SulawesiPos.com – Dekan Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin Prof. Sukri Palutturi mengajak peserta yudisium menjadikan filosofi air sungai sebagai bekal memasuki babak pengabdian dalam sambutan saat yudisium Periode Wisuda Oktober 2026 Sekolah Pascasarjana Unhas, Sabtu, 24 Oktober 2026.
Ia menekankan pentingnya menjaga tujuan, beradaptasi menghadapi rintangan, dan terus belajar agar ilmu yang dimiliki memberi manfaat bagi masyarakat.
Dalam sambutannya, Sukri menggambarkan air sungai yang tetap mengalir menuju muara meski harus melewati bebatuan, lereng terjal, atau batang pohon yang tumbang.
Air tidak berhenti ketika jalurnya terhalang, melainkan mencari celah dan menyesuaikan arah tanpa kehilangan tujuan.
Filosofi itu ia kaitkan dengan perjalanan akademik para peserta yudisium.
Proses menyelesaikan studi tidak selalu berlangsung sesuai rencana karena mahasiswa dapat menghadapi keterbatasan data, perbaikan naskah, penyesuaian metode penelitian, serta tanggung jawab pekerjaan dan keluarga.
Menurut Sukri, keberhasilan menyelesaikan pendidikan merupakan hasil dari kesabaran, ketekunan, dukungan orang-orang terdekat, dan kemauan untuk terus belajar.
Karena itu, yudisium bukan hanya penanda berakhirnya satu jenjang pendidikan, tetapi juga perayaan atas keteguhan dan ikhtiar panjang para lulusan.
“Ketika suatu keadaan terasa sulit, janganlah terburu-buru menyimpulkan bahwa tidak ada jalan. Cobalah bertanya: pendekatan apa yang belum kita tempuh, siapa yang dapat kita ajak bekerja sama, dan pelajaran apa yang dapat kita petik untuk melangkah lebih baik?” kata Sukri.
Tiga Pesan untuk Lulusan
Sukri menitipkan tiga pesan kepada peserta yudisium.
Pertama, lulusan diminta memelihara arah dan tujuan hidup yang bermakna dengan menjadikan ilmu serta gelar akademik sebagai sarana mengembangkan diri, memuliakan sesama, dan berkontribusi bagi masyarakat.
Kedua, ia mendorong lulusan menumbuhkan kemampuan beradaptasi tanpa meninggalkan prinsip.
Perubahan strategi, ruang dialog, dan pendekatan baru diperlukan ketika menghadapi persoalan yang tidak dapat diselesaikan dengan cara yang sama.
“Menyesuaikan langkah bukanlah tanda menyerah; sering kali justru merupakan wujud kebijaksanaan dan kematangan dalam mengambil keputusan,” ujarnya.
Pesan ketiga ialah menjaga semangat belajar dan berkarya setelah yudisium.
Sukri menilai gelar akademik merupakan capaian penting, tetapi proses menjadi insan pembelajar tidak berhenti ketika pendidikan formal selesai.
Ia berharap lulusan Pascasarjana Unhas mampu menghadapi persoalan masyarakat, mulai dari ketimpangan sosial, kemiskinan, kesehatan, pendidikan, lingkungan, hingga tata kelola pembangunan.
Lulusan diharapkan tidak hanya mampu menjelaskan masalah, tetapi juga bersedia mendengarkan, bekerja sama, dan menghadirkan solusi dengan kepekaan serta integritas.
“Teruslah mengalir seperti air sungai: tenang dalam menghadapi kesulitan, lentur dalam menemukan jalan, teguh menjaga arah, dan senantiasa membawa manfaat di setiap tempat yang dilalui,” pesan Sukri.


