SulawesiPos.com – Aryna Sabalenka tinggal satu kemenangan lagi untuk mencetak three-peat di US Open setelah mengalahkan Jessica Pegula 7-5, 6-2 pada semifinal di Arthur Ashe Stadium, New York, Jumat (11/9/2026) Wita.
Petenis Belarus itu lolos ke final untuk keempat kalinya secara beruntun dan akan menghadapi Elena Rybakina.
Sabalenka membutuhkan satu jam 20 menit untuk menyingkirkan Pegula.
Kemenangan tersebut memperpanjang catatannya menjadi 19 laga tanpa kekalahan di Flushing Meadows sejak takluk dari Coco Gauff pada final 2023.
Keberhasilan itu juga membuat Sabalenka menjadi petenis pertama pada Era Terbuka yang mencapai delapan final Grand Slam lapangan keras secara beruntun.
Ia melewati catatan tujuh final berturut-turut milik Steffi Graf, Martina Hingis, dan Novak Djokovic.
Final melawan Rybakina akan menjadi final Grand Slam kesembilan bagi Sabalenka.
Jika kembali menang, petenis berusia 28 tahun itu akan meraih gelar mayor kelima sekaligus menjadi juara tunggal putri US Open tiga tahun berturut-turut pertama sejak Serena Williams melakukannya pada 2012–2014.
Sabalenka menyebut kemenangan atas Pegula lahir dari dorongan untuk menutup rangkaian Grand Slam musim ini dengan hasil maksimal setelah performanya menurun pada pertengahan tahun.
“Saya sangat menginginkan kemenangan ini. Saya kalah dalam pertandingan sulit di lapangan rumput melawan Jess dan tidak benar-benar tampil baik pada pertengahan musim,” kata Sabalenka dalam konferensi pers, dalam terjemahan bahasa Indonesia.
“Rasanya, jika berbicara soal Grand Slam, ini seperti dorongan terakhir musim bagi saya. Saya sangat ingin mencapai final dan tentu ingin melangkah sampai akhir,” lanjutnya.
Set Pertama Ketat, Sabalenka Dominan setelah Break
Sabalenka dan Pegula sama-sama mempertahankan servis dalam 10 gim pertama.
Set pembuka berubah saat Sabalenka memimpin 6-5, lalu mematahkan servis Pegula melalui tekanan agresif dari baseline untuk menutup set 7-5.
Pegula semakin kesulitan menghadapi pengembalian Sabalenka pada set kedua.
Sabalenka mengonversi break point keempatnya dengan forehand return winner untuk unggul 3-1 sebelum kembali mematahkan servis lawan dan menyelesaikan pertandingan 6-2.
Sabalenka menghasilkan 29 winner, sedangkan Pegula mencatat 12.
Ia hanya menghadapi satu break point sepanjang pertandingan dan menekan servis kedua Pegula, yang hanya menghasilkan lima poin dari 19 kesempatan.
“Tidak ada keluhan. Saya sangat senang bisa menampilkan permainan seperti itu,” ujar Sabalenka.
Ia mengatakan setiap keputusan yang diambilnya di lapangan berjalan sesuai rencana.
Sabalenka menilai penampilannya kali ini lebih baik dibandingkan sejumlah pertemuan terakhir dengan Pegula.
“Mentalitas saya hanya, ‘Saya siap. Saya siap melakukan apa pun yang diperlukan untuk meraih kemenangan,’” katanya.
Pegula mengakui tidak banyak ruang yang diberikan Sabalenka untuk mengubah pertandingan.
Kekalahan itu membuat catatan pertemuannya dengan Sabalenka menjadi 4-10 pada level WTA Tour.
“Itu mungkin pertandingan terbaik yang dia mainkan tahun ini. Saya pikir levelnya sangat tinggi,” kata Pegula dalam konferensi pers, dalam terjemahan bahasa Indonesia.
“Dia bermain luar biasa, pada level yang sangat tinggi. Sejujurnya, saya tidak tahu apakah ada banyak hal yang bisa saya lakukan hari ini,” lanjutnya.
Rybakina Rebut Tiket Final dan Peringkat Satu Dunia
Rybakina memastikan tempat di final setelah bangkit untuk mengalahkan Coco Gauff 3-6, 6-4, 6-4.
Petenis Kazakhstan itu kehilangan set pertama, lalu memanfaatkan penurunan forehand Gauff untuk merebut dua set berikutnya.
“Saya merasa set pertama tetap merupakan awal yang baik, hanya ditentukan oleh satu break. Coco adalah pemain hebat. Saya menarik napas dalam-dalam dan berusaha berbicara positif kepada diri sendiri,” kata Rybakina setelah pertandingan, dalam terjemahan bahasa Indonesia.
Rybakina sempat memimpin 5-3 pada set penentuan sebelum Gauff melakukan break dan memperkecil kedudukan.
Ia kemudian menutup pertandingan pada gim berikutnya setelah pukulan overhead terakhir Gauff melebar.
“Set ketiga berlangsung sangat ketat dan saya merasa sedikit beruntung ketika dia melakukan servis,” ujar Rybakina.
Tempat di semifinal sebelumnya telah memastikan Rybakina menjadi petenis ke-30 yang mencapai peringkat satu dunia ketika daftar WTA diperbarui pada Senin.
Ia mengakhiri 99 pekan Sabalenka di posisi teratas, sehingga final Sabtu (12/9/2026) waktu New York tidak lagi menentukan siapa yang menjadi nomor satu.
Sabalenka dan Rybakina telah bertemu 17 kali dengan Sabalenka unggul 10-7.
Mereka juga berbagi kemenangan dalam dua final Grand Slam sebelumnya: Sabalenka menang pada Australian Open 2023, sedangkan Rybakina membalas pada final Australian Open 2026.
Keduanya tiga kali bertemu sepanjang musim ini sebelum final US Open.
Rybakina menang di Melbourne, sementara Sabalenka mengalahkannya pada final Indian Wells dan semifinal Miami Open.

