SulawesiPos.com – Peta kekuatan politik di Sulawesi Selatan mulai bergeser menjelang Pemilu 2029 setelah Gerindra mengumpulkan 10 kepala daerah tingkat bupati di provinsi ini. Tambahan “amunisi baru” dengan lima bupati baru membuat partai besutan Presiden Prabowo Subianto itu melampaui Nasdem yang memiliki enam bupati, Golkar lima bupati, dan PAN dua bupati.
Konsolidasi itu mempertegas posisi Gerindra sebagai kekuatan baru yang ingin menjadikan Sulsel sebagai salah satu basis suara utama pada Pemilu 2029 dan target menyukseskan Prabowo terpilih kembali pada periode berikutnya. Target yang dipasang juga tidak kecil. Gerindra memburu 10 kursi DPR RI dari Sulsel, naik dua kali lipat dari lima kursi yang dimiliki saat ini, dengan dukungan 13 kursi DPRD Provinsi dan 107 kursi DPRD Kabupaten/Kota se-Sulsel.
Dosen Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Reskiyanti Nurdin, menilai perpindahan elite daerah ke Gerindra merupakan langkah yang rasional dalam lanskap politik nasional saat ini. Menurut dia, posisi Gerindra yang berada di pusat pemerintahan menjadi magnet utama bagi kepala daerah yang ingin menjaga pengaruh politiknya.
“Tidak bisa dimungkiri, Gerindra saat ini berada di lingkar utama kekuasaan nasional pasca-kemenangan Prabowo sebagai Presiden. Kedekatan dengan pusat kekuasaan adalah daya tarik mutlak, karena di situlah ‘nyawa’ politik bagi para elite daerah yang mencakup sumber utama kekuasaan dan sumber daya,” ujar Reskiyanti, Kamis, 6 Agustus 2026.
Menurut Reskiyanti, kepala daerah yang baru menjalani satu atau dua periode dan mulai membidik jenjang politik nasional cenderung bergerak lebih dini untuk mendekat ke partai penguasa. Dalam situasi itu, hubungan antara elite lokal dan partai pusat menjadi saling menguntungkan.
“Kepala daerah yang bergabung ke Gerindra tidak datang dengan tangan kosong. Mereka biasanya akan membawa serta jaringan politik, basis pendukung, mesin partai, sekaligus menggerakkan mesin birokrasi di wilayahnya,” jelas kandidat Doktor Politik dari Universitas Kebangsaan Malaysia ini.
Dengan tambahan kekuatan tersebut, Reskiyanti memandang target Gerindra untuk bersaing keras di level DPR RI, DPRD provinsi, hingga DPRD kabupaten/kota pada Pemilu 2029 cukup terbuka. Peluang itu, kata dia, juga dipengaruhi kondisi partai pesaing, terutama setelah Nasdem Sulsel dinilai tidak lagi memiliki figur sentral pemenangan sekuat Pemilu 2024, seperti sosok Rusdi Masse (RMS).
Peringatan soal bayang-bayang Demokrat
Meski demikian, Reskiyanti mengingatkan dominasi elite daerah belum otomatis menjamin kemenangan jangka panjang. Ia menilai ketergantungan Gerindra pada figur Prabowo dapat menjadi titik rawan bila kepuasan publik terhadap pemerintahan menurun.
“Kekhawatiran saya, bisa terjadi pengulangan sejarah seperti Partai Demokrat di tahun 2014 di era Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono dari Partai Demokrat. Ketika itu, saat kepuasan publik turun tajam akibat banyaknya kader Demokrat yang terjerat kasus korupsi dan terpaan isu dana talangan BI, suara Demokrat akhirnya terjun bebas,” ujarnya.
Ia menilai peringatan itu penting karena pergeseran dukungan elite lokal sangat dipengaruhi persepsi atas stabilitas kekuasaan di tingkat pusat.
Jika pemerintah mampu menjaga kinerja dan kepercayaan publik, konsolidasi Gerindra di daerah akan semakin kuat. Sebaliknya, penurunan citra di tingkat nasional bisa langsung memukul elektabilitas partai di daerah.
Golkar dinilai belum habis
Di tengah menguatnya Gerindra, Reskiyanti juga menyoroti posisi Golkar di Sulsel yang dinilai terus tertekan setelah Pemilu 2024. Partai berlambang beringin itu harus menghadapi kenyataan bahwa dominasi panjangnya di Sulsel mulai digeser oleh perpindahan kader dan perubahan peta koalisi.
Namun, menurut dia, Golkar belum bisa dianggap selesai. Jaringan elite yang mengakar dan pengalaman panjang dalam mengelola kekuasaan tetap menjadi modal besar untuk bangkit kembali, pasca terpilihnya Ilham Arief Sirajuddin (IAS), sebagai Ketua DPD I Golkar Sulsel.
“Golkar punya ‘DNA’ kekuasaan dan jaringan elite yang mengakar sangat kuat di Sulsel. Mereka hanya perlu melakukan konsolidasi internal secara serius dan kembali merekrut figur-figur kuat yang memiliki modal sosial dan ekonomi di tingkat kabupaten. Jika itu dilakukan, Golkar pasti bisa kembali berjaya,” tutupnya.

