Jalan Lagaligo, Jejak Tokoh dalam Karya Tradisional Bugis yang Mendunia

SulawesiPos.com – Di tengah aktivitas Kota Makassar, terdapat Jalan I La Galigo yang mengabadikan nama salah satu tokoh utama dalam epos besar masyarakat Bugis.

Jalan sepanjang kurang dari 200 meter ini berada di pusat kota dan menghubungkan Jalan Arief Rate dengan Jalan Lasinrang, di kawasan yang juga dikelilingi berbagai fasilitas kesehatan, kuliner, hingga pendidikan.

Nama I La Galigo sendiri merujuk pada sosok yang dikenal dalam tradisi Bugis sebagai putra Sawerigading dan We Cudai.

Ia digambarkan sebagai pelaut, perantau, pahlawan sekaligus perwira yang memiliki kemampuan luar biasa.

Dalam kisahnya, I La Galigo bergelar Datunna Kelling dan menjalani berbagai petualangan ke sejumlah negeri.

Menariknya, nama tokoh tersebut kemudian menjadi nama yang melekat pada keseluruhan epos yang menceritakan perjalanan hidupnya dan tokoh-tokoh lain dalam dunia Bugis.

Karya itu dikenal dengan sejumlah sebutan, seperti Sureq Galigo, I La Galigo, La Galigo, atau Galigo.

Salah satu isi I Lagaligo

Epos tersebut merupakan salah satu karya sastra terbesar yang lahir dari peradaban Bugis di Sulawesi Selatan.

Isinya berkisah tentang I La Galigo dan keluarganya, serta mencakup mitologi penciptaan dunia, asal-usul manusia, hubungan antarkerajaan, perjalanan para tokoh, hingga gambaran mengenai nilai dan kehidupan masyarakat Bugis.

BACA JUGA:  Potret Justin Hubner Pakai Busana Bugis-Makassar Banjir Pujian Warganet

I La Galigo, Putra Sawerigading

Dalam rangkaian cerita Galigo, I La Galigo merupakan anak dari Sawerigading dan We Cudai. Sosoknya memiliki karakter yang mirip dengan sang ayah, seorang pelaut ulung, pengembara dan kesatria yang menjelajahi berbagai wilayah.

I La Galigo juga disebut memiliki empat istri yang berasal dari negeri berbeda. Meski memiliki kedudukan penting dalam cerita, ia tidak digambarkan sebagai raja.

Sebelum kisah I La Galigo berkembang, epos tersebut lebih dahulu mengisahkan penciptaan dunia.

Ketika bumi masih kosong, La Patiganna atau Raja di Langit mengadakan musyawarah dengan sejumlah tokoh dari alam gaib.

Dari keputusan itu, La Toge’ Langi’ diturunkan ke bumi dengan gelar Batara Guru untuk menjadi penguasa Alekawa atau dunia.

Dari dunia inilah kemudian berkembang silsilah dan kisah panjang yang mempertemukan berbagai tokoh, kerajaan dan alam dalam epos Galigo.

Kisah Sawerigading dan I La Galigo kemudian menjadi bagian penting dari rangkaian tersebut.

Ceritanya dipenuhi perjalanan, peperangan, hubungan antarkerajaan serta berbagai peristiwa yang bersifat magis dan supranatural.

Ada kisah tentang pelayaran luar biasa, kapal yang mampu melintasi langit dan laut, hingga pertempuran antara tokoh-tokoh dengan kekuatan yang tidak biasa. Karena kuatnya unsur mitologi, La Galigo tidak dapat ditempatkan sebagai catatan sejarah faktual.

BACA JUGA:  KKSS dan IKA Unhas Gelar Nonton Bareng Film Uang Passolo di Jakarta dan Makassar

Namun, kisah tersebut tetap penting sebagai sumber untuk melihat bagaimana masyarakat Bugis membayangkan asal-usul dunia, manusia, kepemimpinan, hubungan sosial dan kehidupan mereka.

Dari Tradisi Lisan ke Naskah Lontara

Jauh sebelum menjadi manuskrip, cerita Galigo berkembang melalui tradisi lisan dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Kisah tersebut juga dikenal dalam tradisi Massureq Galigo, yakni pembacaan atau pelantunan teks Galigo.

Pada abad ke-19, Colliq Pujié Arung Pancana Toa, seorang bangsawan perempuan Bugis, menjadi salah satu tokoh penting dalam upaya mendokumentasikan kisah tersebut.

Potoh Colliq Pujie penyalin 12 Naskah Lagaligo

Ia menghimpun dan menyalin cerita Galigo untuk peneliti Belanda, B.F. Matthes, pada 1852.

Naskahnya ditulis menggunakan aksara Lontara dan bahasa Bugis kuno dalam bentuk puisi.

Versi yang bertahan hingga kini berasal dari berbagai manuskrip karena banyak naskah sebelumnya hilang akibat kerusakan, iklim maupun serangga.

Jumlah bagian yang berhasil diselamatkan diperkirakan mencapai sekitar 6.000 halaman atau 300.000 baris.

Tidak ada satu versi yang dapat disebut sebagai naskah Galigo yang benar-benar lengkap.

Sebagian manuskrip kini tersimpan di sejumlah lembaga di Eropa, termasuk perpustakaan di Leiden, Belanda. Koleksi lainnya berada di Sulawesi Selatan maupun tangan kolektor pribadi.

BACA JUGA:  Potret Justin Hubner Pakai Busana Bugis-Makassar Banjir Pujian Warganet

Keterbatasan pemahaman terhadap bahasa Bugis kuno dan aksara Lontara juga menjadi tantangan pelestarian.

Versi asli Galigo kini hanya dapat dibaca oleh kalangan yang sangat terbatas, sementara penerjemahan ke bahasa Indonesia baru mencakup sebagian teks.

Karya Tradisional Dikenal Dunia

Epos tersebut kemudian menarik perhatian dunia melalui berbagai penelitian dan adaptasi seni.

Salah satu yang paling dikenal adalah pertunjukan teater I La Galigo karya sutradara asal Amerika Serikat, Robert Wilson, yang mulai dipentaskan secara internasional pada 2004.

Pengakuan dunia terhadap nilai penting naskah ini semakin kuat setelah UNESCO memasukkan manuskrip I La Galigo ke dalam daftar Memory of the World pada 2011.

Warisan tersebut kini juga hadir di tengah Kota Makassar melalui penamaan Jalan I La Galigo.

Museum La Galigo di Benteng Rotterdam

Meski hanya membentang kurang dari 200 meter, jalan yang berada di kawasan pusat kota ini menjadi penghubung antara Jalan Arief Rate dan Jalan Lasinrang.

Aktivitas di sepanjang jalan diisi berbagai rumah makan, klinik gigi, hingga tempat kursus bahasa Inggris.

Selain itu, namanya juga di gunakan menjadi kawasan bersejarah Museum La Galigo di Benteng Rotterdam.

SulawesiPos.com – Di tengah aktivitas Kota Makassar, terdapat Jalan I La Galigo yang mengabadikan nama salah satu tokoh utama dalam epos besar masyarakat Bugis.

Jalan sepanjang kurang dari 200 meter ini berada di pusat kota dan menghubungkan Jalan Arief Rate dengan Jalan Lasinrang, di kawasan yang juga dikelilingi berbagai fasilitas kesehatan, kuliner, hingga pendidikan.

Nama I La Galigo sendiri merujuk pada sosok yang dikenal dalam tradisi Bugis sebagai putra Sawerigading dan We Cudai.

Ia digambarkan sebagai pelaut, perantau, pahlawan sekaligus perwira yang memiliki kemampuan luar biasa.

Dalam kisahnya, I La Galigo bergelar Datunna Kelling dan menjalani berbagai petualangan ke sejumlah negeri.

Menariknya, nama tokoh tersebut kemudian menjadi nama yang melekat pada keseluruhan epos yang menceritakan perjalanan hidupnya dan tokoh-tokoh lain dalam dunia Bugis.

Karya itu dikenal dengan sejumlah sebutan, seperti Sureq Galigo, I La Galigo, La Galigo, atau Galigo.

Salah satu isi I Lagaligo

Epos tersebut merupakan salah satu karya sastra terbesar yang lahir dari peradaban Bugis di Sulawesi Selatan.

Isinya berkisah tentang I La Galigo dan keluarganya, serta mencakup mitologi penciptaan dunia, asal-usul manusia, hubungan antarkerajaan, perjalanan para tokoh, hingga gambaran mengenai nilai dan kehidupan masyarakat Bugis.

BACA JUGA:  Potret Justin Hubner Pakai Busana Bugis-Makassar Banjir Pujian Warganet

I La Galigo, Putra Sawerigading

Dalam rangkaian cerita Galigo, I La Galigo merupakan anak dari Sawerigading dan We Cudai. Sosoknya memiliki karakter yang mirip dengan sang ayah, seorang pelaut ulung, pengembara dan kesatria yang menjelajahi berbagai wilayah.

I La Galigo juga disebut memiliki empat istri yang berasal dari negeri berbeda. Meski memiliki kedudukan penting dalam cerita, ia tidak digambarkan sebagai raja.

Sebelum kisah I La Galigo berkembang, epos tersebut lebih dahulu mengisahkan penciptaan dunia.

Ketika bumi masih kosong, La Patiganna atau Raja di Langit mengadakan musyawarah dengan sejumlah tokoh dari alam gaib.

Dari keputusan itu, La Toge’ Langi’ diturunkan ke bumi dengan gelar Batara Guru untuk menjadi penguasa Alekawa atau dunia.

Dari dunia inilah kemudian berkembang silsilah dan kisah panjang yang mempertemukan berbagai tokoh, kerajaan dan alam dalam epos Galigo.

Kisah Sawerigading dan I La Galigo kemudian menjadi bagian penting dari rangkaian tersebut.

Ceritanya dipenuhi perjalanan, peperangan, hubungan antarkerajaan serta berbagai peristiwa yang bersifat magis dan supranatural.

Ada kisah tentang pelayaran luar biasa, kapal yang mampu melintasi langit dan laut, hingga pertempuran antara tokoh-tokoh dengan kekuatan yang tidak biasa. Karena kuatnya unsur mitologi, La Galigo tidak dapat ditempatkan sebagai catatan sejarah faktual.

BACA JUGA:  KKSS dan IKA Unhas Gelar Nonton Bareng Film Uang Passolo di Jakarta dan Makassar

Namun, kisah tersebut tetap penting sebagai sumber untuk melihat bagaimana masyarakat Bugis membayangkan asal-usul dunia, manusia, kepemimpinan, hubungan sosial dan kehidupan mereka.

Dari Tradisi Lisan ke Naskah Lontara

Jauh sebelum menjadi manuskrip, cerita Galigo berkembang melalui tradisi lisan dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Kisah tersebut juga dikenal dalam tradisi Massureq Galigo, yakni pembacaan atau pelantunan teks Galigo.

Pada abad ke-19, Colliq Pujié Arung Pancana Toa, seorang bangsawan perempuan Bugis, menjadi salah satu tokoh penting dalam upaya mendokumentasikan kisah tersebut.

Potoh Colliq Pujie penyalin 12 Naskah Lagaligo

Ia menghimpun dan menyalin cerita Galigo untuk peneliti Belanda, B.F. Matthes, pada 1852.

Naskahnya ditulis menggunakan aksara Lontara dan bahasa Bugis kuno dalam bentuk puisi.

Versi yang bertahan hingga kini berasal dari berbagai manuskrip karena banyak naskah sebelumnya hilang akibat kerusakan, iklim maupun serangga.

Jumlah bagian yang berhasil diselamatkan diperkirakan mencapai sekitar 6.000 halaman atau 300.000 baris.

Tidak ada satu versi yang dapat disebut sebagai naskah Galigo yang benar-benar lengkap.

Sebagian manuskrip kini tersimpan di sejumlah lembaga di Eropa, termasuk perpustakaan di Leiden, Belanda. Koleksi lainnya berada di Sulawesi Selatan maupun tangan kolektor pribadi.

BACA JUGA:  KKSS dan IKA Unhas Gelar Nonton Bareng Film Uang Passolo di Jakarta dan Makassar

Keterbatasan pemahaman terhadap bahasa Bugis kuno dan aksara Lontara juga menjadi tantangan pelestarian.

Versi asli Galigo kini hanya dapat dibaca oleh kalangan yang sangat terbatas, sementara penerjemahan ke bahasa Indonesia baru mencakup sebagian teks.

Karya Tradisional Dikenal Dunia

Epos tersebut kemudian menarik perhatian dunia melalui berbagai penelitian dan adaptasi seni.

Salah satu yang paling dikenal adalah pertunjukan teater I La Galigo karya sutradara asal Amerika Serikat, Robert Wilson, yang mulai dipentaskan secara internasional pada 2004.

Pengakuan dunia terhadap nilai penting naskah ini semakin kuat setelah UNESCO memasukkan manuskrip I La Galigo ke dalam daftar Memory of the World pada 2011.

Warisan tersebut kini juga hadir di tengah Kota Makassar melalui penamaan Jalan I La Galigo.

Museum La Galigo di Benteng Rotterdam

Meski hanya membentang kurang dari 200 meter, jalan yang berada di kawasan pusat kota ini menjadi penghubung antara Jalan Arief Rate dan Jalan Lasinrang.

Aktivitas di sepanjang jalan diisi berbagai rumah makan, klinik gigi, hingga tempat kursus bahasa Inggris.

Selain itu, namanya juga di gunakan menjadi kawasan bersejarah Museum La Galigo di Benteng Rotterdam.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru