Survei SMRC: Kepuasan Publik pada Kinerja Presiden Prabowo Anjlok Jadi 45 Persen

SulawesiPos.com — Tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto mengalami penurunan tajam. Berdasarkan hasil survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) bertajuk “Kinerja Dua Tahun Presiden Prabowo”, tingkat kepuasan publik anjlok dari 81,2 persen pada November 2025 menjadi 44,5 persen pada Oktober 2026.

Sebaliknya, persentase masyarakat yang merasa kurang atau tidak puas meningkat pesat dari 16 persen menjadi 53,4 persen pada periode yang sama. Temuan ini disampaikan oleh Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, dalam siaran pers dan presentasi di kanal YouTube SMRC TV, Jumat (16/10/2026).

Faktor Penyebab Penurunan

Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, menjelaskan bahwa kepuasan publik pada Oktober 2026 ini merupakan capaian terendah sepanjang masa pemerintahan Presiden Prabowo. Penilaian negatif publik terutama terdorong oleh memburuknya persepsi masyarakat terhadap kondisi makro ekonomi, politik, dan penegakan hukum nasional.

“Penurunan tajam kepuasan pada presiden ini berhubungan dengan penilaian atas kondisi makro ekonomi, politik, dan penegakan hukum yang memburuk,” kata Deni Irvani. “Ini juga konsisten dengan penilaian negatif warga atas kerja pemerintah menangani masalah-masalah mendesak, serta buruknya penilaian warga terhadap program unggulan pemerintah, MBG dan KDMP,” lanjutnya.

BACA JUGA:  Hadiah Hari Buruh 2026: Presiden Prabowo Batasi Potongan Aplikator Ojol Maksimal 8 Persen

Saat ini, sebanyak 50,8 persen responden menilai kondisi ekonomi nasional dalam keadaan buruk atau sangat buruk, naik drastis dari 22,7 persen pada November 2025. Selain itu, penilaian buruk terhadap kondisi politik nasional meningkat dari 23 persen menjadi 44,1 persen, sedangkan persepsi negatif atas penegakan hukum naik dari 25,7 persen menjadi 40,6 persen.

Sorotan pada Program Unggulan dan Masalah Mendesak

Dua program unggulan pemerintah juga menuai kritik publik. Sebanyak 61,4 persen warga menyatakan kurang atau tidak puas terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sementara itu, 71 persen warga merasa kurang atau tidak yakin bahwa Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) di daerah mereka akan dapat berkembang atau maju.

“MBG dan KDMP adalah program unggulan pemerintah,” tegas Deni. “Buruknya penilaian warga atas kedua program ini ikut menjelaskan menurunnya kepuasan publik pada kinerja Presiden Prabowo,” tambahnya.

Terkait dengan persoalan paling mendesak yang dihadapi masyarakat, tingginya harga kebutuhan pokok menjadi perhatian terbesar (30 persen), disusul pemberantasan KKN (26,8 persen), dan pengurangan kemiskinan (14,7 persen). Mayoritas publik (50,6 persen) menganggap kinerja pemerintah dalam mengendalikan harga bahan pokok justru semakin buruk dibanding tahun lalu.

BACA JUGA:  Kunjungan di Gowa, Menko Pangan Zulhas Pastikan Program MBG Tak Dihentikan Saat Ramadan

“Rendahnya kepuasan publik pada kinerja Presiden Prabowo konsisten dengan penilaian yang negatif atas kerja pemerintah menangani masalah-masalah yang paling dirasakan warga: harga kebutuhan pokok, korupsi uang negara, dan kemiskinan,” ungkap Deni.

Metodologi Survei

Survei SMRC ini diselenggarakan pada rentang waktu 1 hingga 10 Oktober 2026 dengan melibatkan total 1.213 responden yang merupakan warga negara Indonesia berkategori pemilih (berusia 17 tahun ke atas atau sudah menikah).

Pengambilan sampel dilakukan melalui dua metode: double sampling secara acak melalui telepon untuk 1.013 responden pemilik ponsel, serta stratified multistage random sampling melalui wawancara tatap muka untuk 200 responden non-pemilik ponsel. Margin of error survei diperkirakan sebesar ±2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

 

SulawesiPos.com — Tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto mengalami penurunan tajam. Berdasarkan hasil survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) bertajuk “Kinerja Dua Tahun Presiden Prabowo”, tingkat kepuasan publik anjlok dari 81,2 persen pada November 2025 menjadi 44,5 persen pada Oktober 2026.

Sebaliknya, persentase masyarakat yang merasa kurang atau tidak puas meningkat pesat dari 16 persen menjadi 53,4 persen pada periode yang sama. Temuan ini disampaikan oleh Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, dalam siaran pers dan presentasi di kanal YouTube SMRC TV, Jumat (16/10/2026).

Faktor Penyebab Penurunan

Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, menjelaskan bahwa kepuasan publik pada Oktober 2026 ini merupakan capaian terendah sepanjang masa pemerintahan Presiden Prabowo. Penilaian negatif publik terutama terdorong oleh memburuknya persepsi masyarakat terhadap kondisi makro ekonomi, politik, dan penegakan hukum nasional.

“Penurunan tajam kepuasan pada presiden ini berhubungan dengan penilaian atas kondisi makro ekonomi, politik, dan penegakan hukum yang memburuk,” kata Deni Irvani. “Ini juga konsisten dengan penilaian negatif warga atas kerja pemerintah menangani masalah-masalah mendesak, serta buruknya penilaian warga terhadap program unggulan pemerintah, MBG dan KDMP,” lanjutnya.

BACA JUGA:  Pemerintah Perketat Tata Kelola MBG usai 3.615 Aduan dan Ribuan SPPG Bermasalah

Saat ini, sebanyak 50,8 persen responden menilai kondisi ekonomi nasional dalam keadaan buruk atau sangat buruk, naik drastis dari 22,7 persen pada November 2025. Selain itu, penilaian buruk terhadap kondisi politik nasional meningkat dari 23 persen menjadi 44,1 persen, sedangkan persepsi negatif atas penegakan hukum naik dari 25,7 persen menjadi 40,6 persen.

Sorotan pada Program Unggulan dan Masalah Mendesak

Dua program unggulan pemerintah juga menuai kritik publik. Sebanyak 61,4 persen warga menyatakan kurang atau tidak puas terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sementara itu, 71 persen warga merasa kurang atau tidak yakin bahwa Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) di daerah mereka akan dapat berkembang atau maju.

“MBG dan KDMP adalah program unggulan pemerintah,” tegas Deni. “Buruknya penilaian warga atas kedua program ini ikut menjelaskan menurunnya kepuasan publik pada kinerja Presiden Prabowo,” tambahnya.

Terkait dengan persoalan paling mendesak yang dihadapi masyarakat, tingginya harga kebutuhan pokok menjadi perhatian terbesar (30 persen), disusul pemberantasan KKN (26,8 persen), dan pengurangan kemiskinan (14,7 persen). Mayoritas publik (50,6 persen) menganggap kinerja pemerintah dalam mengendalikan harga bahan pokok justru semakin buruk dibanding tahun lalu.

BACA JUGA:  Resmikan Sekolah Rakyat di Tabanan, Presiden Prabowo: Pendidikan Jadi Fondasi Kesejahteraan Rakyat

“Rendahnya kepuasan publik pada kinerja Presiden Prabowo konsisten dengan penilaian yang negatif atas kerja pemerintah menangani masalah-masalah yang paling dirasakan warga: harga kebutuhan pokok, korupsi uang negara, dan kemiskinan,” ungkap Deni.

Metodologi Survei

Survei SMRC ini diselenggarakan pada rentang waktu 1 hingga 10 Oktober 2026 dengan melibatkan total 1.213 responden yang merupakan warga negara Indonesia berkategori pemilih (berusia 17 tahun ke atas atau sudah menikah).

Pengambilan sampel dilakukan melalui dua metode: double sampling secara acak melalui telepon untuk 1.013 responden pemilik ponsel, serta stratified multistage random sampling melalui wawancara tatap muka untuk 200 responden non-pemilik ponsel. Margin of error survei diperkirakan sebesar ±2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

 

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru