SulawesiPos.com — Kelangkaan bahan bakar minyak jenis solar yang berkepanjangan di Sulawesi Selatan mulai memukul telak sektor logistik darat. Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) wilayah Sulawesi Selatan dan Barat mengeluhkan sulitnya mengakses solar subsidi di lapangan, kondisi yang tidak hanya melumpuhkan operasional harian tetapi juga mengancam lonjakan drastis biaya pengiriman barang.
Armada truk kini terpaksa menghabiskan waktu berhari-hari hanya demi mengantre di SPBU. Menghadapi situasi tersebut, ALFI Sulselbar memproyeksikan opsi beralih ke BBM non-subsidi sebagai jalan keluar terakhir, meski langkah ini dipastikan memicu lonjakan tarif angkutan darat secara signifikan.
Ketua ALFI Sulselbar, Yodi Nalendra, dalam keterangannya, Kamis (10/9/2026), menegaskan bahwa tekanan di kalangan pelaku usaha logistik telah mencapai tahap yang sangat mengkhawatirkan.
“Kita ini pelaku logistik sudah sangat prihatin, sudah sangat kecewa. Bahkan eskalasinya ini sudah tinggi. Tekanan dari aspirasi teman-teman anggota itu sudah keras dan tegas,” ujar Yodi.
Berdasarkan simulasi internal asosiasi, peralihan penuh ke BBM non-subsidi akan mendongkrak tarif distribusi lebih dari dua kali lipat pada berbagai rute logistik utama.
“Dampaknya jelas, kenaikan setelah kita melakukan simulasi internal itu minimal 120 persen. Sebagai ilustrasi, rute ke Parepare itu Rp2,5 juta sekarang untuk trucking. Nah, nanti ketika disesuaikan menggunakan BBM non-subsidi, angkanya menjadi Rp5,25 juta sampai Rp5,5 juta,” ungkapnya.
Yodi turut mengkritik klaim Pertamina mengenai ketersediaan pasokan yang dinilai berbanding terbalik dengan realitas di lapangan.
“Saya harap dari Pertamina jangan selalu menyampaikan hal-hal yang mengenakkan di telinga tapi kenyataannya menyesakkan di dada. Mengatakan stok cukup dan distribusi optimal, tapi kenyataan di lapangan kita antre berhari-hari dan mencari SPBU yang menyediakan solar subsidi sangat susah,” tambahnya.
Sorotan juga tertuju pada lemahnya pengawasan serta penindakan hukum di tingkat penyalur. Wakil Ketua Bidang Kepelabuhanan dan Angkutan Laut ALFI Sulselbar, Ambo Tuo, menengarai adanya pembiaran terhadap aksi penyelewengan solar subsidi oleh pihak tak bertanggung jawab.
“Di beberapa SPBU masih banyak kendaraan yang bolak-balik mengisi BBM subsidi tetapi tidak ada tindakan nyata dari Satuan Tugas. Ketika ada indikasi armada menimbun, tim Satgas seharusnya segera menangkap atau memberikan efek jera,” kata Ambo Tuo.
Ambo Tuo membantah anggapan bahwa penindakan tegas terhadap SPBU nakal justru akan memperparah kelangkaan pasokan di masyarakat.
“Pertamina selalu beralasan jika menindak pihak SPBU yang melakukan penggelembungan atau penimbunan, otomatis akan terjadi kelangkaan besar akibat penutupan SPBU. Bagi saya itu nonsense. Kalau satu ditutup, kuotanya tinggal dialihkan ke SPBU lain, sehingga tidak akan ada kelangkaan,” tegasnya.
Tanpa langkah penegakan hukum yang konkret serta perbaikan tata kelola distribusi BBM di SPBU, efek domino kelangkaan solar ini dikhawatirkan segera memicu lonjakan tarif logistik darat dan mendongkrak harga kebutuhan pokok masyarakat di seluruh Sulawesi Selatan.

