Kurs Rupiah Terus Turun Sejak Maret 2026, Kini Sentuh Rp17.600-an

SulawesiPos.com – Tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih berlanjut pada perdagangan Jumat (15/5/2026).

Mata uang Indonesia bahkan kembali menyentuh level terlemah dalam beberapa pekan terakhir setelah menembus angka Rp17.600 per dolar Amerika Serikat (AS).

Dilansir melalui Google Finance sekitar pukul 13.15 WIB, kurs rupiah tercatat berada di level Rp17.613 per dolar AS.

Berdasarkan pantauan SulawesiPos.com, pergerakan ini memperlihatkan tren pelemahan rupiah yang sudah berlangsung sejak Maret 2026.

Dalam dua terakhir, nilai tukar rupiah terus bergerak turun dari kisaran Rp17.000 per dolar AS hingga kini berada di level Rp17.600-an.

Melemahnya rupiah dipengaruhi sejumlah faktor eksternal, terutama meningkatnya ketidakpastian global akibat situasi geopolitik internasional.

Kondisi tersebut membuat pelaku pasar cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman seperti dolar AS.

Dampaknya, permintaan terhadap mata uang Amerika meningkat dan menekan nilai tukar sejumlah mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Selain faktor global, sentimen pasar terhadap kondisi ekonomi dunia juga dinilai ikut memengaruhi pergerakan kurs dalam beberapa waktu terakhir.

BACA JUGA: 
Breaking! Rupiah Melemah ke Rp17.289 per Dolar AS Pagi Ini

SulawesiPos.com – Tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih berlanjut pada perdagangan Jumat (15/5/2026).

Mata uang Indonesia bahkan kembali menyentuh level terlemah dalam beberapa pekan terakhir setelah menembus angka Rp17.600 per dolar Amerika Serikat (AS).

Dilansir melalui Google Finance sekitar pukul 13.15 WIB, kurs rupiah tercatat berada di level Rp17.613 per dolar AS.

Berdasarkan pantauan SulawesiPos.com, pergerakan ini memperlihatkan tren pelemahan rupiah yang sudah berlangsung sejak Maret 2026.

Dalam dua terakhir, nilai tukar rupiah terus bergerak turun dari kisaran Rp17.000 per dolar AS hingga kini berada di level Rp17.600-an.

Melemahnya rupiah dipengaruhi sejumlah faktor eksternal, terutama meningkatnya ketidakpastian global akibat situasi geopolitik internasional.

Kondisi tersebut membuat pelaku pasar cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman seperti dolar AS.

Dampaknya, permintaan terhadap mata uang Amerika meningkat dan menekan nilai tukar sejumlah mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Selain faktor global, sentimen pasar terhadap kondisi ekonomi dunia juga dinilai ikut memengaruhi pergerakan kurs dalam beberapa waktu terakhir.

BACA JUGA: 
Rupiah Tembus Rp17.500, Pemerintah Siap Bantu BI dengan Intervensi Pasar Obligasi Mulai Besok

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru