SulawesiPos.com – Warga Desa Masserempulu, Kecamatan Sibulue, Kabupaten Bone, akhirnya menangkap seekor buaya betina di Sungai Padio yang terhubung dengan aliran Sungai Maspul, Senin (13/7/2026), setelah satwa itu berbulan-bulan meresahkan aktivitas masyarakat. Meski begitu, warga belum sepenuhnya lega karena pasangan jantannya yang diperkirakan sepanjang hampir empat meter disebut masih berkeliaran di aliran sungai tersebut.
Suasana di tepian sungai mendadak tegang ketika kabar bahwa umpan yang dipasang warga akhirnya disambar menyebar cepat dari mulut ke mulut. Puluhan warga berlarian menuju bibir sungai untuk menyaksikan proses penangkapan.
Di tengah arus yang tenang, buaya betina itu meronta saat dua mata kail besar menancap di mulutnya. Tali yang dipegang warga menegang, sementara teriakan aba-aba bersahutan saat satwa liar itu perlahan ditarik ke tepian.
Penangkapan itu mengakhiri penantian panjang warga Masserempulu yang selama ini hidup berdampingan dengan ancaman buaya di Sungai Padio.
Sungai yang menjadi jalur menuju sawah, tempat mencari ikan, hingga lokasi anak-anak bermain, berubah menjadi kawasan yang dihindari karena kemunculan satwa tersebut.
Setelah perjuangan cukup lama, buaya sepanjang hampir empat meter dengan bobot diperkirakan mencapai 100 kilogram itu akhirnya berhasil dikuasai. Tubuhnya diikat kuat, lalu diseret menyusuri sungai sekitar 400 meter hingga mencapai jalan tani.
Sembilan warga kemudian bergotong royong mengangkat tubuh buaya ke atas mobil bak terbuka. Sorak lega pecah ketika kendaraan mulai bergerak meninggalkan lokasi menuju Dusun Batue.
Namun rasa lega itu belum sepenuhnya menghapus kekhawatiran warga. Buaya yang tertangkap disebut hanya seekor betina, sedangkan pasangan jantannya masih kerap muncul di aliran Sungai Maspul.
Kepala Desa Masserempulu, Najazaimul, menegaskan kemunculan buaya di Sungai Padio bukan kejadian baru. “Buaya ini memang sudah lama muncul. Warga sering melihatnya di sungai sehingga aktivitas masyarakat menjadi terganggu,” ujarnya, Selasa (14/7/2026).
Ia mengaku warga masih berada di lokasi untuk memburu buaya jantan. Pancing telah dipasang di sejumlah titik, sementara warga siaga jika umpan kembali disambar.
Najazaimul menjelaskan Sungai Padio di Desa Masserempulu masih terhubung dengan aliran sungai menuju Desa Tunreng Tellue. Warga menduga kedua buaya itu berasal dari kawasan muara sebelum akhirnya menetap di bagian sungai yang lebih dalam.
Menurut dia, pemerintah desa sebenarnya sudah beberapa kali menyampaikan laporan kepada instansi terkait. Namun karena belum ada penanganan, warga akhirnya berinisiatif menangkap sendiri menggunakan pancing berkail besar dengan umpan seekor burung.
Umpan itu kemudian disambar dan dalam hitungan detik dua mata kail mengunci mulut buaya hingga warga beramai-ramai melakukan evakuasi. Setelah tiba di rumah salah seorang warga bernama Jumadil, mata kail yang melukai mulut buaya dilepaskan.
Saat ini buaya betina tersebut masih berada di lokasi sambil menunggu proses evakuasi oleh instansi berwenang. Di saat bersamaan, pemerintah desa tetap mengingatkan warga agar tidak lengah.
“Yang tertangkap ini betina. Pasangan jantannya masih ada dan sering juga muncul di sungai. Kami berharap segera ada penanganan agar tidak membahayakan masyarakat,” kata Najazaimul.
Warga setempat, Jumadil, juga mengaku rasa waswas belum hilang meski seekor buaya sudah berhasil diamankan.
“Kami memang sudah lama takut karena buaya itu sering muncul. Alhamdulillah sekarang sudah tertangkap. Tapi kami masih tetap waspada karena katanya masih ada satu lagi buaya jantan yang sering muncul,” tuturnya. (kar)


