SulawesiPos.com – Kasus penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, menjadi sorotan publik.
Peristiwa tersebut memicu berbagai reaksi masyarakat karena riwayat pergerakannya dalam advokasi masyarakat dan kebijakan publik.
Namun, istilah air keras bukanlah hal yang sering didengar di masyarakat. Berikut penjelasan seperti apa itu air keras dan bagaimana mengatasi jika terkena air keras.
Apa Itu Air Keras dan Mengapa Berbahaya?
Air keras merupakan istilah umum untuk bahan kimia yang sangat iritatif, biasanya berupa cairan dengan sifat asam atau basa kuat. Zat ini mampu merusak permukaan yang terkena, termasuk kulit manusia.
Dalam konteks kimia, air keras sering dikaitkan dengan campuran sangat korosif yang dikenal sebagai aqua regia, yaitu kombinasi asam nitrat (HNO₃) dan asam klorida (HCl). Campuran ini bahkan mampu melarutkan logam mulia seperti emas dan platinum.
Karena sifatnya yang sangat korosif, paparan air keras pada tubuh dapat menyebabkan luka bakar kimia serius, kerusakan jaringan, hingga gangguan pernapasan jika uapnya terhirup.
Beberapa bahan yang sering ditemukan di lingkungan sehari-hari dan memiliki sifat serupa antara lain cairan aki dan pemutih pakaian.
Langkah Pertolongan Pertama Saat Terkena Air Keras
Jika seseorang terkena atau disiram air keras, tindakan cepat sangat penting untuk meminimalkan kerusakan jaringan tubuh.
Segera Bilas dengan Air Mengalir
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah tetap tenang dan segera membilas bagian tubuh yang terkena dengan air mengalir selama sekitar 10 hingga 20 menit.
Pembilasan ini bertujuan menurunkan konsentrasi bahan kimia yang menempel pada kulit sekaligus mendinginkan jaringan yang terkena.
Jika tidak tersedia air mengalir, air mineral dalam botol dapat digunakan sebagai alternatif.
Namun perlu diperhatikan bahwa beberapa zat kimia tertentu, seperti fenol atau unsur logam reaktif (misalnya natrium atau kalium), tidak boleh langsung terkena air karena dapat menimbulkan reaksi berbahaya.
Lepaskan Pakaian dan Benda yang Terkontaminasi
Pakaian, perhiasan, atau benda lain yang terpapar air keras sebaiknya segera dilepaskan.
Langkah ini penting agar cairan kimia tidak terus menempel di kulit dan agar proses pembilasan dengan air dapat dilakukan lebih efektif.
Hindari Menggunakan Es atau Salep
Korban biasanya merasakan sensasi panas seperti terbakar pada kulit.
Meski demikian, penggunaan es batu tidak dianjurkan karena dapat memperparah kerusakan jaringan kulit.
Selain itu, hindari juga penggunaan salep antibiotik, krim, atau bahan berminyak seperti mentega karena dapat memperburuk kondisi luka bakar kimia.
Tutup Luka dengan Kasa Steril
Setelah proses pembilasan selesai, bagian tubuh yang terkena sebaiknya ditutup menggunakan kasa steril atau kain bersih secara longgar.
Tujuannya adalah melindungi luka dari kontaminasi tambahan saat korban dibawa menuju fasilitas medis.
Segera Cari Bantuan Medis
Paparan air keras dapat menyebabkan kerusakan permanen pada kulit.
Oleh karena itu, korban perlu segera mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.
Segera pergi ke rumah sakit jika:
• Luka bakar lebih besar dari 5 sentimeter
• Luka berada di wajah, tangan, kaki, pangkal paha, atau bokong
• Luka terjadi di area persendian penting
• Nyeri tidak dapat dikendalikan dengan obat pereda nyeri
• Korban menunjukkan gejala syok seperti sesak napas, pusing, tekanan darah rendah, atau pingsan
Penanganan medis yang cepat sangat penting untuk mencegah komplikasi serius akibat luka bakar kimia.

