Keterbatasan pemahaman terhadap bahasa Bugis kuno dan aksara Lontara juga menjadi tantangan pelestarian.
Versi asli Galigo kini hanya dapat dibaca oleh kalangan yang sangat terbatas, sementara penerjemahan ke bahasa Indonesia baru mencakup sebagian teks.
Karya Tradisional Dikenal Dunia
Epos tersebut kemudian menarik perhatian dunia melalui berbagai penelitian dan adaptasi seni.
Salah satu yang paling dikenal adalah pertunjukan teater I La Galigo karya sutradara asal Amerika Serikat, Robert Wilson, yang mulai dipentaskan secara internasional pada 2004.
Pengakuan dunia terhadap nilai penting naskah ini semakin kuat setelah UNESCO memasukkan manuskrip I La Galigo ke dalam daftar Memory of the World pada 2011.
Warisan tersebut kini juga hadir di tengah Kota Makassar melalui penamaan Jalan I La Galigo.

Meski hanya membentang kurang dari 200 meter, jalan yang berada di kawasan pusat kota ini menjadi penghubung antara Jalan Arief Rate dan Jalan Lasinrang.
Aktivitas di sepanjang jalan diisi berbagai rumah makan, klinik gigi, hingga tempat kursus bahasa Inggris.
Selain itu, namanya juga di gunakan menjadi kawasan bersejarah Museum La Galigo di Benteng Rotterdam.

