Dari ketimpangan itulah muncul sinisme di kalangan bumiputera di luar kompleks terhadap kelompok pribumi yang dianggap hidup, bergaya, dan mengabdi seperti orang Belanda.
Dalam konteks itulah sebutan “Londo Ireng” dikenal dalam memori sosial kolonial.
Anwar (2023) juga menggambarkan bahwa lingkungan Ambon Kamp berkembang dalam ekosistem yang kuat dipengaruhi budaya Barat.
Pengaruh itu terlihat pada cara berpakaian, penggunaan bahasa Belanda, hingga orientasi keagamaan Kristen yang menonjol di tengah komunitas tersebut.
Tegang Setelah Revolusi
Sesudah Perang Dunia II, Ambon Kamp tidak hanya menyisakan jejak tata kota, tetapi juga ketegangan politik.
Catatan Poelinggomang (2016) mengenai sejarah lokal Makassar menunjukkan bahwa pada periode 1946-1950, kawasan itu sempat berada dalam suasana tegang ketika kelompok pemuda republikan Makassar berhadapan dengan sisa pasukan KNIL asal Maluku yang masih loyal kepada Belanda pada masa pembentukan Negara Indonesia Timur.
Meski begitu, catatan sejarah tidak menunjukkan gambaran tunggal. Maniagasi (2018) juga menyinggung adanya tokoh-tokoh asal Maluku di Makassar yang berbalik mendukung Republik Indonesia dan ikut melawan agresi militer Belanda.
Karena itu, istilah “Londo Ireng” dalam konteks sejarah lebih dekat dibaca sebagai produk politik kolonial dan relasi sosial yang timpang, bukan label yang dapat disamaratakan kepada seluruh kelompok etnis tertentu.
Ramainya lagi istilah tersebut dalam polemik politik masa kini membuat Ambon Kamp kembali relevan dibaca sebagai bagian dari sejarah Kota Makassar.
Kawasan yang dulu berupa kamp militer dan permukiman khusus itu kini telah melebur menjadi lingkungan heterogen, tetapi jejak segregasi kolonial, status sosial, dan ketegangan politiknya masih dapat ditelusuri melalui sejarah ruang kota.

