SulawesiPos.com – Aturan baru VAR yang mulai dipakai di Piala Dunia 2026 bukan berarti wasit kini bebas meninjau semua pelanggaran yang terlihat meragukan, melainkan hanya membuka ruang koreksi untuk beberapa situasi spesifik yang dinilai bisa mengubah jalannya pertandingan, terutama kartu yang salah diberikan kepada pemain, kartu merah yang lahir dari second yellow yang jelas keliru, dan pada kompetisi tertentu corner kick yang jelas salah.
Berdasarkan perubahan resmi Laws of the Game 2026/2027 yang diumumkan International Football Association Board atau IFAB, VAR kini boleh membantu wasit dalam dua tambahan utama terkait disiplin pemain. Pertama, saat lahir kartu merah dari second yellow yang ternyata jelas salah. Kedua, saat wasit memberi kartu kuning atau merah kepada pemain yang salah, termasuk jika pelanggaran sebenarnya dilakukan pemain dari tim lawan.
Artinya, yang ditinjau bukan seluruh jenis duel 50:50 atau kontak ringan yang memicu perdebatan, melainkan identitas pelaku dan dampak kartu yang bisa mengubah pertandingan. IFAB juga memberi opsi tambahan bagi kompetisi untuk meninjau corner kick yang jelas salah, asalkan koreksinya bisa dilakukan seketika tanpa menunda restart.
Bukan Semua Foul Bisa Dicek Ulang
Penjelasan resmi IFAB menegaskan bahwa pelanggaran itu sendiri tidak otomatis dibuka ulang hanya karena dianggap meragukan. Dalam konteks mistaken identity, VAR dipakai untuk memastikan siapa pelaku yang benar jika wasit sudah menghukum insiden dengan kartu, bukan untuk mengubah semua keputusan foul biasa menjadi review panjang.
Karena itu, anggapan bahwa aturan baru ini memberi kewenangan kepada wasit meninjau semua pelanggaran yang meragukan tidak sepenuhnya tepat. Ruang intervensi tetap dibatasi, tetapi kini lebih luas dibanding protokol lama yang tidak membuka review untuk kartu merah akibat second yellow dan tidak mengizinkan koreksi kartu kuning atau merah yang salah sasaran terhadap pemain dari tim lawan.
Sudah Dipakai di Laga Mana Saja?
Sejauh yang terdokumentasi luas dalam laporan resmi dan media arus utama selama Piala Dunia 2026, aturan baru ini sudah tampak dipakai setidaknya dalam dua pertandingan besar.
Kasus pertama terjadi pada laga Amerika Serikat melawan Paraguay pada fase grup, 12 Juni 2026 di Inglewood. Dalam insiden itu, bek AS Tim Ream semula mendapat kartu kuning setelah dianggap menjatuhkan Miguel Almiron. Namun, tinjauan VAR membatalkan kartu untuk Ream dan mengalihkannya kepada Almiron karena dinilai justru melakukan simulasi. Sejumlah laporan menyebut momen ini sebagai penggunaan perdana mekanisme mistaken identity di Piala Dunia 2026.
Kasus kedua, dan yang paling memicu kontroversi, terjadi pada perempat final Argentina vs Swiss pada Sabtu, 11 Juli 2026 waktu setempat atau Minggu, 12 Juli 2026 Wita. Saat itu Leandro Paredes semula dikartu kuning setelah duel dengan Breel Embolo. Setelah review VAR, keputusan dibalik: kartu untuk Paredes dicabut, lalu Embolo justru diberi kartu kuning karena dianggap lebih dulu menjatuhkan diri. Karena Embolo sebelumnya sudah mengantongi kartu kuning, keputusan itu berubah menjadi kartu merah dan membuat Swiss bermain dengan 10 orang.
Insiden Embolo itulah yang kemudian membuat aturan baru VAR disorot luas. Bukan hanya karena Swiss tersingkir 1-3 dari Argentina, tetapi juga karena publik melihat secara langsung bagaimana koreksi identitas pelaku melalui VAR bisa berujung pada kartu merah dalam laga fase gugur yang sangat menentukan.
Dengan demikian, aturan baru VAR yang sekarang ramai dibicarakan bukan aturan untuk meninjau semua pelanggaran yang tampak meragukan, melainkan protokol terbatas untuk memperbaiki keputusan yang sangat spesifik namun berpotensi mengubah hasil pertandingan. Di Piala Dunia 2026, penerapannya paling jelas terlihat pada laga AS vs Paraguay dan Argentina vs Swiss.


