SulawesiPos.com – Dg Tumang, perempuan lanjut usia berusia 73 tahun yang sempat viral karena tinggal di sebuah toilet di Dusun Baliangngan, Desa Ulujangan, Kecamatan Bontolempangan, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, kini telah dibawa ke panti jompo Tresna Werdha Gau Mabaji, Kabupaten Gowa.
Pemindahan tersebut dilakukan setelah pemerintah desa berkoordinasi dengan Dinas Sosial dan pemerintah kecamatan menyusul terungkapnya kondisi tempat tinggal lansia tersebut yang memprihatinkan.
Kasus Dg Tumang menjadi perhatian publik setelah fotonya beredar di media sosial. Dalam unggahan tersebut, ia disebut tidak lagi memiliki rumah dan terpaksa menjadikan toilet sebagai tempat tinggal.
Staf Desa Ulujangan, Kahar Daeng Ngalli, mengatakan pemerintah desa telah berupaya mencari solusi setelah mengetahui kondisi warganya tersebut.
Dg Tumang akhirnya mendapatkan penanganan dari Dinas Sosial, termasuk bantuan untuk memenuhi kebutuhannya selama berada di panti.
“Alhamdulillah, sudah ditangani sama Dinas Sosial dan sekarang sudah di panti jompo. Bantuan juga sudah dibawa ke panti,” jelas Kahar kepada wartawan, Rabu (4/11/2026).
Bukan Tidak Punya Keluarga, Ini Alasan Dg Tumang Tinggal di Toilet
Di balik kondisi yang viral tersebut, Kahar menjelaskan bahwa Dg Tumang sebenarnya masih memiliki keluarga dan kerabat yang tinggal tidak jauh dari lokasi tempatnya ditemukan.
Ia membenarkan bahwa perempuan tersebut pernah menjual rumah miliknya untuk membiayai pernikahan cucunya.
Setelah itu, ia sempat tinggal bersama keluarga, tetapi hubungan dengan menantu dan besannya tidak berjalan baik.
“Dia jual rumahnya, dia pernah tinggal di rumahnya anaknya, tapi tidak baku angkur sama menantu dan besannya,” kata Kahar.
Dg Tumang kemudian kembali ke kampung halamannya tanpa memiliki rumah sendiri. Ia sempat tinggal di sekitar rumah kerabatnya yang berada tidak jauh dari toilet tempatnya menetap.
Namun, persoalan tempat tinggal bukan satu-satunya kendala. Kahar menyebut Dg Tumang kerap meninggalkan rumah kerabatnya pada malam hari karena merasa ketakutan ketika berada di dalam rumah.
“Kalau tinggal di rumah saudaranya, kalau tengah malam biasa keluar. Perasaannya selalu ada yang mau datang, ada yang mau bunuh. Makanya dia keluar, dia cari tempat yang sempit-sempit,” jelasnya.
Kebetulan, terdapat sebuah toilet di depan rumah keponakannya. Lokasi yang berada di lingkungan permukiman dan dekat dengan aktivitas warga itu kemudian dipilih Dg Tumang sebagai tempat berlindung karena dianggap lebih nyaman.
Kahar menegaskan, kondisi tersebut tidak serta-merta berarti Dg Tumang tidak memiliki keluarga yang peduli.
Sejumlah kerabat masih berada di sekitarnya dan selama ini membantu memenuhi kebutuhan sehari-harinya, termasuk makanan.
“Intinya, bukan berarti dia tidak punya keluarga. Ada saudaranya, cucu, cucu keponakannya, sekeluarganya juga ada di situ,” tuturnya.
Kahar juga mengungkapkan bahwa anak Dg Tumang saat ini berada di Malaysia untuk merantau.
Sebelumnya, lansia tersebut pernah tinggal bersama cucunya di Kabupaten Maros, tetapi tidak bertahan lama sebelum akhirnya kembali ke kampung halaman.
Ia juga menyebut Dg Tumang tercatat sebagai penerima bantuan sosial pemerintah, termasuk melalui Program Keluarga Harapan (PKH).
Meski demikian, Kahar mengakui pemerintah desa terlambat mengetahui bahwa warganya tersebut sampai harus tinggal di toilet.
Tidak adanya laporan dari keluarga disebut menjadi salah satu penyebab kondisi itu tidak segera diketahui.
“Kami juga mengakui ada kesalahan dari pemerintah karena lambat mengetahui kalau ada warga kami yang sudah tinggal di WC. Karena tidak ada juga laporan dari keluarganya ke pemerintah setempat,” sebutnya.
Setelah kondisi tersebut diketahui, pemerintah desa mulai menjalin komunikasi dengan pemerintah kecamatan dan Dinas Sosial untuk menentukan langkah penanganan.
“Makanya kami diam-diam jalan, komunikasi sama dinas-dinas sosial, bersama Pak Camat dan pemerintah lainnya, bagaimana baiknya,” katanya.
Kahar menambahkan, pemerintah desa sebenarnya sempat mempertimbangkan pembangunan rumah sederhana untuk Dg Tumang. Namun, rencana itu terkendala karena lansia tersebut sudah tidak memiliki tanah sendiri.
Selain persoalan lahan, penempatan rumah di lokasi yang jauh dari keramaian juga dinilai belum tentu menjadi solusi. Sebab, Dg Tumang selama ini cenderung mencari tempat yang dekat dengan aktivitas warga.


