SulawesiPos.com – Pengurus DPD II Partai Golkar Makassar, Barly RM menilai sikap tenang Munafri Arifuddin atau Appi di tengah dinamika menjelang Musyawarah Daerah XI DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan menjadi pesan moral bagi kader untuk tetap menjaga soliditas organisasi. Penilaian itu disampaikan saat berbagai spekulasi muncul menyusul keberangkatan Wali Kota Makassar tersebut menunaikan ibadah umrah.
Menurut Wakil Ketua Bidang Media dan Komunikasi DPD II Golkar Makassar ini, langkah Appi ke Tanah Suci tidak sepatutnya dimaknai sebagai bentuk kekecewaan ataupun sinyal meninggalkan Partai Golkar. Ia justru melihat sikap itu sebagai bentuk kedewasaan politik dalam merespons dinamika internal partai menjelang Musda di Makassar.
“Di tingkat akar rumput, khususnya di Kota Makassar, ketenangan yang diperlihatkan Appi harus dimaknai sebagai ajakan untuk tetap mengonsolidasikan barisan, bukan menjadi alasan bagi kader untuk tercerai-berai atau mencari jalan masing-masing. Pergantian kepemimpinan di tingkat provinsi merupakan bagian dari dinamika organisasi yang harus dihormati,” ujar Barly.
Barly mengatakan perjalanan politik Munafri Arifuddin selama ini menunjukkan konsistensi dan keteguhan dalam menghadapi situasi yang tidak selalu mudah. Ia mengingat kembali momentum Pilwalkot Makassar 2017-2018 ketika pasangan yang diusung Appi kalah dari kotak kosong, lalu kegagalan berikutnya pada Pilwali 2020.
Meski dua kali belum meraih kemenangan, menurut dia, Appi tidak menghentikan langkah politiknya. Barly menyebut proses panjang itu akhirnya berbuah pada Pilwali 2024 ketika Munafri Arifuddin memperoleh kepercayaan masyarakat dan dilantik sebagai Wali Kota Makassar periode 2024-2029.
“Perjalanan itu menunjukkan bahwa kegagalan bukan akhir dari perjuangan. Ada pepatah yang mengatakan bahwa pengalaman adalah guru yang paling berharga. Setelah melalui berbagai proses dan pembelajaran, pada Pilwali 2024 Appi akhirnya memperoleh kepercayaan masyarakat dan dilantik sebagai Wali Kota Makassar periode 2024-2029,” kata Barly.
Dinilai lahir dari proses politik panjang
Ia menambahkan, dinamika politik selalu berubah mengikuti perkembangan waktu sehingga kepemimpinan yang kuat tidak lahir secara instan. Menurut dia, kualitas kepemimpinan dibangun melalui pengalaman, proses panjang, dan konsistensi dalam menghadapi tantangan.
“Politik tidak pernah bersifat permanen. Semua bergerak dinamis. Kepemimpinan yang berkualitas lahir dari proses yang panjang, bukan dari fasilitas yang serba instan. Hal itu telah dibuktikan Appi, baik saat memimpin DPD Partai Golkar Kota Makassar maupun ketika dipercaya memimpin Kota Makassar,” ujarnya.
Di akhir keterangannya, Barly menegaskan tiap pemimpin memiliki cara berbeda dalam merespons dinamika politik. Ia menilai pilihan untuk tetap tenang, menjaga komitmen sebagai kader, dan menghindari konfrontasi merupakan bentuk komunikasi politik yang dewasa.
“Memilih tetap tenang, menjaga komitmen sebagai kader, dan tidak merespons dinamika dengan konfrontasi merupakan bentuk komunikasi politik yang dewasa. Sikap seperti itu menunjukkan bahwa kepentingan organisasi ditempatkan di atas kepentingan pribadi,” tutup Barly RM.


