SulawesiPos.com – Mentan Amran menegaskan kebijakan pemimpin dapat menentukan arah bangsa ketika berbagi pengalaman kepemimpinan kepada peserta didik Sespimti Polri Dikreg ke-36 di Kementan, Jakarta, Senin (28/9/2026). Di hadapan perwira menengah Polri, TNI, dan Kejaksaan, ia menekankan keputusan yang tepat, kolaborasi, ketahanan pangan-energi, dan karakter sebagai fondasi pelayanan kepada rakyat.
Menurut Mentan Amran, pemimpin tidak cukup hanya bekerja keras atau memiliki kemampuan teknis, tetapi harus mampu membaca persoalan, belajar, lalu berani mengambil keputusan yang berdampak nyata bagi masyarakat.
Ia bahkan mengingatkan bahwa kebijakan yang keliru dapat menimbulkan bahaya lebih besar daripada korupsi karena menentukan arah pengelolaan negara dan kehidupan rakyat.
“Kita harus ingat, bapak-bapak ini pemimpin. Yang paling penting adalah kebijakan. Kebijakan yang salah jauh lebih berbahaya dari koruptor. Karena itu pemimpin harus berani mengambil keputusan yang benar dan berpihak kepada rakyat,” kata Mentan Amran.
Pengarahan tersebut disampaikan saat Mentan Amran menerima peserta Kuliah Kerja Profesi I Sespimti Polri Dikreg ke-36 Tahun Anggaran 2026 di Kantor Pusat Kementerian Pertanian.
Peserta terdiri atas perwira menengah dari Polri, TNI, dan Kejaksaan yang mengikuti pendidikan untuk memperkuat kapasitas kepemimpinan sebelum menjalankan tanggung jawab yang lebih besar di institusi masing-masing.
Kebijakan Pupuk Jadi Contoh Penghematan
Mentan Amran mencontohkan perubahan tata kelola pupuk sebagai salah satu kebijakan yang menurutnya berdampak besar terhadap efisiensi negara.
Ia mengatakan perubahan itu dilakukan setelah mendapat arahan Presiden Prabowo Subianto untuk menyelesaikan persoalan pupuk. Kementan, kata dia, menganalisis masalah tersebut selama tiga hari dan memanggil Direktur Pupuk Indonesia sebelum menyusun kebijakan, termasuk revitalisasi pabrik.
“ Kami diperintah Pak Presiden Prabowo untuk selesaikan masalah pupuk. Kami analisis tiga hari, kami panggil Direktur Pupuk Indonesia. Kami selesaikan kebijakan untuk pupuk termasuk revitalisasi pabrik. Bayangkan, Rp500 triliun bisa kami hemat hanya karena secarik kertas. Itu baru satu kebijakan,” jelasnya.
Menurut Mentan Amran, pengalaman itu menunjukkan keputusan administratif dapat memberi dampak besar ketika disusun berdasarkan analisis dan diarahkan untuk menyelesaikan persoalan publik.
Perubahan tata kelola pupuk tersebut ia tempatkan sebagai bagian dari upaya pemerintah memperkuat fondasi swasembada pangan yang telah dicapai Indonesia.
Ia menyebut sejumlah capaian sektor pertanian, mulai dari swasembada pangan yang disebut tercapai cepat, stok pangan yang kuat, peningkatan kesejahteraan petani, kenaikan ekspor pertanian, hingga penurunan impor pertanian.
“Kita sudah swasembada dan insya Allah berkelanjutan. Stok kita tertinggi selama merdeka pernah mencapai 5,37 juta ton. Kita juga mendapat dua penghargaan tertinggi dari FAO,” katanya.
Kolaborasi dan Ketahanan Pangan Menjadi Kekuatan Negara
Mentan Amran mengatakan capaian tersebut tidak lahir dari kerja satu orang atau satu lembaga. Menurut dia, kolaborasi lintas sektor diperlukan agar kebijakan dapat dijalankan secara menyeluruh.
“Kita tidak bisa sukses tanpa kolaborasi. Kalau ada pemimpin yang mengatakan ‘saya’, itu awal kehancuran. Tapi kalau kita mengatakan ‘bersama’, semua bisa bergerak. Sukses itu akumulasi, harus holistik,” ungkapnya.
Ia kemudian mengingatkan peserta bahwa tantangan global telah berkembang dari persoalan keamanan konvensional menuju persaingan atas pangan, energi, air, dan sumber daya strategis lainnya.
“Sekarang perang bukan lagi soal senjata. Senjata terbaik adalah pangan, energi, dan air. Karena itu pangan dan energi harus kita perkuat sesuai arahan Bapak Presiden,” tegasnya.
Pesan itu dikaitkan dengan kebutuhan pemimpin untuk membaca perubahan lingkungan strategis dan menempatkan pangan serta energi sebagai bagian dari kekuatan negara.
Selain kemampuan mengambil keputusan, Mentan Amran menilai karakter menjadi faktor utama yang menentukan keberhasilan seorang pemimpin.
“Yang membuat seseorang sampai ke puncak bukan karena pendidikan, bukan karena kekayaan, tetapi karena karakter. Karakter yang membuat orang sukses di segala sektor,” ujarnya.
Peserta Sespimti Menilai Pesan Relevan
Pesan tersebut mendapat respons positif dari peserta didik Sespimti Polri. Kombes Pol Boy J Situmorang yang mewakili peserta menyampaikan apresiasi atas kesempatan berdiskusi langsung dengan Mentan Amran.
Boy menilai capaian Kementerian Pertanian dan pengalaman kepemimpinan yang disampaikan menjadi pembelajaran bagi calon pimpinan Polri.
“Hari ini kami sangat senang sekali bisa langsung diterima oleh Bapak Menteri Pertanian. Beliau menjelaskan capaian-capaian Kementerian Pertanian yang luar biasa dan memberikan banyak insight bagi kami calon pemimpin Polri ke depan,” ujar Boy.
Ia mengatakan keberhasilan menjaga swasembada pangan menunjukkan kebijakan yang tepat dapat menghasilkan perubahan yang dirasakan masyarakat.
“Kami melihat capaian swasembada pangan yang sangat positif dan kami siap ikut menjaga keberlanjutannya. Apa yang disampaikan Pak Menteri memberikan pencerahan yang luar biasa, terutama bagaimana menjadi pemimpin yang adaptif menghadapi tantangan dan perubahan,” katanya.
Boy juga menyoroti pesan mengenai pangan dan energi sebagai fondasi kekuatan negara di tengah perubahan bentuk persaingan global.
“Satu hal yang sangat kami ingat, peperangan di era saat ini bukan lagi mengangkat senjata, tetapi bagaimana menjaga ketahanan pangan dan energi. Pesan itu sangat kuat bagi kami,” ujarnya.
Peserta dari Kejaksaan Republik Indonesia, Taufan Zakariah, menilai pertemuan tersebut memberi inspirasi yang dapat diterapkan dalam kepemimpinan di berbagai sektor.
Menurut Taufan, keberhasilan program pemerintah tidak hanya ditentukan kemampuan menjalankan tugas, tetapi juga kemampuan membangun sinergi dan menghargai semua pihak.
“Kami sangat mengapresiasi apa yang disampaikan Pak Menteri. Bukan hanya soal keberhasilan program pemerintah, tetapi juga banyak memberikan inspirasi kepemimpinan bagi kami semua,” pungkasnya.*


