29 C
Makassar
5 March 2026, 18:45 PM WITA

Pupuk Indonesia Siapkan Mitigasi Dampak Konflik Timur Tengah, Stok Bahan Baku Aman 6 Bulan

SulawesiPos.com – Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran akhir pekan lalu memicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Menyikapi hal ini, PT Pupuk Indonesia (Persero) menyiapkan langkah-langkah mitigasi untuk menjaga pasokan pupuk nasional.

Sekretaris Perusahaan Pupuk Indonesia, Yehezkiel Adiperwira, menyoroti kemungkinan kenaikan biaya pengiriman bahan baku serta dampak terhadap pasokan pupuk akibat eskalasi konflik dan penutupan Selat Hormuz yang memicu harga minyak meningkat.

Beberapa bahan baku pupuk NPK, seperti Fosfat (P) dan Kalium (K), masih harus diimpor karena tidak tersedia di dalam negeri.

Yehezkiel menjelaskan Fosfat berasal dari Maroko, Tunisia, dan Aljazair, sedangkan Kalium diperoleh dari Kanada dan Laos, yang tidak terdampak langsung konflik.

Sementara itu, bahan baku Sulfur banyak berasal dari Uni Emirat Arab, Qatar, dan Kuwait, sehingga pasokannya dapat terpengaruh ketegangan di Timur Tengah. Namun, pasokan bahan baku ini juga bisa diperoleh dari negara lain seperti Kanada.

Yehezkiel menegaskan, hingga kini stok Fosfat, Kalium, dan Sulfur masih aman untuk kebutuhan produksi selama enam bulan ke depan.

“Sebagai produsen pupuk, komitmen kami adalah mengutamakan ketersediaan pasokan dan keterjangkauan harga pupuk, terutama bagi petani di dalam negeri,” ujarnya.

Untuk pupuk Urea, Pupuk Indonesia relatif mandiri karena bahan bakunya berupa gas bumi yang tersedia dalam negeri dan harganya diatur pemerintah melalui kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT).

Yehezkiel menyampaikan apresiasi terhadap kebijakan HGBT karena menjaga keberlanjutan produksi dan keterjangkauan pupuk.

Selain itu, Pupuk Indonesia menyesuaikan pengadaan batubara melalui pembelian langsung untuk menjaga kelancaran operasional.

Batubara menyumbang sekitar 20% dari total energi perusahaan, sementara sisanya dipenuhi dari pembangkit berbasis gas bumi. Upaya efisiensi energi dan pemanfaatan energi ramah lingkungan, termasuk PLTS, dilakukan sebagai bagian dari dekarbonisasi.

Secara operasional, perusahaan juga meningkatkan efisiensi dan optimalisasi penggunaan bahan baku melalui program revitalisasi pabrik sesuai Perpres Nomor 113 Tahun 2025, yang memungkinkan peningkatan output dengan penggunaan bahan baku lebih hemat.

Yehezkiel menambahkan, dukungan pemerintah melalui modernisasi industri pupuk nasional dan mekanisme pembayaran sebagian subsidi di muka semakin memperkuat prospek industri pupuk serta memberikan ruang untuk investasi dan peningkatan efisiensi.

SulawesiPos.com – Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran akhir pekan lalu memicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Menyikapi hal ini, PT Pupuk Indonesia (Persero) menyiapkan langkah-langkah mitigasi untuk menjaga pasokan pupuk nasional.

Sekretaris Perusahaan Pupuk Indonesia, Yehezkiel Adiperwira, menyoroti kemungkinan kenaikan biaya pengiriman bahan baku serta dampak terhadap pasokan pupuk akibat eskalasi konflik dan penutupan Selat Hormuz yang memicu harga minyak meningkat.

Beberapa bahan baku pupuk NPK, seperti Fosfat (P) dan Kalium (K), masih harus diimpor karena tidak tersedia di dalam negeri.

Yehezkiel menjelaskan Fosfat berasal dari Maroko, Tunisia, dan Aljazair, sedangkan Kalium diperoleh dari Kanada dan Laos, yang tidak terdampak langsung konflik.

Sementara itu, bahan baku Sulfur banyak berasal dari Uni Emirat Arab, Qatar, dan Kuwait, sehingga pasokannya dapat terpengaruh ketegangan di Timur Tengah. Namun, pasokan bahan baku ini juga bisa diperoleh dari negara lain seperti Kanada.

Yehezkiel menegaskan, hingga kini stok Fosfat, Kalium, dan Sulfur masih aman untuk kebutuhan produksi selama enam bulan ke depan.

“Sebagai produsen pupuk, komitmen kami adalah mengutamakan ketersediaan pasokan dan keterjangkauan harga pupuk, terutama bagi petani di dalam negeri,” ujarnya.

Untuk pupuk Urea, Pupuk Indonesia relatif mandiri karena bahan bakunya berupa gas bumi yang tersedia dalam negeri dan harganya diatur pemerintah melalui kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT).

Yehezkiel menyampaikan apresiasi terhadap kebijakan HGBT karena menjaga keberlanjutan produksi dan keterjangkauan pupuk.

Selain itu, Pupuk Indonesia menyesuaikan pengadaan batubara melalui pembelian langsung untuk menjaga kelancaran operasional.

Batubara menyumbang sekitar 20% dari total energi perusahaan, sementara sisanya dipenuhi dari pembangkit berbasis gas bumi. Upaya efisiensi energi dan pemanfaatan energi ramah lingkungan, termasuk PLTS, dilakukan sebagai bagian dari dekarbonisasi.

Secara operasional, perusahaan juga meningkatkan efisiensi dan optimalisasi penggunaan bahan baku melalui program revitalisasi pabrik sesuai Perpres Nomor 113 Tahun 2025, yang memungkinkan peningkatan output dengan penggunaan bahan baku lebih hemat.

Yehezkiel menambahkan, dukungan pemerintah melalui modernisasi industri pupuk nasional dan mekanisme pembayaran sebagian subsidi di muka semakin memperkuat prospek industri pupuk serta memberikan ruang untuk investasi dan peningkatan efisiensi.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/