Setelah Sempat Gagal, Roket H3 Jepang Berhasil Membawa Satelit Navigasi ke Orbit

SulawesiPos.com – Badan Eksplorasi Dirgantara Jepang (JAXA) bersama Mitsubishi Heavy Industries berhasil meluncurkan roket H3 Penerbangan Nomor 9 yang membawa satelit navigasi Michibiki-7 dari Pusat Antariksa Tanegashima, Prefektur Kagoshima, Jepang barat daya, Selasa (11/8/2026) pukul 04.23 waktu setempat, lalu menempatkannya ke orbit sasaran sekitar 29 menit kemudian untuk memperkuat kemandirian sistem penentuan posisi nasional.

Keberhasilan itu menjadi peluncuran kedua H3 secara berturut-turut setelah kegagalan misi Michibiki-5 pada Desember 2025 sekaligus mengembalikan kepercayaan terhadap roket utama Jepang dalam persaingan transportasi antariksa global. Demikian laporan Japan Today, Selasa (11/8/2026).

Peluncuran awalnya direncanakan berlangsung pada Jumat (7/8/2026), tetapi ditunda hingga Senin akibat lintasan topan dan kembali digeser satu hari karena cuaca buruk di sekitar kompleks peluncuran.

Roket sepanjang 57 atau 63 meter itu melesat dari Kompleks Peluncuran Yoshinobu dengan membawa Michibiki-7 yang berbobot sekitar 4,9 ton menuju orbit transfer sebelum satelit menggerakkan sistem propulsinya untuk mencapai orbit operasional.

BACA JUGA:  Liburan ke Jepang Makin Seru, Tapi Ada Aturan Baru yang Wajib Kamu Tahu

Manajer Proyek H3 JAXA Makoto Arita mengatakan timnya melakukan berbagai perbaikan dengan tekad mencegah terulangnya kegagalan sehingga misi terbaru dapat dijalankan dengan tingkat keandalan yang lebih tinggi.

JAXA memperkuat sambungan komponen pada bagian dudukan satelit menggunakan metode yang telah teruji setelah investigasi menemukan bahwa proses penyambungan yang bermasalah berkontribusi terhadap kegagalan misi sebelumnya.

Michibiki, “GPS Jepang” yang Melihat dari Atas Negeri

Michibiki-7 merupakan bagian dari Quasi-Zenith Satellite System atau QZSS, jaringan navigasi regional Jepang yang bekerja bersama sistem GPS Amerika Serikat untuk meningkatkan ketersediaan dan ketelitian informasi lokasi.

Nama Michibiki dalam bahasa Jepang berarti “petunjuk” atau “pemandu”, sedangkan sebutan quasi-zenith merujuk pada orbit khusus yang membuat setidaknya satu satelit tampak berada tinggi di langit Jepang dalam waktu lama.

Posisi tinggi tersebut membantu sinyal navigasi menjangkau kawasan perkotaan yang dipenuhi gedung pencakar langit serta daerah pegunungan yang sering menghalangi pancaran satelit berorbit lebih rendah di cakrawala.

BACA JUGA:  Daihatsu Perbarui Move Canbus dan Move, Tambah Fitur Keselamatan Smart Assist

QZSS tidak menggantikan GPS secara langsung dalam seluruh pemakaian, tetapi melengkapi dan memperkuatnya melalui sinyal yang kompatibel serta layanan koreksi untuk memperkecil kesalahan pengukuran posisi.

Dengan layanan koreksi tingkat sentimeter atau Centimeter Level Augmentation Service, sistem ini dapat mendukung pemetaan presisi, survei konstruksi, pertanian pintar, pengoperasian mesin otomatis, logistik, kendaraan otonom, dan berbagai penelitian geospasial.

Ketelitian hingga beberapa sentimeter berbeda dari GPS standar pada telepon pintar yang umumnya menghasilkan akurasi beberapa meter karena QZSS mengirimkan data koreksi atas gangguan orbit, waktu, atmosfer, dan sumber kesalahan lainnya.

Michibiki-7 memiliki rentang sekitar 19 meter ketika panel suryanya dibentangkan serta membawa perangkat untuk mendistribusikan informasi keselamatan dan peringatan bencana kepada terminal yang kompatibel.

Kemampuan penyampaian peringatan tersebut penting bagi Jepang yang rentan terhadap gempa bumi, tsunami, topan, dan tanah longsor karena pesan darurat berbasis satelit tetap dapat menjangkau kawasan ketika jaringan komunikasi darat terganggu.

BACA JUGA:  Makassar Ribut Pemilahan Sampah, Ini Sistem di Jepang dan Australia: Ketat dari Rumah, Tetapi Jalurnya Berbeda

Mengejar Kedaulatan Navigasi dan Pasar Peluncuran Dunia

Lima satelit Michibiki telah memberikan layanan sebelum peluncuran terbaru, tetapi kegagalan Michibiki-5 pada Desember 2025 membuat jumlah wahana yang dapat dioperasikan setelah kedatangan Michibiki-7 menjadi enam, bukan tujuh.

Pemerintah Jepang menargetkan konstelasi tujuh satelit agar layanan penentuan posisi regional dapat tersedia secara berkelanjutan tanpa selalu bergantung pada satelit navigasi negara lain, kemudian memperluasnya menjadi 11 wahana untuk meningkatkan ketahanan dan cakupan sistem.

Kemandirian tersebut mempunyai arti strategis karena navigasi satelit kini menjadi infrastruktur penting bagi telekomunikasi, transportasi udara dan laut, transaksi keuangan, sinkronisasi jaringan listrik, respons bencana, pertanian presisi, serta pertahanan nasional.

SulawesiPos.com – Badan Eksplorasi Dirgantara Jepang (JAXA) bersama Mitsubishi Heavy Industries berhasil meluncurkan roket H3 Penerbangan Nomor 9 yang membawa satelit navigasi Michibiki-7 dari Pusat Antariksa Tanegashima, Prefektur Kagoshima, Jepang barat daya, Selasa (11/8/2026) pukul 04.23 waktu setempat, lalu menempatkannya ke orbit sasaran sekitar 29 menit kemudian untuk memperkuat kemandirian sistem penentuan posisi nasional.

Keberhasilan itu menjadi peluncuran kedua H3 secara berturut-turut setelah kegagalan misi Michibiki-5 pada Desember 2025 sekaligus mengembalikan kepercayaan terhadap roket utama Jepang dalam persaingan transportasi antariksa global. Demikian laporan Japan Today, Selasa (11/8/2026).

Peluncuran awalnya direncanakan berlangsung pada Jumat (7/8/2026), tetapi ditunda hingga Senin akibat lintasan topan dan kembali digeser satu hari karena cuaca buruk di sekitar kompleks peluncuran.

Roket sepanjang 57 atau 63 meter itu melesat dari Kompleks Peluncuran Yoshinobu dengan membawa Michibiki-7 yang berbobot sekitar 4,9 ton menuju orbit transfer sebelum satelit menggerakkan sistem propulsinya untuk mencapai orbit operasional.

BACA JUGA:  Garuda Muda Masuk Grup Neraka Piala Asia U-17 2026, Jepang Jadi Lawan Terberat

Manajer Proyek H3 JAXA Makoto Arita mengatakan timnya melakukan berbagai perbaikan dengan tekad mencegah terulangnya kegagalan sehingga misi terbaru dapat dijalankan dengan tingkat keandalan yang lebih tinggi.

JAXA memperkuat sambungan komponen pada bagian dudukan satelit menggunakan metode yang telah teruji setelah investigasi menemukan bahwa proses penyambungan yang bermasalah berkontribusi terhadap kegagalan misi sebelumnya.

Michibiki, “GPS Jepang” yang Melihat dari Atas Negeri

Michibiki-7 merupakan bagian dari Quasi-Zenith Satellite System atau QZSS, jaringan navigasi regional Jepang yang bekerja bersama sistem GPS Amerika Serikat untuk meningkatkan ketersediaan dan ketelitian informasi lokasi.

Nama Michibiki dalam bahasa Jepang berarti “petunjuk” atau “pemandu”, sedangkan sebutan quasi-zenith merujuk pada orbit khusus yang membuat setidaknya satu satelit tampak berada tinggi di langit Jepang dalam waktu lama.

Posisi tinggi tersebut membantu sinyal navigasi menjangkau kawasan perkotaan yang dipenuhi gedung pencakar langit serta daerah pegunungan yang sering menghalangi pancaran satelit berorbit lebih rendah di cakrawala.

BACA JUGA:  Jepang dan Swedia Sama-Sama Lolos 32 Besar Usai Imbang 1-1 di Grup F Piala Dunia 2026

QZSS tidak menggantikan GPS secara langsung dalam seluruh pemakaian, tetapi melengkapi dan memperkuatnya melalui sinyal yang kompatibel serta layanan koreksi untuk memperkecil kesalahan pengukuran posisi.

Dengan layanan koreksi tingkat sentimeter atau Centimeter Level Augmentation Service, sistem ini dapat mendukung pemetaan presisi, survei konstruksi, pertanian pintar, pengoperasian mesin otomatis, logistik, kendaraan otonom, dan berbagai penelitian geospasial.

Ketelitian hingga beberapa sentimeter berbeda dari GPS standar pada telepon pintar yang umumnya menghasilkan akurasi beberapa meter karena QZSS mengirimkan data koreksi atas gangguan orbit, waktu, atmosfer, dan sumber kesalahan lainnya.

Michibiki-7 memiliki rentang sekitar 19 meter ketika panel suryanya dibentangkan serta membawa perangkat untuk mendistribusikan informasi keselamatan dan peringatan bencana kepada terminal yang kompatibel.

Kemampuan penyampaian peringatan tersebut penting bagi Jepang yang rentan terhadap gempa bumi, tsunami, topan, dan tanah longsor karena pesan darurat berbasis satelit tetap dapat menjangkau kawasan ketika jaringan komunikasi darat terganggu.

BACA JUGA:  Daihatsu Perbarui Move Canbus dan Move, Tambah Fitur Keselamatan Smart Assist

Mengejar Kedaulatan Navigasi dan Pasar Peluncuran Dunia

Lima satelit Michibiki telah memberikan layanan sebelum peluncuran terbaru, tetapi kegagalan Michibiki-5 pada Desember 2025 membuat jumlah wahana yang dapat dioperasikan setelah kedatangan Michibiki-7 menjadi enam, bukan tujuh.

Pemerintah Jepang menargetkan konstelasi tujuh satelit agar layanan penentuan posisi regional dapat tersedia secara berkelanjutan tanpa selalu bergantung pada satelit navigasi negara lain, kemudian memperluasnya menjadi 11 wahana untuk meningkatkan ketahanan dan cakupan sistem.

Kemandirian tersebut mempunyai arti strategis karena navigasi satelit kini menjadi infrastruktur penting bagi telekomunikasi, transportasi udara dan laut, transaksi keuangan, sinkronisasi jaringan listrik, respons bencana, pertanian presisi, serta pertahanan nasional.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru