SulawesiPos.com – Nama Sultan Hasanuddin selalu melekat pada buku sejarah, institusi negara, dan berbagai fasilitas publik.
Di Makassar, namanya hidup sebagai Jalan Sultan Hasanuddin, salah satu ruas yang berada di kawasan pusat kota dan menjadi salah satu akses menuju Pantai Losari.
Jalan ini membentang sekitar 1 kilometer, dari kawasan SMA Katolik Rajawali hingga berujung di sekitar Taman Macan.
Di balik nama jalan tersebut terdapat kisah Sultan Hasanuddin, Raja Gowa ke-16 yang memimpin kerajaan pada masa ketika kekuatan maritim Gowa berhadapan langsung dengan ambisi monopoli dagang VOC.
Keberaniannya dalam mempertahankan kebebasan perdagangan membuat Belanda menjulukinya De Haantjes van Het Oosten, yang berarti Ayam Jantan dari Timur.
Di sepanjang jalan ini terdapat berbagai aktivitas perdagangan dan jasa, termasuk Gelael Supermarket.
Putra Sultan Gowa, Dipersiapkan Memimpin Kerajaan

Sultan Hasanuddin lahir di Makassar pada 12 Januari 1631 dengan nama I Mallombassi Daeng Mattawang Muhammad Bakir Karaeng Bontomangape.
Ia merupakan putra Sultan Malikussaid, Raja Gowa ke-15, dan I Sabbe Lokmo Daeng Takuntu.
Sejak kecil, Hasanuddin berada di lingkungan kerajaan yang membuatnya akrab dengan urusan pemerintahan.
Ia juga memperoleh pendidikan agama di Masjid Bontoala dan beberapa kali diajak ayahnya menghadiri pertemuan penting. Dari lingkungan tersebut, ia belajar membaca persoalan politik, diplomasi dan strategi.
Selain berkembang dalam urusan pemerintahan, Hasanuddin juga dikenal memiliki kemampuan berdagang dan membangun jaringan dengan pedagang dari berbagai daerah, termasuk orang-orang asing yang datang ke Makassar.
Ketika berusia sekitar 21 tahun, ia mulai dipercaya menangani urusan pertahanan Kerajaan Gowa. Pengalaman tersebut menjadi bekal sebelum dirinya mengambil alih pemerintahan setelah Sultan Malikussaid wafat.
Sumber sejarah memiliki perbedaan mengenai tahun pengangkatannya sebagai raja. Ada catatan yang menyebut 1653, ketika usianya sekitar 22 tahun, sementara sumber lain menempatkannya pada 1655.
Berdasarkan kajian BRIN, Hasanuddin memerintah Gowa pada 1653-1670 dan naik takhta pada usia sekitar 22 tahun.
Dalam menjalankan pemerintahan, ia juga mendapat bimbingan dari Karaeng Pattingaloang, mangkubumi Kesultanan Gowa.

