WFH hingga Potong Gaji, Ini Deretan Negara yang Ambil Langkah Darurat Akibat Konflik Timur Tengah

SulawesiPos.com – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat-Israel kini mulai berdampak luas, terutama pada sektor energi global.

Ketegangan kawasan meningkat setelah AS dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran pada Sabtu (28/2/2026) yang mengakibatkan pemimpin tertinggi Iran tewas.

Akibatnya, sejak 1 Maret, Iran menutup jalur pelayaran Selat Hormuz, yang menjadi rute vital bagi sekitar 20 juta barel minyak per hari dan 20% perdagangan gas alam cair dunia.

Sejumlah negara di Asia yang paling terdampak akibat penutupan Selat Hormuz mulai menerapkan kebijakan darurat untuk mencegah krisis energi.

Thailand Wajibkan WFH dan Hemat Energi

Pemerintah Thailand mewajibkan pegawai negeri untuk bekerja dari rumah penuh hingga situasi pasokan minyak membaik.

Meski demikian, instansi yang memberikan layanan langsung kepada masyarakat tetap beroperasi normal.

Pemerintah juga menetapkan penghematan energi di kantor, yakni suhu AC diatur maksimal 26-27°C dan pejabat dianjurkan melepas jas saat rapat atau bekerja.

Selain itu, pemerintah juga menganjurkan mematikan lampu dan peralatan listrik saat tidak digunakan, hingga menghindari penggunaan lift dan beralih ke tangga.

Baca Juga: 
Ketegangan di Timur Tengah Meningkat, Komisi VII DPR Ingatkan Pemerintah Soal Pengaruh Penutupan Selat Hormuz Terhadap Ekonomi

Perjalanan dinas dan studi luar negeri ditunda sementara.

Kebijakan ini diumumkan Perdana Menteri sementara Anutin Charnvirakul pada Selasa (10/3/2026), sebagai respons eskalasi konflik Timur Tengah yang mengganggu pasokan energi.

Jika situasi memburuk, pemerintah akan meredupkan papan iklan di toko-toko, bioskop, maupun gedung komersial lainnya, serta menutup SPBU pada pukul 22.00.

Pakistan Tutup Sekolah dan Kurangi Operasional Kantor

Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, mengumumkan langkah penghematan energi pada Senin (9/3/2026).

Seluruh sekolah ditutup selama dua minggu, berdampak pada sekitar 40 juta siswa, dan perguruan tinggi beralih ke kuliah daring.

Kantor pemerintah beroperasi empat hari seminggu, separuh pegawai bekerja dari rumah, sementara jatah bahan bakar kendaraan dinas dipotong 50% selama dua bulan, kecuali untuk ambulans dan bus umum.

Pembelian kendaraan dinas baru ditunda hingga Juni 2026.

Para pejabat juga diminta memotong gaji dan tunjangan sebesar 25 persen, sedangkan acara buka puasa resmi dilarang.

Baca Juga: 
Timur Tengah Bergejolak, BEI Imbau Investor Tetap Rasional dalam Berinvestasi di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global

Selain itu, Pakistan menaikkan harga bensin dan solar sebesar 55 rupee atau sekitar R03.316 per liter, kenaikan terbesar dalam sejarah negara itu, karena hampir seluruh kebutuhan energi bergantung pada impor.

Bangladesh Tutup Universitas dan Batasi Bahan Bakar

Bangladesh menutup seluruh universitas negeri dan swasta, mempercepat libur Idulfitri untuk menghemat energi.

Sekolah dasar dan menengah sudah libur sejak awal Ramadan, sementara sekolah internasional dan pusat bimbingan belajar juga dihentikan sementara.

Negara ini sangat bergantung pada impor energi sebanyak 95%.

Pemerintah memberlakukan pembatasan pembelian bahan bakar sejak Jumat (6/3/2026) yang mengakibatkan panic buying.

Krisis gas memaksa empat dari lima pabrik pupuk negara berhenti beroperasi, sementara sisa pasokan dialihkan ke pembangkit listrik demi menghindari pemadaman massal.

Filipina Kurangi Hari Kerja dan Konsumsi Energi

Pemerintah Filipina menetapkan sistem kerja empat hari seminggu bagi pegawai negeri untuk menekan perjalanan dan kemacetan serta mengurangi konsumsi BBM.

Baca Juga: 
Mojtaba Khamenei Menguat Jadi Kandidat Pengganti Ali Khamenei, Majelis Ahli Hampir Putuskan

Presiden Ferdinand Marcos Jr. memerintahkan pengurangan penggunaan listrik dan bahan bakar hingga 10-20 persen.

Kepolisian mengingatkan masyarakat agar tidak menimbun bahan bakar karena antrean mulai terlihat di SPBU.

Vietnam Dorong WFH dan Hapus Tarif Impor Bahan Bakar

Vietnam mendorong perusahaan agar karyawan bekerja dari rumah untuk menghemat energi, sementara masyarakat diminta tidak menimbun atau berspekulasi soal BBM.

Lonjakan harga cukup drastis, bensin naik 32%, solar 56%, dan minyak tanah 80%.

Sebagai langkah darurat, pada Senin (9/3/2026) pemerintah menghapus tarif impor bahan bakar hingga akhir April 2026.

Perdana Menteri Pham Minh Chinh juga menghubungi para pemimpin Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab untuk memastikan pasokan minyak tetap stabil.

Kebijakan darurat yang diterapkan negara-negara Asia ini menunjukkan bagaimana perang Iran dan AS-Israel memicu dampak ekonomi global.

Dari pengurangan jam kerja, WFH, hingga pembatasan energi, langkah-langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas negara dan mencegah krisis energi yang lebih parah.

SulawesiPos.com – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat-Israel kini mulai berdampak luas, terutama pada sektor energi global.

Ketegangan kawasan meningkat setelah AS dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran pada Sabtu (28/2/2026) yang mengakibatkan pemimpin tertinggi Iran tewas.

Akibatnya, sejak 1 Maret, Iran menutup jalur pelayaran Selat Hormuz, yang menjadi rute vital bagi sekitar 20 juta barel minyak per hari dan 20% perdagangan gas alam cair dunia.

Sejumlah negara di Asia yang paling terdampak akibat penutupan Selat Hormuz mulai menerapkan kebijakan darurat untuk mencegah krisis energi.

Thailand Wajibkan WFH dan Hemat Energi

Pemerintah Thailand mewajibkan pegawai negeri untuk bekerja dari rumah penuh hingga situasi pasokan minyak membaik.

Meski demikian, instansi yang memberikan layanan langsung kepada masyarakat tetap beroperasi normal.

Pemerintah juga menetapkan penghematan energi di kantor, yakni suhu AC diatur maksimal 26-27°C dan pejabat dianjurkan melepas jas saat rapat atau bekerja.

Selain itu, pemerintah juga menganjurkan mematikan lampu dan peralatan listrik saat tidak digunakan, hingga menghindari penggunaan lift dan beralih ke tangga.

Baca Juga: 
Imbas Konflik AS-Israel dan Iran, Empat Kapal Pertamina Terjebak di Timur Tengah

Perjalanan dinas dan studi luar negeri ditunda sementara.

Kebijakan ini diumumkan Perdana Menteri sementara Anutin Charnvirakul pada Selasa (10/3/2026), sebagai respons eskalasi konflik Timur Tengah yang mengganggu pasokan energi.

Jika situasi memburuk, pemerintah akan meredupkan papan iklan di toko-toko, bioskop, maupun gedung komersial lainnya, serta menutup SPBU pada pukul 22.00.

Pakistan Tutup Sekolah dan Kurangi Operasional Kantor

Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, mengumumkan langkah penghematan energi pada Senin (9/3/2026).

Seluruh sekolah ditutup selama dua minggu, berdampak pada sekitar 40 juta siswa, dan perguruan tinggi beralih ke kuliah daring.

Kantor pemerintah beroperasi empat hari seminggu, separuh pegawai bekerja dari rumah, sementara jatah bahan bakar kendaraan dinas dipotong 50% selama dua bulan, kecuali untuk ambulans dan bus umum.

Pembelian kendaraan dinas baru ditunda hingga Juni 2026.

Para pejabat juga diminta memotong gaji dan tunjangan sebesar 25 persen, sedangkan acara buka puasa resmi dilarang.

Baca Juga: 
Jusuf Kalla: Jangan Netral, Indonesia Harus Tegas Berada di Pihak Iran

Selain itu, Pakistan menaikkan harga bensin dan solar sebesar 55 rupee atau sekitar R03.316 per liter, kenaikan terbesar dalam sejarah negara itu, karena hampir seluruh kebutuhan energi bergantung pada impor.

Bangladesh Tutup Universitas dan Batasi Bahan Bakar

Bangladesh menutup seluruh universitas negeri dan swasta, mempercepat libur Idulfitri untuk menghemat energi.

Sekolah dasar dan menengah sudah libur sejak awal Ramadan, sementara sekolah internasional dan pusat bimbingan belajar juga dihentikan sementara.

Negara ini sangat bergantung pada impor energi sebanyak 95%.

Pemerintah memberlakukan pembatasan pembelian bahan bakar sejak Jumat (6/3/2026) yang mengakibatkan panic buying.

Krisis gas memaksa empat dari lima pabrik pupuk negara berhenti beroperasi, sementara sisa pasokan dialihkan ke pembangkit listrik demi menghindari pemadaman massal.

Filipina Kurangi Hari Kerja dan Konsumsi Energi

Pemerintah Filipina menetapkan sistem kerja empat hari seminggu bagi pegawai negeri untuk menekan perjalanan dan kemacetan serta mengurangi konsumsi BBM.

Baca Juga: 
Prabowo dan Pemimpin Pakistan Direncanakan ke Teheran, Upaya Redam Konflik Timur Tengah

Presiden Ferdinand Marcos Jr. memerintahkan pengurangan penggunaan listrik dan bahan bakar hingga 10-20 persen.

Kepolisian mengingatkan masyarakat agar tidak menimbun bahan bakar karena antrean mulai terlihat di SPBU.

Vietnam Dorong WFH dan Hapus Tarif Impor Bahan Bakar

Vietnam mendorong perusahaan agar karyawan bekerja dari rumah untuk menghemat energi, sementara masyarakat diminta tidak menimbun atau berspekulasi soal BBM.

Lonjakan harga cukup drastis, bensin naik 32%, solar 56%, dan minyak tanah 80%.

Sebagai langkah darurat, pada Senin (9/3/2026) pemerintah menghapus tarif impor bahan bakar hingga akhir April 2026.

Perdana Menteri Pham Minh Chinh juga menghubungi para pemimpin Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab untuk memastikan pasokan minyak tetap stabil.

Kebijakan darurat yang diterapkan negara-negara Asia ini menunjukkan bagaimana perang Iran dan AS-Israel memicu dampak ekonomi global.

Dari pengurangan jam kerja, WFH, hingga pembatasan energi, langkah-langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas negara dan mencegah krisis energi yang lebih parah.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru