SulawesiPos.com — Wakil Ketua Umum Partai Golkar Idrus Marham mengkritik keras hasil evaluasi kinerja kabinet yang dirilis oleh Center of Economic and Law Studies (CELIOS) bersama Kabinet Bayangan.
Idrus mempertanyakan objektivitas penilaian yang menempatkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebagai salah satu menteri dengan penilaian kinerja terburuk.
“Apakah rilis CELIOS hasil survei atau hasil konspirasi politik?” ujar Idrus dalam keterangannya, Selasa (13/10/2026).
Idrus menegaskan bahwa survei publik sejatinya merupakan instrumen penting dalam demokrasi untuk mengukur persepsi, tingkat kepuasan, dan keprihatinan masyarakat. Namun, penggunaannya harus ditopang oleh metodologi yang jelas, integritas, serta analisis yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Dalam era demokrasi hari ini, survei publik memang populer, apalagi kalau kesimpulan surveinya ngeri-ngeri sedap. Secara umum, survei memang lazim menjadi instrumen demokrasi yang bisa menjadi cermin suara publik,” ujar politisi asal Sulsel ini.
Kendati demikian, ia mengingatkan agar survei tidak kehilangan fungsi utamanya sebagai alat evaluasi objektif dan malah berbelok menjadi sarana pembentukan opini yang menyesatkan.
“Instrumen yang mulia ini tentu memiliki kaidah-kaidah yang ketat, menuntut integritas metodologis dan kejujuran analisis, sehingga survei tidak bablas menjadi senjata opini yang menyesatkan,” ujarnya.
Angka Bertentangan dengan Realitas
Menurut Idrus, munculnya angka penilaian yang berseberangan dengan nalar dan fakta di lapangan merupakan sebuah anomali. Ia menilai angka yang berada di atas nalar serta bertentangan dengan fakta nyata adalah sebuah kesesatan rasionalitas dan pengkhianatan terhadap realitas.
Ia menekankan bahwa penilaian terhadap kinerja Bahlil seharusnya tidak semata-mata didasarkan pada persepsi, melainkan turut memperhitungkan kebijakan, pelaksanaan program, capaian konkret, serta tantangan di sektor energi nasional.
“Publik bukan hanya menyaksikan gebrakan, kebijakan, dan eksekusi program yang dilakukan Bahlil, tetapi juga merasakan hasilnya. Karena itu, penilaian harus melihat apa yang dikerjakan, bagaimana pelaksanaannya, dan apa dampaknya bagi masyarakat,” tutur Idrus.
Mantan Sekretaris Jenderal Partai Golkar ini juga meminta CELIOS membuka secara transparan indikator serta parameter yang digunakan dalam menyimpulkan kinerja buruk tersebut.
“Saya kira, tanpa mengurangi rasa hormat kepada hasil survei, ini tidak faktual. Kalau begini, ini bukan hasil survei lagi, ini sudah hasil konspiratif,” tegasnya.
Idrus menambahkan bahwa kritik terhadap pemerintah merupakan bagian vital dari iklim demokrasi. Meski begitu, kritik semestinya berlandaskan data dan fakta rasional, bukan agenda tertentu yang diselimuti kemasan survei.
“Kalau punya agenda lain, silakan. Jangan agenda lain dibungkus dengan hasil survei. Kalau memang punya agenda politik, dalam tanda kutip, tidak usah bersembunyi di balik hasil survei yang tidak faktual,” tambahnya.
Soroti Capaian Kinerja ESDM
Berdasarkan evaluasi yang dipaparkan CELIOS pada Minggu (11/10/2026), Bahlil Lahadalia mendapat skor minus 159. Selain Bahlil, Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai mencatatkan skor minus 158, dan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni memperoleh skor minus 103.
Di sisi lain, data Kementerian ESDM mencatat realisasi investasi sektor ESDM pada semester I 2025 mencapai 13,9 miliar dollar AS, atau naik sekitar 24,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Selain investasi, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sektor ESDM sepanjang tahun 2025 menembus angka Rp138,37 triliun atau 108,56 persen dari target awal. Sementara itu, produksi minyak bumi nasional tercatat mencapai 605.300 barel per hari (bph), sedikit melampaui target yang ditetapkan sebesar 605.000 bph.
Idrus menekankan bahwa capaian sektoral tersebut hendaknya dinilai bersama indikator pendukung lainnya, seperti keberlanjutan pasokan energi, keterjangkauan harga, serta kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Perbedaan pandangan mengenai kinerja pemerintah harus dijadikan ruang evaluasi yang sehat dengan metodologi dan indikator yang dibuka secara terang benderang kepada publik.


