Amran Tembus Skor 91, Tertinggi di Kabinet: 3 Guru Besar Bedah Mesin Kerja Sang Menteri Pertanian

SulawesiPos.com – Di tengah tuntutan menjaga pangan bagi lebih dari 280 juta penduduk Indonesia, Menteri Pertanian Republik Indonesia Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, M.P. muncul sebagai menteri dengan skor kinerja tertinggi di Kabinet Merah Putih setelah Government Performance Assessment IndexPolitica Indonesia menempatkannya di posisi pertama dengan nilai 91, dan pada Selasa (8/9/2026).

Tiga akademisi yang dihubungi SulawesiPos menilai pencapaian itu bukan sekadar angka, melainkan cermin dari produksi pangan, kesejahteraan petani, dampak ekonomi, serta tata kelola pemerintahan yang kini menghadapi tantangan lebih besar untuk bergerak dari swasembada beras menuju sistem pangan yang beragam dan berkelanjutan.

Angka 91 itu membuat Andi Amran Sulaiman berdiri di puncak penilaian, di atas Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Perkasa Roeslani dengan skor 89, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa 87, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti 86, serta Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin 85.

Namun, yang membuat penilaian tersebut menarik bukan hanya siapa yang berada di urutan pertama, melainkan apa yang sebenarnya diukur IndexPolitica, karena lembaga riset politik dan kebijakan publik itu menegaskan bahwa Government Performance Assessment bukan kontes popularitas dan bukan pula pengukuran mengenai siapa menteri yang paling sering muncul di layar televisi atau media sosial.

BACA JUGA:  Sherly Tjoanda Jadi Bintang di Acara Pembukaan PSBM XXVI

Founder sekaligus Peneliti Senior IndexPolitica Indonesia Denny Charter menjelaskan bahwa yang dinilai ialah capaian kementerian yang dapat diukur dan diverifikasi melalui pendekatan Evidence-Based Government Performance Evaluation dengan metode Multi-Criteria Decision Analysis atau MCDA.

Enam dimensi kemudian menjadi “mesin” penilaian tersebut, yakni Policy Output berbobot 20 persen, Policy Outcome 25 persen, Implementation Effectiveness 20 persen, Public and Economic Impact 15 persen, Policy Innovation 10 persen, dan Intergovernmental Coordination 10 persen.

Bobot terbesar sengaja ditempatkan pada policy outcome, sehingga sebuah kementerian tidak cukup dinilai dari berapa banyak program yang diluncurkan, tetapi terutama dari seberapa jauh kebijakan tersebut benar-benar menghasilkan perubahan yang dapat ditelusuri melalui data.

Sukri: Ini Pengakuan Ilmiah atas Kinerja yang Memberikan Dampak

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin (FISIP Unhas), Prof. Dr. Phil. Sukri, M.Si. Foto: Istimewa.

 

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin (FISIP Unhas), Prof. Dr. Phil. Sukri, M.Si., melihat angka 91 itu pertama-tama dari pintu metodologi, sebab menurutnya kredibilitas suatu penghargaan kinerja harus dibaca dari cara penilaian tersebut dihasilkan.

BACA JUGA:  Mentan Amran Pastikan Pangan Nasional Aman Hadapi El Nino: Produksi Tetap Kuat, Surplus Terjaga

Ketika dihubungi jurnalis SulawesiPos, Selasa (8/9/2026), Sukri mengatakan kredibilitas IndexPolitica dan pendekatan ilmiah yang digunakannya menjadi alasan penting mengapa hasil tersebut layak diperhatikan secara serius.

“Kalau kita lihat, lembaga ini adalah lembaga yang kredibel, sehingga tentu kita meyakini bahwa penilaian ini dilakukan dengan menegakkan unsur-unsur metodologis ilmiah yang baik, dan dengan demikian hasilnya tentu bisa sangat dipercaya,” kata Sukri.

Bagi ilmuwan politik tersebut, posisi pertama Amran menunjukkan bahwa kebijakan pertanian tidak berhenti pada ruang administrasi kementerian, tetapi memperoleh pengakuan karena dinilai menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.

“Apa yang dilakukan Pak Amran Sulaiman selama ini mendapatkan respons yang baik, menunjukkan kemanfaatan yang baik kepada masyarakat, dan ini adalah sesuatu yang patut dicontoh oleh menteri-menteri yang lain sesuai bidang tugasnya,” ujarnya.

Sukri mengingatkan bahwa menteri pada hakikatnya merupakan pembantu presiden dalam menerjemahkan visi dan misi kepala negara menjadi kebijakan serta manfaat publik, sehingga ukuran terpenting seorang menteri pada akhirnya adalah kemampuan menghadirkan hasil.

BACA JUGA:  Ustaz Zaitun Sambut Positif Hilirisasi Pertanian yang Dicanangkan Mentan untuk Kesejahteraan Petani

Ia juga tidak menempatkan skor 91 sebagai tanda bahwa seluruh persoalan pertanian Indonesia telah selesai, sebab setiap kebijakan tetap memiliki ruang koreksi dan setiap keberhasilan membawa tuntutan untuk mencapai standar berikutnya.

SulawesiPos.com – Di tengah tuntutan menjaga pangan bagi lebih dari 280 juta penduduk Indonesia, Menteri Pertanian Republik Indonesia Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, M.P. muncul sebagai menteri dengan skor kinerja tertinggi di Kabinet Merah Putih setelah Government Performance Assessment IndexPolitica Indonesia menempatkannya di posisi pertama dengan nilai 91, dan pada Selasa (8/9/2026).

Tiga akademisi yang dihubungi SulawesiPos menilai pencapaian itu bukan sekadar angka, melainkan cermin dari produksi pangan, kesejahteraan petani, dampak ekonomi, serta tata kelola pemerintahan yang kini menghadapi tantangan lebih besar untuk bergerak dari swasembada beras menuju sistem pangan yang beragam dan berkelanjutan.

Angka 91 itu membuat Andi Amran Sulaiman berdiri di puncak penilaian, di atas Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Perkasa Roeslani dengan skor 89, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa 87, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti 86, serta Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin 85.

Namun, yang membuat penilaian tersebut menarik bukan hanya siapa yang berada di urutan pertama, melainkan apa yang sebenarnya diukur IndexPolitica, karena lembaga riset politik dan kebijakan publik itu menegaskan bahwa Government Performance Assessment bukan kontes popularitas dan bukan pula pengukuran mengenai siapa menteri yang paling sering muncul di layar televisi atau media sosial.

BACA JUGA:  Ustaz Zaitun Sambut Positif Hilirisasi Pertanian yang Dicanangkan Mentan untuk Kesejahteraan Petani

Founder sekaligus Peneliti Senior IndexPolitica Indonesia Denny Charter menjelaskan bahwa yang dinilai ialah capaian kementerian yang dapat diukur dan diverifikasi melalui pendekatan Evidence-Based Government Performance Evaluation dengan metode Multi-Criteria Decision Analysis atau MCDA.

Enam dimensi kemudian menjadi “mesin” penilaian tersebut, yakni Policy Output berbobot 20 persen, Policy Outcome 25 persen, Implementation Effectiveness 20 persen, Public and Economic Impact 15 persen, Policy Innovation 10 persen, dan Intergovernmental Coordination 10 persen.

Bobot terbesar sengaja ditempatkan pada policy outcome, sehingga sebuah kementerian tidak cukup dinilai dari berapa banyak program yang diluncurkan, tetapi terutama dari seberapa jauh kebijakan tersebut benar-benar menghasilkan perubahan yang dapat ditelusuri melalui data.

Sukri: Ini Pengakuan Ilmiah atas Kinerja yang Memberikan Dampak

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin (FISIP Unhas), Prof. Dr. Phil. Sukri, M.Si. Foto: Istimewa.

 

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin (FISIP Unhas), Prof. Dr. Phil. Sukri, M.Si., melihat angka 91 itu pertama-tama dari pintu metodologi, sebab menurutnya kredibilitas suatu penghargaan kinerja harus dibaca dari cara penilaian tersebut dihasilkan.

BACA JUGA:  Mentan Amran Pastikan Pangan Nasional Aman Hadapi El Nino: Produksi Tetap Kuat, Surplus Terjaga

Ketika dihubungi jurnalis SulawesiPos, Selasa (8/9/2026), Sukri mengatakan kredibilitas IndexPolitica dan pendekatan ilmiah yang digunakannya menjadi alasan penting mengapa hasil tersebut layak diperhatikan secara serius.

“Kalau kita lihat, lembaga ini adalah lembaga yang kredibel, sehingga tentu kita meyakini bahwa penilaian ini dilakukan dengan menegakkan unsur-unsur metodologis ilmiah yang baik, dan dengan demikian hasilnya tentu bisa sangat dipercaya,” kata Sukri.

Bagi ilmuwan politik tersebut, posisi pertama Amran menunjukkan bahwa kebijakan pertanian tidak berhenti pada ruang administrasi kementerian, tetapi memperoleh pengakuan karena dinilai menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.

“Apa yang dilakukan Pak Amran Sulaiman selama ini mendapatkan respons yang baik, menunjukkan kemanfaatan yang baik kepada masyarakat, dan ini adalah sesuatu yang patut dicontoh oleh menteri-menteri yang lain sesuai bidang tugasnya,” ujarnya.

Sukri mengingatkan bahwa menteri pada hakikatnya merupakan pembantu presiden dalam menerjemahkan visi dan misi kepala negara menjadi kebijakan serta manfaat publik, sehingga ukuran terpenting seorang menteri pada akhirnya adalah kemampuan menghadirkan hasil.

BACA JUGA:  Proyek Ayam Terintegrasi Rp20 Triliun Digeber, Pemerintah Janjikan Solusi Permanen Harga DOC

Ia juga tidak menempatkan skor 91 sebagai tanda bahwa seluruh persoalan pertanian Indonesia telah selesai, sebab setiap kebijakan tetap memiliki ruang koreksi dan setiap keberhasilan membawa tuntutan untuk mencapai standar berikutnya.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru