SulawesiPos.com – Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan meminta seluruh SPBU menerapkan sistem ganjil-genap untuk pengisian BBM bersubsidi mulai Minggu (13/9/2026) hingga 20 September.
Kendaraan berpelat akhir ganjil mendapat giliran pada tanggal ganjil, tetapi penerapan pada hari pertama belum seragam dan stok Pertalite di SPBU Antang, Makassar, kembali habis pada pagi hari.
Kebijakan itu tertuang dalam Surat Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Sulsel Nomor 670/2478/DESDM tertanggal 12 September 2026 tentang Penanganan Antrean Panjang BBM di SPBU Wilayah Sulawesi Selatan.
Surat yang ditandatangani Plt Kepala Dinas ESDM Sulsel Andi Kasman tersebut ditujukan kepada Executive General Manager Regional Sulawesi PT Pertamina Patra Niaga.
“Untuk mengurai antrean diberlakukan sistem pengisian berdasarkan pelat nomor kendaraan ganjil genap di seluruh SPBU di Sulawesi Selatan,” kata Kasman dalam surat tersebut.
Pada tanggal ganjil, kendaraan dengan angka terakhir pelat 1, 3, 5, 7, dan 9 mendapat giliran mengisi BBM subsidi.
Pada tanggal genap, pengisian diperuntukkan bagi kendaraan dengan angka terakhir 0, 2, 4, 6, dan 8.
Karena 13 September merupakan tanggal ganjil, kendaraan dengan angka terakhir pelat ganjil menjadi kelompok yang dijadwalkan memperoleh layanan pada hari pertama.
Skema tersebut berlaku untuk BBM bersubsidi dan tidak disebut diterapkan pada produk nonsubsidi.
Pemprov juga meminta pengisian BBM untuk truk dialihkan ke malam hari agar kendaraan besar tidak menumpuk pada jam operasional siang.
Kendaraan pribadi hanya diperbolehkan mengisi BBM subsidi ketika indikator bahan bakar menunjukkan satu bar atau kurang.
Pembatasan itu ditujukan untuk mencegah pengisian berulang.
“Kendaraan pribadi hanya diperbolehkan melakukan pengisian BBM subsidi apabila indikator bahan pada odometer menunjukkan satu bar ke bawah untuk mencegah pengisian berulang,” tulis Kasman.
Hari Pertama Belum Seragam
Pantauan di SPBU 74.902.28 Jalan Antang Raya sekitar pukul 09.02 Wita menunjukkan sistem ganjil-genap belum diterapkan.
Sepeda motor dan mobil masih mengantre tanpa pemisahan berdasarkan angka terakhir pelat kendaraan.
Stok Pertalite kemudian habis ketika sejumlah kendaraan masih berada dalam antrean.
Petugas menutup pagar dan memasang pemberitahuan bahwa Pertalite tidak tersedia.
“Iye habis, Pak. Tidak tahu jam berapa lagi datang,” kata Fajar, petugas SPBU, kepada pengendara.
Kondisi serupa terjadi di SPBU Antang pada Sabtu.
Pasokan baru tiba pada malam hari dan kembali habis pada Minggu pagi.
Temuan tersebut menunjukkan pelaksanaan aturan membutuhkan koordinasi operasional antara Pemprov, Pertamina, dan pengelola SPBU.
Belum ada keterangan mengenai sanksi bagi pengendara yang tidak sesuai giliran atau tata cara pengecualian dalam kondisi darurat.
SPBU Tanpa Operator Terancam Sanksi
Surat Dinas ESDM juga meminta Pertamina menertibkan personel dan mengaktifkan seluruh nozzle di SPBU.
Pengelola yang tidak menyediakan operator pada setiap nozzle diminta diberi sanksi.
Jika tidak melakukan perbaikan, operasional SPBU dapat diambil alih Pertamina dan izin usahanya dievaluasi.
Ketentuan tersebut muncul setelah pemerintah menemukan sejumlah nozzle tidak digunakan meski antrean kendaraan memanjang.
Pemprov meminta Pertamina menambah jam operasional, mengawasi SPBU yang ditetapkan beroperasi 24 jam, menambah armada mobil tangki, memastikan stok tersedia, dan menyiapkan digitalisasi antrean.
“Ketentuan ini berlaku mulai tanggal 13 September 2026 sampai 20 September 2026 dan akan dilakukan evaluasi lanjutan bersama seluruh pemangku kepentingan,” kata Kasman.
Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman juga meminta tambahan kuota BBM dan optimalisasi seluruh nozzle.
“Kita kembali melakukan pemantauan kondisi setelah evaluasi dua hari. Kita melihat pertama, kita temukan di lapangan adanya nozzle yang perlu ditertibkan. Kita mendorong untuk mengaktifkan semua nozzle agar bisa digunakan,” kata Andi Sudirman.
Pertamina Tambah Titik Pengisian Pertalite
Pertamina Patra Niaga telah mengubah konfigurasi fasilitas di 12 SPBU di Makassar, Gowa, dan Maros.
Sebagian nozzle yang sebelumnya melayani Pertamax dialihkan untuk menambah titik pengisian Pertalite.
VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga Kitty Andhora menyampaikan permintaan maaf karena antrean mengganggu aktivitas masyarakat.
“Kami memahami antrean pengisian BBM menyita waktu dan mengganggu aktivitas masyarakat. Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan,” kata Kitty.
Pertamina juga mengoperasikan 25 SPBU selama 24 jam di Makassar, menambah pasokan pada titik yang membutuhkan, mengoptimalkan mobil tangki, serta mengarahkan kendaraan ke SPBU dengan antrean lebih pendek.
“Dengan lebih banyak titik pengisian Pertalite, kami berharap pelayanan dapat berjalan lebih cepat dan waktu tunggu masyarakat berkurang. Pelaksanaan penyesuaian ini terus kami evaluasi berdasarkan kebutuhan dan kondisi pelayanan di masing-masing SPBU,” ujarnya.

