Menanti Kapal Pulang di Bawah Langit yang Bimbang

SulawesiPos.com – Di sudut-sudut pelabuhan perbatasan yang berdebu, ribuan wajah lelah menanti sebuah kapal yang akan membawa mereka pulang dengan sisa-sisa harga diri. Mereka adalah barisan pahlawan devisa yang kini berdiri di ambang pengusiran dari negeri jiran tanpa sepeser pun upah di kantong.

Mata mereka menatap kosong ke arah laut lepas, membayangkan keluarga di kampung yang menunggu kiriman uang, bukan kepulangan dengan tangan hampa. Di tengah senyapnya keputusasaan di lapangan itu, suara peringatan keras justru bergema dari balik dinginnya tembok gedung parlemen.

Anggota Komisi XIII DPR RI, Rieke Diah Pitaloka, memecah keheningan birokrasi belakangan ini dengan menuntut kehadiran mutlak negara bagi para pekerja tersebut. “Pekerja migran adalah pahlawan devisa dan patriot sejati yang menopang perekonomian nasional,” tegas Rieke memaparkan kenyataan pahit yang sedang terjadi.

Ia menyadari sepenuhnya bahwa membiarkan para buruh ini pulang tanpa pelunasan hak merupakan sebuah pengabaian terhadap keringat rakyat kecil. “Perlindungan terhadap mereka adalah tentang kualitas perlindungan yang berkeadilan, jaminan sosial yang optimal, serta menjaga martabat bangsa,” tambahnya dengan nada getir.

BACA JUGA:  Baru 4 Bulan 2026, Kementerian P2MI Sudah Gagalkan Keberangkatan 1.353 Pekerja Migran Ilegal

Tangan-tangan kasar yang biasa memanen sawit atau membersihkan gedung pencakar langit Kuala Lumpur kini hanya bisa memeluk erat tas bawaan yang usang. Mereka terjebak dalam pusaran nasib, menunggu lobi diplomatik tingkat tinggi yang diharapkan mampu memaksa para majikan melunasi tunggakan peluh mereka.

Sementara itu, bayangan krisis kemanusiaan di titik-titik perbatasan menuntut kesiagaan penuh dari barisan aparat berseragam untuk menyambut gelombang eksodus ini. “Jika mereka harus pulang, pulangkan dengan terhormat, bawa hak gajinya, dan kita sambut mereka sebagai pahlawan di tanah air yang berdaulat,” ujar Rieke menolak kompromi.

Kini, masa depan ribuan manusia tersebut amat bergantung pada keberanian negara menyediakan lapangan kerja baru dan memberantas sindikat perdagangan orang. “Rakyat Indonesia bukan komoditas murah yang bisa diperas lalu dibuang begitu saja,” pungkasnya, mengunci sebuah ironi tentang nasib patriot ekonomi di ujung tanduk. (*)

SulawesiPos.com – Di sudut-sudut pelabuhan perbatasan yang berdebu, ribuan wajah lelah menanti sebuah kapal yang akan membawa mereka pulang dengan sisa-sisa harga diri. Mereka adalah barisan pahlawan devisa yang kini berdiri di ambang pengusiran dari negeri jiran tanpa sepeser pun upah di kantong.

Mata mereka menatap kosong ke arah laut lepas, membayangkan keluarga di kampung yang menunggu kiriman uang, bukan kepulangan dengan tangan hampa. Di tengah senyapnya keputusasaan di lapangan itu, suara peringatan keras justru bergema dari balik dinginnya tembok gedung parlemen.

Anggota Komisi XIII DPR RI, Rieke Diah Pitaloka, memecah keheningan birokrasi belakangan ini dengan menuntut kehadiran mutlak negara bagi para pekerja tersebut. “Pekerja migran adalah pahlawan devisa dan patriot sejati yang menopang perekonomian nasional,” tegas Rieke memaparkan kenyataan pahit yang sedang terjadi.

Ia menyadari sepenuhnya bahwa membiarkan para buruh ini pulang tanpa pelunasan hak merupakan sebuah pengabaian terhadap keringat rakyat kecil. “Perlindungan terhadap mereka adalah tentang kualitas perlindungan yang berkeadilan, jaminan sosial yang optimal, serta menjaga martabat bangsa,” tambahnya dengan nada getir.

BACA JUGA:  Kopi Pagi dan Bayang-Bayang 1965

Tangan-tangan kasar yang biasa memanen sawit atau membersihkan gedung pencakar langit Kuala Lumpur kini hanya bisa memeluk erat tas bawaan yang usang. Mereka terjebak dalam pusaran nasib, menunggu lobi diplomatik tingkat tinggi yang diharapkan mampu memaksa para majikan melunasi tunggakan peluh mereka.

Sementara itu, bayangan krisis kemanusiaan di titik-titik perbatasan menuntut kesiagaan penuh dari barisan aparat berseragam untuk menyambut gelombang eksodus ini. “Jika mereka harus pulang, pulangkan dengan terhormat, bawa hak gajinya, dan kita sambut mereka sebagai pahlawan di tanah air yang berdaulat,” ujar Rieke menolak kompromi.

Kini, masa depan ribuan manusia tersebut amat bergantung pada keberanian negara menyediakan lapangan kerja baru dan memberantas sindikat perdagangan orang. “Rakyat Indonesia bukan komoditas murah yang bisa diperas lalu dibuang begitu saja,” pungkasnya, mengunci sebuah ironi tentang nasib patriot ekonomi di ujung tanduk. (*)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru