Konflik AS-Iran Kembali Memanas, Harga Minyak Dunia Melonjak Tembus USD 91 per Barel

SulawesiPos.com – Harga minyak dunia kembali bergerak fluktuatif setelah sebelumnya sempat turun lebih dari 5 persen.

Kini, harga minyak mentah global kembali melonjak lebih dari 3 persen akibat meningkatnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Mengutip laporan The Economic Times, minyak mentah Brent tercatat naik hingga menyentuh USD 91,71 per barel pada perdagangan Kamis (28/5/2026).

Kenaikan harga dipicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan distribusi energi global melalui Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi penghubung utama ekspor minyak dunia.

“Lonjakan tersebut terjadi setelah muncul laporan mengenai serangan terbaru AS terhadap target militer Iran di sekitar Selat Hormuz,” tulis laporan tersebut.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menyerang pangkalan udara Amerika Serikat sekitar pukul 04.50 waktu setempat.

Informasi tersebut disampaikan kantor berita semi-resmi Tasnim, meski lokasi pangkalan yang diserang belum diumumkan secara rinci.

Di sisi lain, pejabat AS menyebut pasukan Komando Pusat Amerika berhasil menembak jatuh empat drone serang milik Iran yang dianggap mengancam keamanan di sekitar Selat Hormuz.

BACA JUGA:  Konflik Iran vs AS Kian Memanas, Syahrul Aidi Minta Indonesia Tidak Memihak dan Mengutuk Penjajahan

Militer AS juga dilaporkan menyerang stasiun kendali darat Iran di Bandar Abbas yang disebut tengah bersiap meluncurkan drone kelima.

Ketegangan terbaru ini terjadi beberapa hari setelah militer AS melancarkan operasi yang disebut sebagai “serangan bela diri” di Iran selatan.

Operasi tersebut menargetkan kapal yang diduga hendak memasang ranjau di jalur pelayaran strategis serta fasilitas peluncuran rudal.

Pasar Khawatir Gangguan Pasokan Energi Global

Pemerintah AS menyebut operasi militer tersebut dilakukan demi melindungi pasukan Amerika dan menjaga keamanan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.

Namun, Iran menegaskan akan membalas tindakan tersebut setelah mendeteksi drone AS dan jet tempur F-35 memasuki wilayah udaranya.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bahkan menyebut Iran kini tengah “bernegosiasi dengan sisa-sisa bahan bakar”.

Di tengah situasi tersebut, bank investasi Swiss, UBS, memperingatkan tekanan terhadap pasar minyak global semakin besar akibat menyusutnya cadangan minyak dunia.

UBS mencatat persediaan minyak global turun sekitar 246 juta barel sepanjang Maret hingga April, sementara kerugian produksi kumulatif diperkirakan melampaui 1 miliar barel pada akhir Mei.

BACA JUGA:  Trump Unggah Foto Memegang Senjata di Truth Social Sambil Beri Ancaman ke Iran

Gangguan Selat Hormuz Bisa Berdampak Hingga 2027

Para analis menilai sekalipun tercapai kesepakatan damai, aktivitas pengiriman energi melalui Selat Hormuz kemungkinan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk kembali normal.

Selain itu, kerusakan infrastruktur energi diperkirakan memerlukan waktu lebih lama untuk pulih sepenuhnya.

CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, sebelumnya juga memperingatkan gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz dapat menghambat stabilitas pasar minyak global hingga 2027.

Menurutnya, dampak penutupan jalur tersebut berpotensi mengganggu pasokan minyak dunia hampir 100 juta barel per minggu.

Sementara itu, Morgan Stanley menggambarkan kondisi pasar minyak saat ini sebagai “perlombaan melawan waktu”.

Lembaga tersebut menilai faktor yang selama ini membantu menahan kenaikan harga minyak dapat melemah apabila Selat Hormuz tetap tertutup hingga Juni.

SulawesiPos.com – Harga minyak dunia kembali bergerak fluktuatif setelah sebelumnya sempat turun lebih dari 5 persen.

Kini, harga minyak mentah global kembali melonjak lebih dari 3 persen akibat meningkatnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Mengutip laporan The Economic Times, minyak mentah Brent tercatat naik hingga menyentuh USD 91,71 per barel pada perdagangan Kamis (28/5/2026).

Kenaikan harga dipicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan distribusi energi global melalui Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi penghubung utama ekspor minyak dunia.

“Lonjakan tersebut terjadi setelah muncul laporan mengenai serangan terbaru AS terhadap target militer Iran di sekitar Selat Hormuz,” tulis laporan tersebut.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menyerang pangkalan udara Amerika Serikat sekitar pukul 04.50 waktu setempat.

Informasi tersebut disampaikan kantor berita semi-resmi Tasnim, meski lokasi pangkalan yang diserang belum diumumkan secara rinci.

Di sisi lain, pejabat AS menyebut pasukan Komando Pusat Amerika berhasil menembak jatuh empat drone serang milik Iran yang dianggap mengancam keamanan di sekitar Selat Hormuz.

BACA JUGA:  Trump Unggah Foto Memegang Senjata di Truth Social Sambil Beri Ancaman ke Iran

Militer AS juga dilaporkan menyerang stasiun kendali darat Iran di Bandar Abbas yang disebut tengah bersiap meluncurkan drone kelima.

Ketegangan terbaru ini terjadi beberapa hari setelah militer AS melancarkan operasi yang disebut sebagai “serangan bela diri” di Iran selatan.

Operasi tersebut menargetkan kapal yang diduga hendak memasang ranjau di jalur pelayaran strategis serta fasilitas peluncuran rudal.

Pasar Khawatir Gangguan Pasokan Energi Global

Pemerintah AS menyebut operasi militer tersebut dilakukan demi melindungi pasukan Amerika dan menjaga keamanan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.

Namun, Iran menegaskan akan membalas tindakan tersebut setelah mendeteksi drone AS dan jet tempur F-35 memasuki wilayah udaranya.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bahkan menyebut Iran kini tengah “bernegosiasi dengan sisa-sisa bahan bakar”.

Di tengah situasi tersebut, bank investasi Swiss, UBS, memperingatkan tekanan terhadap pasar minyak global semakin besar akibat menyusutnya cadangan minyak dunia.

UBS mencatat persediaan minyak global turun sekitar 246 juta barel sepanjang Maret hingga April, sementara kerugian produksi kumulatif diperkirakan melampaui 1 miliar barel pada akhir Mei.

BACA JUGA:  Iran-AS Mulai Negosiasi di Islamabad, Dibayangi Ketidakpercayaan dan Syarat Gencatan Senjata

Gangguan Selat Hormuz Bisa Berdampak Hingga 2027

Para analis menilai sekalipun tercapai kesepakatan damai, aktivitas pengiriman energi melalui Selat Hormuz kemungkinan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk kembali normal.

Selain itu, kerusakan infrastruktur energi diperkirakan memerlukan waktu lebih lama untuk pulih sepenuhnya.

CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, sebelumnya juga memperingatkan gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz dapat menghambat stabilitas pasar minyak global hingga 2027.

Menurutnya, dampak penutupan jalur tersebut berpotensi mengganggu pasokan minyak dunia hampir 100 juta barel per minggu.

Sementara itu, Morgan Stanley menggambarkan kondisi pasar minyak saat ini sebagai “perlombaan melawan waktu”.

Lembaga tersebut menilai faktor yang selama ini membantu menahan kenaikan harga minyak dapat melemah apabila Selat Hormuz tetap tertutup hingga Juni.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru