Pengamat Nilai Formatur Golkar Sulsel Hadapi Tantangan Padukan Senioritas IAS dan Generasi Muda

SulawesiPos.com – Tim formatur DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan (Sulsel) yang dipimpin Ilham Arief Sirajuddin selaku Ketua DPD I Golkar Sulsel, dinilai menghadapi tantangan besar dalam menyusun komposisi kepengurusan baru yang solid sekaligus adaptif terhadap perubahan demografi pemilih menuju Pemilu 2029. Pengamat Politik UIN Alauddin Makassar, Reskiyanti Nurdin, menilai tantangan itu terletak pada upaya memadukan senioritas Ilham Arief Sirajuddin atau IAS dengan kebutuhan menghadirkan lebih banyak figur muda di struktur partai.

Menurut Reskiyanti, kebutuhan memperbesar porsi kalangan muda di tubuh kepengurusan Golkar Sulsel menjadi rasional karena Pemilu 2029 diproyeksikan makin didominasi pemilih dari Generasi Milenial dan Generasi Z. Di sisi lain, IAS sebagai ketua terpilih berada pada kelompok usia senior sehingga formatur dituntut mampu menyusun struktur yang menjembatani pengalaman politik dan tuntutan perubahan zaman.

Ia menjelaskan tuntutan menghadirkan lebih banyak figur muda dapat dibaca melalui konsep keterwakilan deskriptif dalam teori representasi. Dalam pendekatan ini, struktur politik dinilai perlu merefleksikan karakteristik demografis konstituennya, termasuk dari sisi usia.

BACA JUGA:  Pantauan Udara Hari Pertama Tahun Baru 2026, Kota Makassar Masih Lengang

“Sosok IAS dengan jam terbang dan kematangan berpolitiknya memberikan garansi stabilitas dan navigasi taktis bagi partai. Namun, untuk menjangkau pemilih muda yang jumlahnya sangat masif, partai membutuhkan figur-figur pengurus yang memiliki kesamaan identitas, gaya komunikasi, dan pemahaman isu dengan kelompok milenial dan Gen Z,” ujar Reskiyanti dalam analisisnya, Selasa, 28 Juli 2026.

Pengurus Muda Dinilai Jadi Jembatan ke Pemilih 2029

Menurut Magister Politik jebolan UGM ini, kehadiran mayoritas pengurus muda bukan sekadar pelengkap dalam struktur partai. Ia menilai komposisi seperti itu dapat menjadi instrumen penting untuk menerjemahkan program partai agar lebih relevan dan mudah diterima pemilih pemula maupun pemilih muda.

Dalam analisisnya, ia juga menyoroti bahwa komposisi pengurus akan sangat memengaruhi preferensi pemilih. Pendekatan sosiologis dan psikologis dalam perilaku memilih, kata dia, menunjukkan bahwa pemilih cenderung lebih dekat dengan kandidat atau partai yang memiliki kesamaan identitas serta kedekatan psikologis.

Reskiyanti menyebut generasi milenial dan Gen Z cenderung memiliki preferensi politik yang pragmatis, berbasis isu, dan sangat dipengaruhi persepsi kedekatan dengan figur politik. Jika Golkar Sulsel gagal menampilkan wajah muda yang representatif di jajaran elite daerahnya, partai disebut berisiko mengalami keterasingan dari basis pemilih terbesar pada 2029.

BACA JUGA:  Lokasi Nobar Favorit Final Piala Dunia 2026 Favorit di Makassar, dari TVRI hingga Warkop Daeng Anas

“Sebaliknya, pengurus muda dapat bertindak sebagai jembatan yang menerjemahkan visi politik IAS ke dalam bahasa dan medium yang mudah dicerna oleh generasi digital,” katanya.

Formatur Juga Diuji Redam Faksionalisme

Selain soal demografi, Reskiyanti menilai tim formatur juga memikul pekerjaan rumah besar dalam konsolidasi internal partai. Momentum penyusunan pengurus baru disebut bisa menjadi titik awal untuk meredam faksionalisme yang selama ini kerap mengganggu soliditas partai.

Ia menyoroti perlunya melebur dikotomi antara orang lama dan orang baru ke dalam struktur yang akomodatif namun tetap meritokratis. Menurut dia, mengakomodasi figur-figur muda dari berbagai faksi dapat menjadi jalan tengah untuk mendinginkan ketegangan internal.

“Anak-anak muda yang masuk ke dalam struktur umumnya lebih berorientasi pada gagasan dan kolaborasi masa depan dibandingkan mewarisi konflik masa lalu para seniornya,” ujar Reskiyanti.

Ia menambahkan, kepiawaian IAS sebagai ketua formatur kini sedang diuji melalui kemampuannya meracik komposisi pengurus yang tidak hanya kompeten, tetapi juga mampu melebur batas-batas faksi internal. Jika itu tercapai, Golkar Sulsel dinilai berpeluang tampil lebih solid dan modern dalam menghadapi pertarungan elektoral 2029.

BACA JUGA:  20 Motor Knalpot Brong Terjaring Razia di Manggala, Polisi Tegaskan Tak Ada Toleransi

SulawesiPos.com – Tim formatur DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan (Sulsel) yang dipimpin Ilham Arief Sirajuddin selaku Ketua DPD I Golkar Sulsel, dinilai menghadapi tantangan besar dalam menyusun komposisi kepengurusan baru yang solid sekaligus adaptif terhadap perubahan demografi pemilih menuju Pemilu 2029. Pengamat Politik UIN Alauddin Makassar, Reskiyanti Nurdin, menilai tantangan itu terletak pada upaya memadukan senioritas Ilham Arief Sirajuddin atau IAS dengan kebutuhan menghadirkan lebih banyak figur muda di struktur partai.

Menurut Reskiyanti, kebutuhan memperbesar porsi kalangan muda di tubuh kepengurusan Golkar Sulsel menjadi rasional karena Pemilu 2029 diproyeksikan makin didominasi pemilih dari Generasi Milenial dan Generasi Z. Di sisi lain, IAS sebagai ketua terpilih berada pada kelompok usia senior sehingga formatur dituntut mampu menyusun struktur yang menjembatani pengalaman politik dan tuntutan perubahan zaman.

Ia menjelaskan tuntutan menghadirkan lebih banyak figur muda dapat dibaca melalui konsep keterwakilan deskriptif dalam teori representasi. Dalam pendekatan ini, struktur politik dinilai perlu merefleksikan karakteristik demografis konstituennya, termasuk dari sisi usia.

BACA JUGA:  Dua Penjual Sate Diamankan Polisi Usai Diduga Lecehkan Siswi SMP, Sempat Diamuk Warga di Makassar

“Sosok IAS dengan jam terbang dan kematangan berpolitiknya memberikan garansi stabilitas dan navigasi taktis bagi partai. Namun, untuk menjangkau pemilih muda yang jumlahnya sangat masif, partai membutuhkan figur-figur pengurus yang memiliki kesamaan identitas, gaya komunikasi, dan pemahaman isu dengan kelompok milenial dan Gen Z,” ujar Reskiyanti dalam analisisnya, Selasa, 28 Juli 2026.

Pengurus Muda Dinilai Jadi Jembatan ke Pemilih 2029

Menurut Magister Politik jebolan UGM ini, kehadiran mayoritas pengurus muda bukan sekadar pelengkap dalam struktur partai. Ia menilai komposisi seperti itu dapat menjadi instrumen penting untuk menerjemahkan program partai agar lebih relevan dan mudah diterima pemilih pemula maupun pemilih muda.

Dalam analisisnya, ia juga menyoroti bahwa komposisi pengurus akan sangat memengaruhi preferensi pemilih. Pendekatan sosiologis dan psikologis dalam perilaku memilih, kata dia, menunjukkan bahwa pemilih cenderung lebih dekat dengan kandidat atau partai yang memiliki kesamaan identitas serta kedekatan psikologis.

Reskiyanti menyebut generasi milenial dan Gen Z cenderung memiliki preferensi politik yang pragmatis, berbasis isu, dan sangat dipengaruhi persepsi kedekatan dengan figur politik. Jika Golkar Sulsel gagal menampilkan wajah muda yang representatif di jajaran elite daerahnya, partai disebut berisiko mengalami keterasingan dari basis pemilih terbesar pada 2029.

BACA JUGA:  Arena Judi Sabung Ayam di Makassar Disebut Dekat Rumah Tahfiz dan Masjid, Warga Resah

“Sebaliknya, pengurus muda dapat bertindak sebagai jembatan yang menerjemahkan visi politik IAS ke dalam bahasa dan medium yang mudah dicerna oleh generasi digital,” katanya.

Formatur Juga Diuji Redam Faksionalisme

Selain soal demografi, Reskiyanti menilai tim formatur juga memikul pekerjaan rumah besar dalam konsolidasi internal partai. Momentum penyusunan pengurus baru disebut bisa menjadi titik awal untuk meredam faksionalisme yang selama ini kerap mengganggu soliditas partai.

Ia menyoroti perlunya melebur dikotomi antara orang lama dan orang baru ke dalam struktur yang akomodatif namun tetap meritokratis. Menurut dia, mengakomodasi figur-figur muda dari berbagai faksi dapat menjadi jalan tengah untuk mendinginkan ketegangan internal.

“Anak-anak muda yang masuk ke dalam struktur umumnya lebih berorientasi pada gagasan dan kolaborasi masa depan dibandingkan mewarisi konflik masa lalu para seniornya,” ujar Reskiyanti.

Ia menambahkan, kepiawaian IAS sebagai ketua formatur kini sedang diuji melalui kemampuannya meracik komposisi pengurus yang tidak hanya kompeten, tetapi juga mampu melebur batas-batas faksi internal. Jika itu tercapai, Golkar Sulsel dinilai berpeluang tampil lebih solid dan modern dalam menghadapi pertarungan elektoral 2029.

BACA JUGA:  Sampah dan Botol Miras Berserakan, Area Bawah Tol Pettarani Kini Bersih

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru