Iran juga dilaporkan menggunakan skema barter melalui pedagang yang beroperasi di UEA, yakni menukar sebagian ekspor mazutnya dengan bensin dan solar untuk menutup kekurangan bahan bakar domestik.
Terganggunya skema tersebut dapat memperbesar tekanan terhadap pasokan energi Iran, memaksa pemerintah memperketat kuota, menaikkan harga, menambah impor melalui jalur alternatif, atau mengurangi ekspor minyak mentah dan produk minyak tertentu.
Dampak keputusan Abu Dhabi dengan demikian tidak berhenti pada hilangnya nilai perdagangan bilateral, tetapi dapat merambat ke harga barang, inflasi, produksi industri, nilai tukar rial, ketersediaan energi, dan daya beli masyarakat Iran.
Namun, UEA juga berisiko menanggung kerugian berupa berkurangnya aktivitas pelabuhan, perdagangan ekspor kembali, jasa logistik, perbankan, perusahaan penukaran uang, serta jaringan bisnis yang selama puluhan tahun melayani pasar Iran.
Mampukah Dubai Menutup Jaringan Bayangan?
Efektivitas kebijakan tersebut sangat bergantung pada pelaksanaannya karena penghentian perdagangan resmi belum tentu mampu menutup jaringan perusahaan cangkang, pengiriman terselubung, perantara keuangan, dan perdagangan tidak tercatat yang selama bertahun-tahun digunakan untuk menghindari sanksi.
Peneliti senior Middle East Institute Karen Young mengatakan penerapan penuh dapat sangat merugikan Iran dan sekaligus menimbulkan kerugian bagi UEA, tetapi isolasi total membutuhkan kerja sama banyak negara serta penegakan sanksi sekunder terhadap bank dan perusahaan yang memfasilitasi transaksi.
Jaringan keuangan Iran tidak selalu berasal langsung dari UEA karena dana dapat bergerak melalui perusahaan cangkang di China, Hong Kong, Turki, Irak, Oman, dan yurisdiksi lain sebelum memasuki sistem perdagangan atau pembayaran di Dubai.
Peneliti Foundation for Defense of Democracies Max Meizlish menilai miliaran dolar pendapatan minyak Iran yang terkena sanksi masih dapat bergerak secara tidak langsung melalui perusahaan cangkang yang kepemilikan dan transaksi akhirnya sulit ditelusuri.
Karena itu, penghentian perdagangan legal dapat menekan perusahaan biasa secara lebih cepat daripada jaringan bawah tanah, sementara efektivitasnya terhadap pendapatan minyak sangat ditentukan oleh pengawasan bank, identifikasi pemilik manfaat akhir, pemeriksaan asal dana, dan penindakan terhadap perbankan bayangan.
Iran juga masih dapat mengalihkan sebagian perdagangan melalui Oman, Irak, Turki, Pakistan, dan jaringan regional lainnya, meskipun jalur-jalur tersebut tidak mempunyai kombinasi infrastruktur pelabuhan, kedekatan geografis, konektivitas keuangan, dan pengalaman ekspor kembali sekuat Dubai.
Tekanan terhadap transaksi Iran semakin berat karena FATF pada 19 Juni 2026 tetap menempatkan negara tersebut sebagai yurisdiksi berisiko tinggi yang dikenai seruan tindakan, sehingga lembaga keuangan internasional diwajibkan menerapkan pemeriksaan ketat dan, dalam kondisi tertentu, langkah penanggulangan.
FATF tetap mengingatkan agar tindakan terhadap Iran tidak menghambat bantuan kemanusiaan, pasokan makanan dan kesehatan, biaya diplomatik, serta pengiriman uang pribadi yang sah, sehingga belum adanya penjelasan UEA mengenai pengecualian kemanusiaan menjadi persoalan penting yang perlu dipantau.
Selat Hormuz Mengubah Mitra Menjadi Lawan
Perubahan sikap UEA tidak dapat dilepaskan dari Selat Hormuz karena jalur sempit tersebut menjadi titik pertemuan antara keamanan nasional Emirat, ekspor energi Teluk, strategi pertahanan Iran, dan kepentingan ekonomi Amerika Serikat.
Iran dituduh berulang kali menyerang kapal tanker milik atau terkait perusahaan energi nasional UEA, ADNOC, dalam beberapa pekan terakhir, sedangkan Teheran belum mengakui seluruh insiden yang dituduhkan kepadanya.
Abu Dhabi memandang serangan terhadap kapal sebagai ancaman langsung terhadap konektivitas yang justru menjadi dasar hubungan ekonomi Iran–UEA, sebab Iran dinilai tidak dapat meminta akses perdagangan sambil membahayakan jalur pelayaran yang menopang perdagangan tersebut.
Direktur Dubai Public Policy Research Center Mohammed Baharoon menilai keputusan UEA bukan semata-mata tindakan mengikuti sanksi Amerika, melainkan upaya membangun kembali dasar hubungan dengan Iran setelah berbagai pendekatan pascaperang tidak menghasilkan jaminan keamanan pelayaran.
UEA sebelumnya sempat memperlihatkan sikap keras dengan memanggil pulang duta besarnya dari Teheran serta menutup sekolah dan rumah sakit yang berhubungan dengan negara Iran karena dianggap melanggar hukum Emirat.

