makassar, Rekun Matandung, mengatakan hujan yang terjadi di sejumlah wilayah tersebut berkaitan dengan karakteristik musim peralihan.

Pada periode ini, pertumbuhan awan hujan mulai meningkat di beberapa lokasi, terutama di wilayah dataran tinggi.

“Iya betul, di wilayah Malino, kemudian sebagian wilayah Maros dan sebagian wilayah Makassar kemarin sempat terjadi hujan,” kata Rekun Matandung, Minggu (25/10/2026).

Menurut Rekun, wilayah dataran tinggi cenderung lebih awal mengalami hujan karena pertumbuhan awan konvektif lebih signifikan di kawasan tersebut.

Sementara itu, wilayah lain masih berpotensi mengalami cuaca berawan tanpa hujan.

Rekun juga memprakirakan hujan berpotensi terjadi di Kota Makassar pada 24 hingga 26 Oktober 2026.

BACA JUGA:  Cuaca Makassar Hari Ini Cerah Berawan, Siang Berpotensi Hujan Ringan

Meski demikian, potensi tersebut belum mencakup seluruh wilayah kota secara merata.

Ia menjelaskan, kondisi labilitas atmosfer saat ini belum mendukung terjadinya hujan secara menyeluruh.

Akibatnya, hujan dapat turun di sejumlah titik, sedangkan wilayah lainnya masih mengalami cuaca berawan dan kondisi udara yang relatif kering.

Di tengah hujan yang mulai turun secara lokal, kualitas udara di Makassar kembali menjadi perhatian.

Konsentrasi partikulat halus atau PM2.5 dilaporkan berada pada kisaran 74 mikrogram per meter kubik, meningkat dibandingkan beberapa hari sebelumnya.

Peningkatan konsentrasi partikulat tersebut turut membuat kondisi udara di Makassar kembali tampak berkabut.

“Memang meningkat dibandingkan dengan beberapa hari kemarin, makanya seperti berkabut lagi karena konsentrasi kualitas udaranya mengalami peningkatan,” jelas Rekun.

PM2.5 merupakan partikel berukuran sangat kecil yang dapat melayang di udara dan masuk ke saluran pernapasan ketika terhirup.

Paparan partikel ini berisiko mengganggu kesehatan, terutama bagi kelompok rentan.

Rekun menambahkan, kondisi langit yang tampak mendung tidak hanya berkaitan dengan cuaca berawan, tetapi juga keberadaan asap yang memengaruhi penampakan udara di wilayah Makassar.

BACA JUGA:  Prakiraan Cuaca Makassar Hari Ini, Minggu 6 September 2026: Cerah Berawan, Suhu Capai 37 Derajat

Kombinasi kedua kondisi tersebut membuat suasana di sejumlah wilayah terlihat berkabut.

Masyarakat diimbau tetap memperhatikan perkembangan cuaca dan kualitas udara, terutama ketika konsentrasi PM2.5 meningkat.

Warga yang sensitif terhadap polusi udara disarankan membatasi aktivitas berat di luar ruangan apabila kualitas udara memburuk serta menggunakan masker yang sesuai untuk mengurangi paparan partikel halus.

Rekun mengingatkan bahwa potensi hujan pada periode peralihan musim masih bersifat lokal dan belum merata.

Masyarakat diharapkan terus memantau informasi resmi BMKG untuk mengetahui perkembangan cuaca, sembari meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi kualitas udara di lingkungan masing-masing.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru