IAS Klaim Kantongi 25 Suara dari Total 30 Suara Musda Setelah Ambil Formulir Calon Ketua Golkar Sulsel

SulawesiPos.com Ilham Arief Sirajuddin atau IAS mengambil formulir calon Ketua DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan melalui putranya, Amirul Yamin Ramadhansyah, pada Senin, 13 Juli 2026, di Kantor DPD I Partai Golkar Sulsel, Kota Makassar. Langkah itu datang di tengah klaim IAS yang menyebut dirinya telah mengantongi 25 dari total 30 suara menjelang Musyawarah Daerah (Musda) XI Golkar Sulsel.

Pengambilan formulir ini menambah lapis baru dalam manuver politik IAS. Setelah beberapa pekan terakhir berbicara soal peta dukungan, kubu mantan Wali Kota Makassar dua periode itu kini juga mulai menuntaskan tahapan administratif pencalonan menjelang forum Musda yang dijadwalkan berlangsung pada 18 Juli 2026 di Makassar.

Jika angka 25 suara itu bertahan hingga forum Musda digelar, IAS praktis berada di atas ambang aman untuk mengunci pertarungan.

Dalam konfigurasi 30 pemilik suara, angka tersebut bukan hanya cukup untuk meloloskan pencalonan, tetapi juga membuka ruang lebar bagi skenario aklamasi bila tidak terjadi perubahan sikap pada menit-menit akhir.

BACA JUGA:  Aliyah Mustika Ilham Dikabarkan Mundur dari Demokrat, Pengurus DPC Makassar Sebut Statusnya Masih Menggantung

Momentum IAS memang terus menanjak dalam beberapa pekan terakhir. Setelah memperoleh surat diskresi dari Ketua Umum DPP Partai Golkar Bahlil Lahadalia pada 24 Juni 2026, ruang politik IAS yang semula sempit langsung terbuka. Dari titik itu, konsolidasi bergerak cepat, mula-mula lewat dukungan DPD II, lalu disusul organisasi sayap dan unsur hasta karya.

Sebelumnya, dukungan terbuka kepada IAS sudah datang dari SOKSI dan AMPG Sulsel. Ketua Depidar SOKSI Sulsel Andi Patarai Amir menilai dukungan itu diberikan karena IAS dianggap punya pengalaman memimpin Golkar Sulsel.

Di kubu AMPG, Sekretaris AMPG Sulsel Zulham Arief juga menyebut diskresi dari DPP sebagai penegasan arah restu politik pusat kepada IAS.

Tambahan dukungan dari elemen-elemen non-DPD II itu menjadi penting karena struktur pemilik suara Musda Golkar Sulsel memang tidak hanya bertumpu pada 24 DPD II kabupaten/kota.

Selain DPD II, ada juga suara dari DPP, DPD I, Dewan Pertimbangan, organisasi sayap, serta unsur organisasi pendiri dan yang didirikan. Karena itu, setiap perpindahan dukungan dari sayap maupun hasta karya bisa langsung mengubah lanskap persaingan.

BACA JUGA:  IAS Gelar Konsolidasi Perdana, Klaim Kantongi Dukungan 18 DPD II untuk Musda Golkar Sulsel

Di sisi lain, klaim 25 suara ini juga memperlihatkan betapa cepat peta politik internal Golkar Sulsel berubah. Pada akhir Juni, IAS baru mengklaim menguasai 15 dukungan DPD II.

Bahkan saat itu kubu Munafri Arifuddin alias Appi masih menyatakan 21 DPD II tetap solid di barisannya. Namun, dalam hitungan pekan, arah dukungan disebut berbalik dan kini justru menempatkan IAS di posisi dominan.

Langkah pengambilan formulir melalui Amirul Yamin Ramadhansyah membuat manuver IAS tak lagi berhenti pada klaim dukungan semata. Menjelang pembukaan Musda, peta persaingan kini juga memperlihatkan kubu IAS mulai memadukan konsolidasi suara dengan pemenuhan tahapan formal pencalonan.

SulawesiPos.com Ilham Arief Sirajuddin atau IAS mengambil formulir calon Ketua DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan melalui putranya, Amirul Yamin Ramadhansyah, pada Senin, 13 Juli 2026, di Kantor DPD I Partai Golkar Sulsel, Kota Makassar. Langkah itu datang di tengah klaim IAS yang menyebut dirinya telah mengantongi 25 dari total 30 suara menjelang Musyawarah Daerah (Musda) XI Golkar Sulsel.

Pengambilan formulir ini menambah lapis baru dalam manuver politik IAS. Setelah beberapa pekan terakhir berbicara soal peta dukungan, kubu mantan Wali Kota Makassar dua periode itu kini juga mulai menuntaskan tahapan administratif pencalonan menjelang forum Musda yang dijadwalkan berlangsung pada 18 Juli 2026 di Makassar.

Jika angka 25 suara itu bertahan hingga forum Musda digelar, IAS praktis berada di atas ambang aman untuk mengunci pertarungan.

Dalam konfigurasi 30 pemilik suara, angka tersebut bukan hanya cukup untuk meloloskan pencalonan, tetapi juga membuka ruang lebar bagi skenario aklamasi bila tidak terjadi perubahan sikap pada menit-menit akhir.

BACA JUGA:  Musda Golkar Sulsel Ditunda, Plt Ketua Pilih Keliling 24 Daerah Dulu

Momentum IAS memang terus menanjak dalam beberapa pekan terakhir. Setelah memperoleh surat diskresi dari Ketua Umum DPP Partai Golkar Bahlil Lahadalia pada 24 Juni 2026, ruang politik IAS yang semula sempit langsung terbuka. Dari titik itu, konsolidasi bergerak cepat, mula-mula lewat dukungan DPD II, lalu disusul organisasi sayap dan unsur hasta karya.

Sebelumnya, dukungan terbuka kepada IAS sudah datang dari SOKSI dan AMPG Sulsel. Ketua Depidar SOKSI Sulsel Andi Patarai Amir menilai dukungan itu diberikan karena IAS dianggap punya pengalaman memimpin Golkar Sulsel.

Di kubu AMPG, Sekretaris AMPG Sulsel Zulham Arief juga menyebut diskresi dari DPP sebagai penegasan arah restu politik pusat kepada IAS.

Tambahan dukungan dari elemen-elemen non-DPD II itu menjadi penting karena struktur pemilik suara Musda Golkar Sulsel memang tidak hanya bertumpu pada 24 DPD II kabupaten/kota.

Selain DPD II, ada juga suara dari DPP, DPD I, Dewan Pertimbangan, organisasi sayap, serta unsur organisasi pendiri dan yang didirikan. Karena itu, setiap perpindahan dukungan dari sayap maupun hasta karya bisa langsung mengubah lanskap persaingan.

BACA JUGA:  IAS Gelar Konsolidasi Perdana, Klaim Kantongi Dukungan 18 DPD II untuk Musda Golkar Sulsel

Di sisi lain, klaim 25 suara ini juga memperlihatkan betapa cepat peta politik internal Golkar Sulsel berubah. Pada akhir Juni, IAS baru mengklaim menguasai 15 dukungan DPD II.

Bahkan saat itu kubu Munafri Arifuddin alias Appi masih menyatakan 21 DPD II tetap solid di barisannya. Namun, dalam hitungan pekan, arah dukungan disebut berbalik dan kini justru menempatkan IAS di posisi dominan.

Langkah pengambilan formulir melalui Amirul Yamin Ramadhansyah membuat manuver IAS tak lagi berhenti pada klaim dukungan semata. Menjelang pembukaan Musda, peta persaingan kini juga memperlihatkan kubu IAS mulai memadukan konsolidasi suara dengan pemenuhan tahapan formal pencalonan.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru