Bupati Bone Bidik Model Peternakan Bangli, Siapkan Hilirisasi Ayam Terintegrasi

SulawesiPos.com – Pemerintah Kabupaten Bone terus mencari model terbaik untuk mengembangkan sektor peternakan berbasis hilirisasi. Hal itu dilakukan Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M., melalui kunjungan kerja ke Kelompok Ternak Dana Mertha Mesari dan Kelompok Tani Gopawinangon di Desa Kayubihi, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, Bali, Sabtu (22/8/2026).

Kunjungan tersebut menjadi bagian dari studi tiru Pemkab Bone untuk melihat langsung penerapan Hilirisasi Ayam Terintegrasi (HAT), mulai dari budidaya, penyediaan pakan, produksi telur hingga pemasaran hasil ternak.

Salah satu kelompok penerima manfaat program HAT di Bangli diketahui mengelola sekitar 600 ekor ayam dengan tingkat produksi telur mencapai sekitar 80 persen.

Hasil produksi kemudian disalurkan untuk memenuhi kebutuhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) serta pasar desa.

Bupati Bone Andi Asman Sulaiman mengatakan, kunjungan tersebut memberikan gambaran nyata mengenai bagaimana peternakan dikelola secara berkelompok sehingga mampu memberikan nilai tambah dan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

BACA JUGA:  Gebyar Kemerdekaan HUT RI Dinas Pertanian Bone Meriah, Lomba Cipta Menu Libatkan BPP hingga Kelompok Tani

“Terima kasih sudah menyambut kami dengan baik. Kami di Kabupaten Bone sedang bersiap mengembangkan Hilirisasi Ayam Terintegrasi,” ujar Andi Asman.

Menurutnya, Bone memiliki modal besar untuk mengembangkan program tersebut karena memiliki potensi produksi pertanian, khususnya padi dan jagung, yang cukup besar.

“Kami di Bone memiliki produksi padi dan jagung yang besar, dan saat ini produksi ayam juga sedang menjadi tren. Potensi ini yang ingin kami integrasikan,” katanya.

Konsep tersebut, lanjutnya, diharapkan mampu menciptakan sebuah ekosistem peternakan yang tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga memperkuat rantai usaha dari hulu hingga hilir.

Dari Pakan hingga Pasar

Kepala BPTU-HPT Denpasar drh. I Gusti Putu Ngurah Raka menjelaskan, kelompok yang dikunjungi merupakan salah satu penerima manfaat program HAT.

Menurutnya, pola pengembangan secara berkelompok menjadi contoh bahwa usaha peternakan dapat dikelola secara lebih terarah dengan dukungan produksi yang berkelanjutan serta pasar yang jelas.

Sementara itu, Anggota Komisi IV DPR RI I Nyoman Adi Wiryatama turut hadir dalam kegiatan tersebut. Mantan Bupati Tabanan dua periode dan mantan Ketua DPRD Bali dua periode itu mengaku memiliki perhatian besar terhadap sektor pertanian dan peternakan karena berasal dari keluarga petani.

BACA JUGA:  Irigasi Perpipaan Modern Segera Dibangun, 3.400 Hektare Sawah di Tiga Desa Bone Bakal Dialiri

“Saya mantan Bupati Tabanan dua periode, Ketua DPRD Bali dua periode. Saya anak petani dan saya suka beternak. Saya juga memiliki ratusan ternak,” ungkapnya.

Dalam kesempatan itu, I Nyoman juga memaparkan sejumlah inovasi yang dikembangkannya, termasuk penggunaan mikroba untuk membantu mengendalikan lalat di lingkungan peternakan.

Ia juga menyinggung hubungan historis antara Bali dan Bone yang telah terjalin sejak masa kerajaan. Menurutnya, hubungan tersebut menjadi modal sosial yang baik untuk memperkuat kerja sama dan pertukaran pengalaman antardaerah.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Ditjen PKH Kementerian Pertanian Dr. drh. I Ketut Wirata, M.Si., Kepala Balai Besar Veteriner Denpasar Dr. drh. I Gde Eka Budhiyadnya, M.P., Kepala BPTU-HPT Denpasar drh. I Gusti Putu Ngurah Raka, General Manager Corporate Secretary & CSR PT Berdikari A.S. Hasbi Al Islahi, Ketua Kelompok Tani Wanita, serta jajaran terkait lainnya.

Melalui studi tiru tersebut, Pemkab Bone diharapkan memperoleh referensi konkret untuk membangun ekosistem Hilirisasi Ayam Terintegrasi di daerah.

BACA JUGA:  Mutasi Besar di Bone, Evaluasi Kinerja Pejabat Libatkan Tim Independen

Konsep yang ingin dikembangkan mencakup penyediaan pakan berbasis potensi lokal, budidaya ayam, produksi telur, pengelolaan hasil ternak hingga memastikan adanya pasar yang mampu menyerap produksi.

Dengan demikian, potensi padi dan jagung Bone tidak hanya berhenti sebagai komoditas pertanian, tetapi dapat diintegrasikan dengan sektor peternakan untuk menciptakan nilai tambah dan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Bagi Pemkab Bone, pengembangan HAT menjadi bagian dari upaya mendorong sektor pertanian dan peternakan agar semakin produktif, terintegrasi, dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. (kar)

SulawesiPos.com – Pemerintah Kabupaten Bone terus mencari model terbaik untuk mengembangkan sektor peternakan berbasis hilirisasi. Hal itu dilakukan Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M., melalui kunjungan kerja ke Kelompok Ternak Dana Mertha Mesari dan Kelompok Tani Gopawinangon di Desa Kayubihi, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, Bali, Sabtu (22/8/2026).

Kunjungan tersebut menjadi bagian dari studi tiru Pemkab Bone untuk melihat langsung penerapan Hilirisasi Ayam Terintegrasi (HAT), mulai dari budidaya, penyediaan pakan, produksi telur hingga pemasaran hasil ternak.

Salah satu kelompok penerima manfaat program HAT di Bangli diketahui mengelola sekitar 600 ekor ayam dengan tingkat produksi telur mencapai sekitar 80 persen.

Hasil produksi kemudian disalurkan untuk memenuhi kebutuhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) serta pasar desa.

Bupati Bone Andi Asman Sulaiman mengatakan, kunjungan tersebut memberikan gambaran nyata mengenai bagaimana peternakan dikelola secara berkelompok sehingga mampu memberikan nilai tambah dan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

BACA JUGA:  Rakor GTRA Bone 2026 Digelar, Bupati Ajak Semua Pihak Bersinergi Wujudkan Keadilan Agraria

“Terima kasih sudah menyambut kami dengan baik. Kami di Kabupaten Bone sedang bersiap mengembangkan Hilirisasi Ayam Terintegrasi,” ujar Andi Asman.

Menurutnya, Bone memiliki modal besar untuk mengembangkan program tersebut karena memiliki potensi produksi pertanian, khususnya padi dan jagung, yang cukup besar.

“Kami di Bone memiliki produksi padi dan jagung yang besar, dan saat ini produksi ayam juga sedang menjadi tren. Potensi ini yang ingin kami integrasikan,” katanya.

Konsep tersebut, lanjutnya, diharapkan mampu menciptakan sebuah ekosistem peternakan yang tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga memperkuat rantai usaha dari hulu hingga hilir.

Dari Pakan hingga Pasar

Kepala BPTU-HPT Denpasar drh. I Gusti Putu Ngurah Raka menjelaskan, kelompok yang dikunjungi merupakan salah satu penerima manfaat program HAT.

Menurutnya, pola pengembangan secara berkelompok menjadi contoh bahwa usaha peternakan dapat dikelola secara lebih terarah dengan dukungan produksi yang berkelanjutan serta pasar yang jelas.

Sementara itu, Anggota Komisi IV DPR RI I Nyoman Adi Wiryatama turut hadir dalam kegiatan tersebut. Mantan Bupati Tabanan dua periode dan mantan Ketua DPRD Bali dua periode itu mengaku memiliki perhatian besar terhadap sektor pertanian dan peternakan karena berasal dari keluarga petani.

BACA JUGA:  Tak Ingin Ada Anak Bone Tertinggal, Bupati AAS Datangi Sekolah Terluar dan Hadiahkan Sepatu

“Saya mantan Bupati Tabanan dua periode, Ketua DPRD Bali dua periode. Saya anak petani dan saya suka beternak. Saya juga memiliki ratusan ternak,” ungkapnya.

Dalam kesempatan itu, I Nyoman juga memaparkan sejumlah inovasi yang dikembangkannya, termasuk penggunaan mikroba untuk membantu mengendalikan lalat di lingkungan peternakan.

Ia juga menyinggung hubungan historis antara Bali dan Bone yang telah terjalin sejak masa kerajaan. Menurutnya, hubungan tersebut menjadi modal sosial yang baik untuk memperkuat kerja sama dan pertukaran pengalaman antardaerah.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Ditjen PKH Kementerian Pertanian Dr. drh. I Ketut Wirata, M.Si., Kepala Balai Besar Veteriner Denpasar Dr. drh. I Gde Eka Budhiyadnya, M.P., Kepala BPTU-HPT Denpasar drh. I Gusti Putu Ngurah Raka, General Manager Corporate Secretary & CSR PT Berdikari A.S. Hasbi Al Islahi, Ketua Kelompok Tani Wanita, serta jajaran terkait lainnya.

Melalui studi tiru tersebut, Pemkab Bone diharapkan memperoleh referensi konkret untuk membangun ekosistem Hilirisasi Ayam Terintegrasi di daerah.

BACA JUGA:  Bupati Bone Hadiri Latihan Penanggulangan Bencana, Pangdam XIV/Hasanuddin Tegaskan Komitmen TNI Bantu Masyarakat

Konsep yang ingin dikembangkan mencakup penyediaan pakan berbasis potensi lokal, budidaya ayam, produksi telur, pengelolaan hasil ternak hingga memastikan adanya pasar yang mampu menyerap produksi.

Dengan demikian, potensi padi dan jagung Bone tidak hanya berhenti sebagai komoditas pertanian, tetapi dapat diintegrasikan dengan sektor peternakan untuk menciptakan nilai tambah dan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Bagi Pemkab Bone, pengembangan HAT menjadi bagian dari upaya mendorong sektor pertanian dan peternakan agar semakin produktif, terintegrasi, dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. (kar)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru