SulawesiPos.com — Pakar dan dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Hasanuddin, Dr. Husain Abdullah, serta pengusaha nasional sektor pengeboran dan eksplorasi migas, Ir. Andi Razak Wawo, menilai gangguan kilang Rusia akibat serangan Ukraina membuka peluang perdagangan energi bagi Iran melalui perluasan jaringan pemasok dan pemenuhan kebutuhan bahan bakar, sebagaimana disampaikan ketika dihubungi jurnalis Sulawesi Pos pada Kamis, 8 Oktober 2026, menyusul masuknya minyak Iran ke Tajikistan dan pembahasan pembangunan kilang bersama di Kirgizstan.
Husain, yang juga mantan juru bicara Wakil Presiden RI ke-12 Muhammad Jusuf Kalla, memandang pembukaan pasar tersebut sebagai langkah strategis yang mempertemukan kepentingan ekonomi dan diplomasi Iran.
“Secara politik ekonomi, langkah ini sangat taktis,” ujar Husain.
Menurutnya, perluasan perdagangan energi dapat memperbesar jaringan kerja sama Iran di kawasan sekitar sekaligus mengurangi sebagian tekanan ekonomi yang dihadapi Tehran.

“Selain mereduksi secara tidak langsung tekanan embargo ekonomi yang diberlakukan Amerika atas Iran,” katanya.
Pandangan tersebut menempatkan perdagangan minyak sebagai sarana memperluas hubungan antarnegara, karena transaksi energi membutuhkan kerja sama berkelanjutan dalam pengangkutan, pembiayaan, pengolahan, dan kepastian pasokan.
Dalam konteks Asia Tengah, terbukanya hubungan dengan pemasok tambahan memberi negara pembeli pilihan ketika pasokan dari mitra utama terganggu, sekaligus menyediakan kesempatan bagi Iran untuk membangun hubungan komersial yang lebih panjang.
Sementara itu, Andi Razak menyoroti peluang penjualan bahan bakar Iran kepada Rusia yang fasilitas pengolahannya terdampak serangan Ukraina.
“Peluang Iran sangat besar untuk menjual BBM-nya ke Rusia,” ujar Andi Razak.
Ia menilai kerusakan sejumlah kilang meningkatkan kebutuhan Rusia terhadap tambahan bahan bakar, meskipun komentar tersebut merupakan penilaian mengenai peluang bisnis dan belum menunjukkan adanya kontrak atau pengiriman BBM Iran ke Rusia.
Peluang yang disoroti Andi Razak berkaitan dengan kebutuhan Rusia sendiri, sedangkan pembukaan pasar Tajikistan dan Kirgizstan berkaitan dengan kebutuhan negara pelanggan Rusia yang mencari alternatif pasokan.
Kedua perkembangan itu bertemu pada persoalan yang sama, yakni gangguan pengolahan minyak dapat mengubah arah perdagangan bahan bakar meskipun negara yang terdampak memiliki produksi minyak mentah besar.
Dari Peluang Sementara menuju Jaringan Perdagangan
Pembukaan pasar energi Iran di Asia Tengah menjadi sorotan laporan Al Jazeera karya Priyanka Shankar yang diterbitkan pada 7 Oktober 2026 serta pemberitaan Euronews Persian pada tanggal yang sama.
Asia-Plus pada 24 September 2026 melaporkan bahwa Tajikistan mulai menerima minyak dan produk minyak Iran, sementara rencana pengadaan hingga 2,55 juta ton per tahun masih menghadapi persoalan harga, transit, dan kemampuan pengolahan domestik.
Target tersebut mencakup dua juta ton minyak mentah, 300.000 ton solar, 150.000 ton bensin, dan 100.000 ton bahan bakar pesawat, sehingga sebagian besar kebutuhan yang diajukan berupa bahan baku untuk kilang.
Besaran itu merupakan permintaan tahunan Tajikistan, bukan volume yang sudah dikirim atau kepastian bahwa seluruh jenis produk dapat dipasok Iran.
Menurut data dalam laporan Al Jazeera, Tajikistan secara tradisional memperoleh hingga 80 persen produk minyaknya dari Rusia, sedangkan Kirgizstan mengimpor lebih dari 90 persen kebutuhan bensinnya dari negara tersebut.
Ketergantungan tersebut menjelaskan mengapa gangguan pada kilang Rusia segera meningkatkan kebutuhan kedua negara untuk mencari pemasok tambahan.
Reuters pada 13 Juli 2026 melaporkan pengiriman bahan bakar pesawat Rusia ke Asia Tengah dan Afghanistan pada Juni turun lebih dari 92 persen dibandingkan Mei, sementara pengiriman bensin merosot 34 persen dan pasokan solar justru meningkat.
Perbedaan itu menunjukkan bahwa gangguan pasokan harus dibaca menurut jenis bahan bakarnya, bukan sebagai penghentian seluruh perdagangan energi Rusia.
Peluang memperkuat posisi Iran juga memiliki landasan kelembagaan, karena basis data Organisasi Perdagangan Dunia mencatat perjanjian perdagangan bebas Iran dengan Uni Ekonomi Eurasia mulai berlaku pada 15 Mei 2025.
Perjanjian tersebut melibatkan Iran bersama Rusia, Kazakhstan, Kirgizstan, Belarus, dan Armenia, sedangkan Tajikistan berada di luar keanggotaan blok itu.
Keberadaan kerangka perdagangan tersebut memberi dasar bagi penafsiran bahwa perluasan hubungan ekonomi Iran berpeluang melampaui transaksi darurat, tetapi manfaat bagi produk minyak tertentu tetap bergantung pada ketentuan perdagangan dan pelaksanaannya.
Dengan demikian, pandangan Husain mengenai nilai taktis kerja sama memperoleh konteks yang lebih luas melalui hubungan perdagangan lintas kawasan, tanpa berarti terbukanya pasar otomatis menghapus sanksi Amerika.
Kilang dan Kepastian Pasokan Menentukan Daya Saing
Pandangan Andi Razak menyoroti perbedaan penting antara kemampuan menghasilkan minyak mentah dan kemampuan menyediakan BBM siap pakai.

Minyak mentah harus diolah menjadi bensin, solar, dan bahan bakar pesawat, sehingga kerusakan kilang dapat menimbulkan kekurangan produk tertentu meskipun bahan bakunya tersedia.
Bagi calon pemasok, peluang penjualan ditentukan oleh tersedianya produk yang dibutuhkan pembeli, kesesuaian mutu, harga sampai tujuan, dan kemampuan mengirim secara teratur.
Kondisi Rusia sendiri dapat berubah seiring perbaikan fasilitas, sebagaimana Reuters pada 2 Oktober 2026 melaporkan pernyataan Wakil Perdana Menteri Alexander Novak bahwa pemerintah dapat mempertimbangkan pencabutan sebagian larangan ekspor solar apabila produksi melampaui kebutuhan domestik.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa besarnya peluang Iran tidak dapat ditentukan hanya dari kerusakan kilang Rusia, karena pemulihan produksi juga dapat mengubah kebutuhan impor dan persaingan harga.
Untuk Tajikistan, keberhasilan perdagangan minyak mentah bergantung pada kemampuan kilang menerima serta mengolah jenis minyak yang dipasok.
Asia-Plus juga mencatat bahwa keterbatasan dan tingginya kebutuhan domestik Iran terhadap bensin serta solar menjadi persoalan tersendiri bagi rencana ekspor produk tersebut.
Di Kirgizstan, Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Agustus menyambut usulan kilang bersama dengan kemungkinan pasokan minyak mentah dari Iran dan pembagian hasil pengolahan antara kedua pihak.
Apabila terealisasi, kerja sama semacam itu berpotensi mempererat hubungan melalui investasi dan pasokan bahan baku, tetapi pembahasan proyek belum membuktikan bahwa fasilitas sudah dibangun atau beroperasi.
Jalan Menuju Pangsa Pasar Lebih Besar
Peneliti senior nonresiden Middle East Council on Global Affairs, Frederic Schneider, menjelaskan dalam laporan sumber bahwa salah satu pilihan pengiriman minyak Iran ke Tajikistan dan Kirgizstan melewati Turkmenistan serta Uzbekistan.
Karena Iran tidak berbatasan langsung dengan kedua negara tujuan, biaya transit, ketersediaan angkutan, dan koordinasi lintas negara menjadi bagian penting dari daya saingnya.
Rusia juga tidak berbatasan langsung dengan Tajikistan atau Kirgizstan, tetapi memiliki keunggulan berupa hubungan pasokan serta jaringan perdagangan yang telah lama terbentuk.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, Iran berpeluang memperbesar pangsa pasar apabila mampu mengubah pengiriman awal menjadi pasokan teratur dengan harga kompetitif, pengolahan yang memadai, dan sistem pembayaran yang dapat digunakan.
Namun, penguasaan pasar Asia Tengah belum dapat dinyatakan sebagai hasil yang pasti, karena data yang tersedia masih menunjukkan tahap pembukaan pasokan dan pembahasan proyek.
Schneider menilai pemulihan kilang Rusia dapat mempersempit peluang pemasok alternatif, sementara ukuran pasar Asia Tengah belum memadai untuk menggantikan pasar utama minyak Iran seperti China.
Ia juga memperingatkan risiko sanksi sekunder Amerika terhadap pelaku transaksi minyak Iran, yang dapat meningkatkan biaya dan menyulitkan pembiayaan perdagangan.
Dalam perkembangan terbaru, Reuters pada 7 Oktober 2026 melaporkan Badan Energi Internasional mempercepat pelepasan cadangan yang telah disepakati sebelumnya dengan memprioritaskan solar untuk meredakan tekanan pasokan global.
Bagi masyarakat negara pembeli, manfaat perluasan perdagangan energi akhirnya diukur dari ketersediaan bahan bakar, keterjangkauan biaya transportasi, dan keberlanjutan kegiatan ekonomi sehari-hari.
Bagi Iran, kesempatan yang dinilai taktis oleh Husain dan menjanjikan oleh Andi Razak akan menjadi lebih kuat apabila didukung kemampuan memasok secara konsisten serta kerja sama perdagangan yang bertahan setelah gangguan kilang Rusia mereda.


