Akademisi: Kunjungan Presiden ke Gudang Bulog Danurejo, Magelang sebagai Konfirmasi Sistem Pangan Nasional Bekerja Efektif

SulawesiPos.com, Jakarta — Akademisi Pertanian dari IPB University, Prima Gandhi menilai dalam perspektif teori sistem pangan nasional, kunjungan Presiden ke gudang Bulog Danurejo, Magelang, Jawa Tengah (18/4) mengonfirmasi bahwa berbagai elemen sistem seperti produksi di hulu, penyerapan oleh negara, hingga buffer stok di gudang berjalan secara terkoordinasi sebagai satu kesatuan.

Kondisi gudang yang penuh menunjukkan bahwa surplus produksi tidak terbuang atau menghancurkan harga di tingkat petani, tetapi terkonversi menjadi cadangan strategis yang menjaga ketersediaan dan stabilitas pasokan bagi konsumen.

Menurutnya, kunjungan tersebut penting karena memperlihatkan keterhubungan antara produksi di hulu, penyerapan oleh negara, hingga penguatan cadangan sebagai buffer nasional.

Dalam konteks ini, kondisi gudang yang penuh bukan hanya menggambarkan ketersediaan stok, tetapi juga menjadi indikator bahwa kebijakan serapan berjalan optimal saat produksi meningkat.

“Kalau dilihat dari kacamata sistem, kunjungan ini mengonfirmasi bahwa siklus produksi, penyerapan, dan penguatan cadangan berjalan dalam satu mekanisme yang utuh. Gudang yang penuh menunjukkan bahwa produksi tidak hanya tinggi, tetapi juga terserap dengan baik,” ujar Prima Gandhi.

BACA JUGA: 
Kementan Uji B50 untuk Alsintan, Bioreaktor Biodiesel Disiapkan

Ia menjelaskan, dalam ekonomi pangan, stabilitas tidak hanya ditentukan oleh besarnya produksi, tetapi oleh kemampuan negara mengelola surplus agar tidak menekan harga di tingkat petani sekaligus tetap menjaga pasokan bagi konsumen.

Dalam hal ini, peran Bulog sebagai instrumen penyangga dinilai berjalan sesuai fungsinya.

Dalam kerangka teori rantai pasok pangan, hal ini menegaskan bahwa infrastruktur penyangga seperti Bulog berperan sebagai inventory safeguard yang menyerap fluktuasi produksi dan permintaan, memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus menjaga keseimbangan antara petani, pasar, dan pemerintah.

Lebih lanjut, Prima Gandhi menggarisbawahi bahwa kondisi Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang saat ini telah mencapai sekitar 4,8 juta ton dan terus bergerak menuju 5 juta ton mencerminkan penguatan buffer pangan nasional.

Di sisi lain, data Badan Pusat Statistik menunjukkan produksi beras nasional pada 2025 mencapai 34,69 juta ton atau meningkat 13,29 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan tren positif yang berlanjut pada awal 2026.

BACA JUGA: 
Tiga Prajurit TNI Gugur di Lebanon, Prabowo: Tindakan Keji yang Merusak Perdamaian

“Kombinasi antara produksi yang meningkat dan serapan yang berjalan efektif ini yang kemudian membentuk cadangan yang kuat. Jadi stok tinggi itu bukan berdiri sendiri, tapi hasil dari sistem yang bekerja,” jelasnya.

Ia menambahkan, langkah Presiden turun langsung ke lapangan juga memiliki implikasi penting terhadap persepsi pasar.

Dalam banyak kasus, gejolak pangan tidak hanya dipicu oleh kekurangan pasokan, tetapi juga oleh ketidakpastian informasi.

Karena itu, verifikasi langsung terhadap kondisi riil dinilai dapat memperkuat kepercayaan publik sekaligus menjaga stabilitas.

“Ketika negara hadir dan memastikan langsung kondisi di lapangan, itu memberikan kepastian bahwa pengelolaan pangan berada dalam kendali. Ini penting untuk menjaga stabilitas, terutama di tengah dinamika global yang tidak menentu” tegas Prima Gandhi.

Menurutnya, temuan-temuan di lapangan seperti kapasitas gudang yang penuh hingga kebutuhan tambahan ruang penyimpanan menjadi bukti bahwa kebijakan tidak berhenti pada tataran administratif, tetapi benar-benar terealisasi di lapangan.(*)

SulawesiPos.com, Jakarta — Akademisi Pertanian dari IPB University, Prima Gandhi menilai dalam perspektif teori sistem pangan nasional, kunjungan Presiden ke gudang Bulog Danurejo, Magelang, Jawa Tengah (18/4) mengonfirmasi bahwa berbagai elemen sistem seperti produksi di hulu, penyerapan oleh negara, hingga buffer stok di gudang berjalan secara terkoordinasi sebagai satu kesatuan.

Kondisi gudang yang penuh menunjukkan bahwa surplus produksi tidak terbuang atau menghancurkan harga di tingkat petani, tetapi terkonversi menjadi cadangan strategis yang menjaga ketersediaan dan stabilitas pasokan bagi konsumen.

Menurutnya, kunjungan tersebut penting karena memperlihatkan keterhubungan antara produksi di hulu, penyerapan oleh negara, hingga penguatan cadangan sebagai buffer nasional.

Dalam konteks ini, kondisi gudang yang penuh bukan hanya menggambarkan ketersediaan stok, tetapi juga menjadi indikator bahwa kebijakan serapan berjalan optimal saat produksi meningkat.

“Kalau dilihat dari kacamata sistem, kunjungan ini mengonfirmasi bahwa siklus produksi, penyerapan, dan penguatan cadangan berjalan dalam satu mekanisme yang utuh. Gudang yang penuh menunjukkan bahwa produksi tidak hanya tinggi, tetapi juga terserap dengan baik,” ujar Prima Gandhi.

BACA JUGA: 
Kementan Uji B50 untuk Alsintan, Bioreaktor Biodiesel Disiapkan

Ia menjelaskan, dalam ekonomi pangan, stabilitas tidak hanya ditentukan oleh besarnya produksi, tetapi oleh kemampuan negara mengelola surplus agar tidak menekan harga di tingkat petani sekaligus tetap menjaga pasokan bagi konsumen.

Dalam hal ini, peran Bulog sebagai instrumen penyangga dinilai berjalan sesuai fungsinya.

Dalam kerangka teori rantai pasok pangan, hal ini menegaskan bahwa infrastruktur penyangga seperti Bulog berperan sebagai inventory safeguard yang menyerap fluktuasi produksi dan permintaan, memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus menjaga keseimbangan antara petani, pasar, dan pemerintah.

Lebih lanjut, Prima Gandhi menggarisbawahi bahwa kondisi Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang saat ini telah mencapai sekitar 4,8 juta ton dan terus bergerak menuju 5 juta ton mencerminkan penguatan buffer pangan nasional.

Di sisi lain, data Badan Pusat Statistik menunjukkan produksi beras nasional pada 2025 mencapai 34,69 juta ton atau meningkat 13,29 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan tren positif yang berlanjut pada awal 2026.

BACA JUGA: 
Jarak Kata dan Kenyataan, Membaca Komunikasi Politik Presiden di Era Media Sosial

“Kombinasi antara produksi yang meningkat dan serapan yang berjalan efektif ini yang kemudian membentuk cadangan yang kuat. Jadi stok tinggi itu bukan berdiri sendiri, tapi hasil dari sistem yang bekerja,” jelasnya.

Ia menambahkan, langkah Presiden turun langsung ke lapangan juga memiliki implikasi penting terhadap persepsi pasar.

Dalam banyak kasus, gejolak pangan tidak hanya dipicu oleh kekurangan pasokan, tetapi juga oleh ketidakpastian informasi.

Karena itu, verifikasi langsung terhadap kondisi riil dinilai dapat memperkuat kepercayaan publik sekaligus menjaga stabilitas.

“Ketika negara hadir dan memastikan langsung kondisi di lapangan, itu memberikan kepastian bahwa pengelolaan pangan berada dalam kendali. Ini penting untuk menjaga stabilitas, terutama di tengah dinamika global yang tidak menentu” tegas Prima Gandhi.

Menurutnya, temuan-temuan di lapangan seperti kapasitas gudang yang penuh hingga kebutuhan tambahan ruang penyimpanan menjadi bukti bahwa kebijakan tidak berhenti pada tataran administratif, tetapi benar-benar terealisasi di lapangan.(*)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru