IHSG Anjlok, Bamsoet Ingatkan Sensitivitas Investor Terhadap Kondisi Politik-EkonomiĀ 

Overview:Ā 

  • Bamsoet menilai faktor politik dan arah kebijakan ekonomi semakin memengaruhi keputusan investor, terutama asing.
  • Pemerintah didorong memperkuat komunikasi publik untuk menegaskan stabilitas sistem keuangan nasional.
  • BEI dijadwalkan bertemu MSCI untuk membahas isu regulasi dan transparansi, dengan pemerintah menjaga independensi bursa.

SulawesiPos.com – Anggota DPR RI Fraksi Golkar, Bambang Soesatyo (Bamsoet) menyoroti kondisi tersebut seiring dengan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang tercatat anjlok berturut-turut hingga 16 persen.

Bamsoet menilai bahwa kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan negara dan kondisi otoritas keuangan disebut menjadi variabel utama dalam pengambilan keputusan investasi.

ā€œDalam pengambilan keputusan investasi, investor asing tidak lagi memisahkan ekonomi dari politik. Ketika salah satu ditanyakan, pasar bereaksi keras,ā€ kata Bamsoet dalam keterangan pers di Jakarta, Minggu (1/2/2026).

Menurut anggota Komisi III DPR RI itu, pemerintah perlu memperkuat strategi komunikasi publik yang terkoordinasi untuk meredam kekhawatiran pasar.

Narasi yang disampaikan, kata dia, harus menegaskan bahwa sistem keuangan nasional tetap berada dalam kondisi terkendali.

BACA JUGA:  Hipmi Berpesan Penguatan IHSG Harus Diikuti Kebijakan Konkret

“Pengawasan berjalan, dan negara memiliki kapasitas penuh untuk menjaga stabilitas. Komunikasi yang lambat atau saling bertentangan justru akan memperdalam ketidaknyamanan,” ucap Bamsoet.

Ia menambahkan, tekanan yang terjadi di pasar modal juga seharusnya dimanfaatkan sebagai momentum untuk mempercepat reformasi tata kelola.

Sejumlah langkah yang dinilai perlu dipercepat antara lain peningkatan transparansi, perbaikan struktur kepemilikan saham dan kebijakan free float, serta penguatan basis investor domestik.

ā€œSebagai sinyal keseriusan Indonesia memperkuat fondasi pasar keuangan, negara harus bergerak cepat, terkoordinasi, dan tegas. Kalau momentum ini dikelola dengan tepat, krisis kepercayaan bisa diubah menjadi titik balik penguatan tata kelola,ā€ ujar Bamsoet.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) akan segera bertemu dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Pertemuan tersebut dinilai sangat penting untuk membahas persoalan regulasi dan transparansi di pasar saham Indonesia.

Penjabat Sementara Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik dijadwalkan memimpin koordinasi teknis tersebut pada Senin (2/2/2026).

BACA JUGA:  DPR RI Dorong BSPS Kembali Masuk Enrekang, Ratusan Rumah Tak Layak Huni Jadi Prioritas

Pemerintah, kata Purbaya, memilih untuk tidak melakukan intervensi langsung guna menjaga independensi otoritas bursa.

ā€œMestinya dia, Jeffrey Hendrik, bersama timnya dari bursa menyelesaikan masalah sesuai prosedur internal karena mereka independen. Pemerintah tidak ikut campur, kita hanya mendukung agar mereka bisa bekerja dengan baik,ā€ ujar Purbaya usai konferensi pers di Wisma Danantara, Jakarta, Sabtu (31/1/2026).

Overview:Ā 

  • Bamsoet menilai faktor politik dan arah kebijakan ekonomi semakin memengaruhi keputusan investor, terutama asing.
  • Pemerintah didorong memperkuat komunikasi publik untuk menegaskan stabilitas sistem keuangan nasional.
  • BEI dijadwalkan bertemu MSCI untuk membahas isu regulasi dan transparansi, dengan pemerintah menjaga independensi bursa.

SulawesiPos.com – Anggota DPR RI Fraksi Golkar, Bambang Soesatyo (Bamsoet) menyoroti kondisi tersebut seiring dengan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang tercatat anjlok berturut-turut hingga 16 persen.

Bamsoet menilai bahwa kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan negara dan kondisi otoritas keuangan disebut menjadi variabel utama dalam pengambilan keputusan investasi.

ā€œDalam pengambilan keputusan investasi, investor asing tidak lagi memisahkan ekonomi dari politik. Ketika salah satu ditanyakan, pasar bereaksi keras,ā€ kata Bamsoet dalam keterangan pers di Jakarta, Minggu (1/2/2026).

Menurut anggota Komisi III DPR RI itu, pemerintah perlu memperkuat strategi komunikasi publik yang terkoordinasi untuk meredam kekhawatiran pasar.

Narasi yang disampaikan, kata dia, harus menegaskan bahwa sistem keuangan nasional tetap berada dalam kondisi terkendali.

BACA JUGA:  Warga Boleh Ambil Kayu Hanyut Pasca-Banjir, DPR Desak Pemerintah Segera Terbitkan Payung Hukum

“Pengawasan berjalan, dan negara memiliki kapasitas penuh untuk menjaga stabilitas. Komunikasi yang lambat atau saling bertentangan justru akan memperdalam ketidaknyamanan,” ucap Bamsoet.

Ia menambahkan, tekanan yang terjadi di pasar modal juga seharusnya dimanfaatkan sebagai momentum untuk mempercepat reformasi tata kelola.

Sejumlah langkah yang dinilai perlu dipercepat antara lain peningkatan transparansi, perbaikan struktur kepemilikan saham dan kebijakan free float, serta penguatan basis investor domestik.

ā€œSebagai sinyal keseriusan Indonesia memperkuat fondasi pasar keuangan, negara harus bergerak cepat, terkoordinasi, dan tegas. Kalau momentum ini dikelola dengan tepat, krisis kepercayaan bisa diubah menjadi titik balik penguatan tata kelola,ā€ ujar Bamsoet.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) akan segera bertemu dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Pertemuan tersebut dinilai sangat penting untuk membahas persoalan regulasi dan transparansi di pasar saham Indonesia.

Penjabat Sementara Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik dijadwalkan memimpin koordinasi teknis tersebut pada Senin (2/2/2026).

BACA JUGA:  Siap-Siap, Ini Prediksi Pergerakan Pasar dan Rekomendasi Saham untuk Senin 19 Januari 2026 Besok

Pemerintah, kata Purbaya, memilih untuk tidak melakukan intervensi langsung guna menjaga independensi otoritas bursa.

ā€œMestinya dia, Jeffrey Hendrik, bersama timnya dari bursa menyelesaikan masalah sesuai prosedur internal karena mereka independen. Pemerintah tidak ikut campur, kita hanya mendukung agar mereka bisa bekerja dengan baik,ā€ ujar Purbaya usai konferensi pers di Wisma Danantara, Jakarta, Sabtu (31/1/2026).

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru