DEN Tekankan Ketahanan Energi dan Transisi Hijau Tak Bisa Dipisahkan

SulawesiPos.com – Dewan Energi Nasional (DEN) menegaskan bahwa penguatan ketahanan energi dan percepatan transisi energi tidak dapat dipisahkan dalam menghadapi meningkatnya kebutuhan energi domestik.

Sekretaris Jenderal DEN, Dadan Kusdiana, mengatakan kedua agenda tersebut harus berjalan secara bersamaan sebagai bagian dari strategi jangka panjang menuju target net zero emission pada 2060.

Menurutnya, Indonesia harus mampu menjaga pasokan energi tetap aman dan terjangkau, sekaligus mengurangi dampak lingkungan melalui pemanfaatan energi yang lebih bersih.

“Sekarang masanya bukan memilih antara ketahanan energi atau transisi energi. Dua-duanya harus dilakukan secara bersamaan. Kita harus memastikan energi di Indonesia tetap secure dan resilient, tetapi di saat yang sama juga semakin bersih,” kata Dadan dalam sebuah forum diskusi.

Dadan menjelaskan ketidakpastian global mendorong banyak negara memperkuat kemandirian energi, termasuk Indonesia yang masih menghadapi ketergantungan tinggi terhadap impor bahan bakar minyak (BBM).

Berdasarkan data DEN, konsumsi minyak nasional saat ini mencapai sekitar 1,52 juta barel per hari.

BACA JUGA:  Dari Mubes untuk Negeri: Alumni Unhas Bahas Ketahanan Pangan dan Energi

Sementara itu, produksi dalam negeri baru berada di kisaran 610 ribu barel per hari.

Kesenjangan antara kebutuhan dan produksi tersebut membuat Indonesia masih harus mengimpor minyak dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan domestik.

“Kalau kebutuhan impor mencapai sekitar satu juta barel per hari dan harga minyak berada di level 100 dolar AS per barel, artinya setiap hari kita membutuhkan sekitar 100 juta dolar AS untuk membeli minyak mentah. Ini menjadi tantangan besar bagi ketahanan energi nasional,” ujarnya.

Menurut Dadan, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya mempercepat upaya pengurangan ketergantungan terhadap energi impor.

DEN menilai sektor transportasi masih menjadi penyumbang terbesar konsumsi BBM di Indonesia.

Dengan jumlah sepeda motor yang mencapai sekitar 140 juta unit dan mobil penumpang lebih dari 20 juta unit, kebutuhan energi berbasis fosil masih sangat tinggi.

Karena itu, pemerintah terus mendorong percepatan elektrifikasi transportasi melalui pengembangan kendaraan listrik dan program konversi motor berbahan bakar minyak menjadi motor listrik.

BACA JUGA:  Prabowo Lantik Jajaran Dewan Energi Nasional, Bahlil Jadi Ketua Harian

Selain itu, pembangunan infrastruktur pendukung kendaraan listrik juga menjadi bagian penting dalam strategi pengurangan konsumsi BBM nasional.

Panas Bumi Diproyeksikan Jadi Andalan Energi Bersih

Di samping elektrifikasi, pemerintah juga mempercepat pengembangan energi baru terbarukan, khususnya panas bumi atau geothermal.

Dadan menilai panas bumi memiliki keunggulan karena mampu menghasilkan listrik secara stabil dan berkelanjutan, berbeda dengan beberapa sumber energi terbarukan lain yang bergantung pada kondisi cuaca.

Menurutnya, pengalaman panjang Indonesia dalam memanfaatkan panas bumi menjadi modal penting untuk memperkuat bauran energi nasional.

“Panas bumi diposisikan sebagai salah satu energi utama dalam bauran energi nasional. Keberhasilannya sudah terbukti selama puluhan tahun dan ini menjadi modal penting untuk memperkuat ketahanan energi Indonesia,” katanya.

DEN berharap kombinasi antara pengembangan energi terbarukan, pengurangan impor energi, dan percepatan elektrifikasi dapat memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendukung target dekarbonisasi jangka panjang Indonesia.

SulawesiPos.com – Dewan Energi Nasional (DEN) menegaskan bahwa penguatan ketahanan energi dan percepatan transisi energi tidak dapat dipisahkan dalam menghadapi meningkatnya kebutuhan energi domestik.

Sekretaris Jenderal DEN, Dadan Kusdiana, mengatakan kedua agenda tersebut harus berjalan secara bersamaan sebagai bagian dari strategi jangka panjang menuju target net zero emission pada 2060.

Menurutnya, Indonesia harus mampu menjaga pasokan energi tetap aman dan terjangkau, sekaligus mengurangi dampak lingkungan melalui pemanfaatan energi yang lebih bersih.

“Sekarang masanya bukan memilih antara ketahanan energi atau transisi energi. Dua-duanya harus dilakukan secara bersamaan. Kita harus memastikan energi di Indonesia tetap secure dan resilient, tetapi di saat yang sama juga semakin bersih,” kata Dadan dalam sebuah forum diskusi.

Dadan menjelaskan ketidakpastian global mendorong banyak negara memperkuat kemandirian energi, termasuk Indonesia yang masih menghadapi ketergantungan tinggi terhadap impor bahan bakar minyak (BBM).

Berdasarkan data DEN, konsumsi minyak nasional saat ini mencapai sekitar 1,52 juta barel per hari.

BACA JUGA:  Menteri ESDM Bahlil Lahadalia: Indonesia Peringkat Kedua Ketahanan Energi Dunia

Sementara itu, produksi dalam negeri baru berada di kisaran 610 ribu barel per hari.

Kesenjangan antara kebutuhan dan produksi tersebut membuat Indonesia masih harus mengimpor minyak dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan domestik.

“Kalau kebutuhan impor mencapai sekitar satu juta barel per hari dan harga minyak berada di level 100 dolar AS per barel, artinya setiap hari kita membutuhkan sekitar 100 juta dolar AS untuk membeli minyak mentah. Ini menjadi tantangan besar bagi ketahanan energi nasional,” ujarnya.

Menurut Dadan, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya mempercepat upaya pengurangan ketergantungan terhadap energi impor.

DEN menilai sektor transportasi masih menjadi penyumbang terbesar konsumsi BBM di Indonesia.

Dengan jumlah sepeda motor yang mencapai sekitar 140 juta unit dan mobil penumpang lebih dari 20 juta unit, kebutuhan energi berbasis fosil masih sangat tinggi.

Karena itu, pemerintah terus mendorong percepatan elektrifikasi transportasi melalui pengembangan kendaraan listrik dan program konversi motor berbahan bakar minyak menjadi motor listrik.

BACA JUGA:  Krisis Selat Hormuz Jadi Alarm, Indonesia Didesak Percepat Transisi Energi Bersih

Selain itu, pembangunan infrastruktur pendukung kendaraan listrik juga menjadi bagian penting dalam strategi pengurangan konsumsi BBM nasional.

Panas Bumi Diproyeksikan Jadi Andalan Energi Bersih

Di samping elektrifikasi, pemerintah juga mempercepat pengembangan energi baru terbarukan, khususnya panas bumi atau geothermal.

Dadan menilai panas bumi memiliki keunggulan karena mampu menghasilkan listrik secara stabil dan berkelanjutan, berbeda dengan beberapa sumber energi terbarukan lain yang bergantung pada kondisi cuaca.

Menurutnya, pengalaman panjang Indonesia dalam memanfaatkan panas bumi menjadi modal penting untuk memperkuat bauran energi nasional.

“Panas bumi diposisikan sebagai salah satu energi utama dalam bauran energi nasional. Keberhasilannya sudah terbukti selama puluhan tahun dan ini menjadi modal penting untuk memperkuat ketahanan energi Indonesia,” katanya.

DEN berharap kombinasi antara pengembangan energi terbarukan, pengurangan impor energi, dan percepatan elektrifikasi dapat memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendukung target dekarbonisasi jangka panjang Indonesia.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru