Tradisi HUT RI di Bawakaraeng Diikuti Ribuan Pendaki, Basarnas Siagakan 295 Personel

SulawesiPos.com – Tradisi komunitas pencinta alam memperingati HUT ke-81 RI di Gunung Bawakaraeng, Kabupaten Gowa, kembali menyedot ribuan pendaki pada libur 15-18 Agustus 2026. Hingga Senin (17/8/2026) sore, Tim Siaga SAR Khusus Merah Putih mencatat jumlah pendaki yang melakukan registrasi melonjak menjadi 3.786 orang, sementara Basarnas Makassar bersama tim gabungan menyiagakan 295 personel untuk mengawal kegiatan pengibaran Merah Putih dan arus turun pendaki.

Fenomena peringatan kemerdekaan di Bawakaraeng telah berlangsung sejak puluhan tahun lalu. Sebagian pendaki menggelar pengibaran bendera di puncak gunung, sedangkan sebagian lainnya memilih upacara di Lembah Ramma di kaki Gunung Bawakaraeng.

Tradisi serupa juga dikenal di sejumlah gunung favorit pendaki di Indonesia, seperti Gunung Rinjani di Lombok dan Gunung Semeru di Jawa Timur.

Di Bawakaraeng, peserta bukan hanya berasal dari komunitas pencinta alam kampus, tetapi juga kelompok pemuda dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan hingga pehobi hiking yang memanfaatkan libur panjang untuk mendaki gunung setinggi 2.830 mdpl itu.

BACA JUGA:  Wali Kota Makassar Appi Larang Eksploitasi Anak di Panggung Hiburan HUT RI

Arus Pendaki Padati Empat Jalur

Berdasarkan data pos siaga, 3.786 pendaki itu tersebar di empat jalur utama, yakni Pos Registrasi Bulu Balea sebanyak 2.033 orang, Tassoso 1.081 orang, Kanreapia 422 orang, dan Lembanna 250 orang. Kepadatan di seluruh jalur ini terus diantisipasi tim gabungan untuk menyesuaikan dengan dinamika medan di lapangan.

Siaga SAR Khusus Merah Putih berlangsung pada 15-18 Agustus 2026 dengan melibatkan unsur Basarnas, komunitas SAR, relawan, hingga tenaga medis. Personel ditempatkan di delapan titik strategis, yakni Posko Lembanna, Posko Aju Bulu Balea, Pos 5, Pos 7, Pos 8 jalur Lembanna, puncak Gunung Bawakaraeng, Lembah Ramma, dan jalur Tassoso.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar, Muhammad Arif Anwar, mengatakan siaga khusus ini menjadi bentuk kesiapsiagaan untuk memastikan kegiatan masyarakat berlangsung aman sekaligus memberi respons cepat saat kondisi darurat muncul.

“Kami menempatkan personel di sejumlah titik untuk memastikan pendaki mendapatkan rasa aman selama berada di jalur. Prinsip kami jelas, ketika masyarakat membutuhkan pertolongan, kami harus hadir dan memberikan respons secepat mungkin,” ujar Arif.

BACA JUGA:  Warga dan TNI AD Tata Saluran Air di Desa Manjalling Gowa Guna Antisipasi Banjir

Ia mengimbau pendaki tidak memaksakan diri saat kondisi tubuh mulai terganggu. Cuaca, suhu dingin, kelelahan, dan kepadatan jalur disebut menjadi faktor yang harus diperhatikan selama perjalanan.

“Kami mengimbau seluruh pendaki untuk mempersiapkan diri dengan baik, membawa perlengkapan sesuai kebutuhan, menjaga kondisi fisik, dan tidak memaksakan diri jika tubuh mulai mengalami gangguan. Keselamatan harus menjadi prioritas utama. Jangan sampai semangat mengibarkan Merah Putih justru mengabaikan keselamatan diri,” tegasnya.

Menurut pehobi mountaineering Makassar, Arman Tahir, masalah yang dialami sejumlah pendaki kerap berawal dari persiapan fisik, mental, perlengkapan, dan logistik yang kurang matang.

Ia menilai latihan kardio beberapa pekan sebelum pendakian, penggunaan sepatu trekking dengan grip yang baik, pakaian berlapis, serta cadangan air dan makanan berkalori tinggi penting dipenuhi sebelum naik gunung.

Basarnas Makassar memastikan siaga khusus tetap berjalan hingga berakhirnya periode pengamanan pada Selasa, 18 Agustus 2026. Tim SAR gabungan akan terus memantau sejumlah titik dan siap memberikan pertolongan sewaktu-waktu dibutuhkan.

BACA JUGA:  5 Gunung Favorit di Sulsel dengan Pemandangan Juara

SulawesiPos.com – Tradisi komunitas pencinta alam memperingati HUT ke-81 RI di Gunung Bawakaraeng, Kabupaten Gowa, kembali menyedot ribuan pendaki pada libur 15-18 Agustus 2026. Hingga Senin (17/8/2026) sore, Tim Siaga SAR Khusus Merah Putih mencatat jumlah pendaki yang melakukan registrasi melonjak menjadi 3.786 orang, sementara Basarnas Makassar bersama tim gabungan menyiagakan 295 personel untuk mengawal kegiatan pengibaran Merah Putih dan arus turun pendaki.

Fenomena peringatan kemerdekaan di Bawakaraeng telah berlangsung sejak puluhan tahun lalu. Sebagian pendaki menggelar pengibaran bendera di puncak gunung, sedangkan sebagian lainnya memilih upacara di Lembah Ramma di kaki Gunung Bawakaraeng.

Tradisi serupa juga dikenal di sejumlah gunung favorit pendaki di Indonesia, seperti Gunung Rinjani di Lombok dan Gunung Semeru di Jawa Timur.

Di Bawakaraeng, peserta bukan hanya berasal dari komunitas pencinta alam kampus, tetapi juga kelompok pemuda dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan hingga pehobi hiking yang memanfaatkan libur panjang untuk mendaki gunung setinggi 2.830 mdpl itu.

BACA JUGA:  Penjual Ikan Keliling Tewas Bersimbah Darah di Gowa, Pelaku Serahkan Diri ke Polisi

Arus Pendaki Padati Empat Jalur

Berdasarkan data pos siaga, 3.786 pendaki itu tersebar di empat jalur utama, yakni Pos Registrasi Bulu Balea sebanyak 2.033 orang, Tassoso 1.081 orang, Kanreapia 422 orang, dan Lembanna 250 orang. Kepadatan di seluruh jalur ini terus diantisipasi tim gabungan untuk menyesuaikan dengan dinamika medan di lapangan.

Siaga SAR Khusus Merah Putih berlangsung pada 15-18 Agustus 2026 dengan melibatkan unsur Basarnas, komunitas SAR, relawan, hingga tenaga medis. Personel ditempatkan di delapan titik strategis, yakni Posko Lembanna, Posko Aju Bulu Balea, Pos 5, Pos 7, Pos 8 jalur Lembanna, puncak Gunung Bawakaraeng, Lembah Ramma, dan jalur Tassoso.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar, Muhammad Arif Anwar, mengatakan siaga khusus ini menjadi bentuk kesiapsiagaan untuk memastikan kegiatan masyarakat berlangsung aman sekaligus memberi respons cepat saat kondisi darurat muncul.

“Kami menempatkan personel di sejumlah titik untuk memastikan pendaki mendapatkan rasa aman selama berada di jalur. Prinsip kami jelas, ketika masyarakat membutuhkan pertolongan, kami harus hadir dan memberikan respons secepat mungkin,” ujar Arif.

BACA JUGA:  Tim SAR Evakuasi 31 Pendaki yang Merayakan HUT RI di Gunung Bawakaraeng

Ia mengimbau pendaki tidak memaksakan diri saat kondisi tubuh mulai terganggu. Cuaca, suhu dingin, kelelahan, dan kepadatan jalur disebut menjadi faktor yang harus diperhatikan selama perjalanan.

“Kami mengimbau seluruh pendaki untuk mempersiapkan diri dengan baik, membawa perlengkapan sesuai kebutuhan, menjaga kondisi fisik, dan tidak memaksakan diri jika tubuh mulai mengalami gangguan. Keselamatan harus menjadi prioritas utama. Jangan sampai semangat mengibarkan Merah Putih justru mengabaikan keselamatan diri,” tegasnya.

Menurut pehobi mountaineering Makassar, Arman Tahir, masalah yang dialami sejumlah pendaki kerap berawal dari persiapan fisik, mental, perlengkapan, dan logistik yang kurang matang.

Ia menilai latihan kardio beberapa pekan sebelum pendakian, penggunaan sepatu trekking dengan grip yang baik, pakaian berlapis, serta cadangan air dan makanan berkalori tinggi penting dipenuhi sebelum naik gunung.

Basarnas Makassar memastikan siaga khusus tetap berjalan hingga berakhirnya periode pengamanan pada Selasa, 18 Agustus 2026. Tim SAR gabungan akan terus memantau sejumlah titik dan siap memberikan pertolongan sewaktu-waktu dibutuhkan.

BACA JUGA:  Pencarian 16 Korban KM Nurul Salsa Difokuskan ke Sabalana Pangkep, Jalur ke NTB Ikut Dipantau

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru