Mentan Amran: Stok Beras Kuat, Pasokan Aman hingga Panen Maret

SulawesiPos.com – Menteri Pertanian (Mentan) Amran memastikan stok beras nasional cukup kuat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga panen berikutnya yang diperkirakan memuncak pada Maret, meski Indonesia menghadapi musim kering dampak El Nino. Pemerintah memperkuat ketahanan pasokan melalui cadangan beras, pembangunan irigasi, peningkatan produksi, serta kebijakan pupuk yang lebih terjangkau.

Hal itu dikatakan Mentan Amran saat menghadiri peringatan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta, Jumat (18/9/2026) malam, sebagaimana disampaikan melalui rilis Kementerian Pertanian pada Sabtu (19/9/2026) pagi.

Mentan Amran mengatakan, pengamanan pasokan dilakukan melalui kesinambungan produksi dari hulu hingga tersedianya stok pada periode antarmusim.

Menurut Mentan Amran, rentang pasokan dari September, Oktober, November, Desember, Januari hingga Mei masih memiliki ruang pengaman sebelum memasuki panen puncak pada Maret.

“Sekarang September, Oktober, November, Desember, Januari sampai Mei. Pada yang puncak, Maret. Overlap,” ujar Mentan Amran.

Ia menjelaskan kekuatan pasokan tersebut berasal dari beberapa sumber, yakni standing crop yang diperkirakan sekitar 10 juta ton, beras pada sektor hotel, restoran, dan katering atau HOREKA sekitar 10 juta ton, serta Cadangan Beras Pemerintah yang dikelola Perum Bulog di kisaran 5 juta ton.

BACA JUGA:  Manisnya Gula Aren Organik Pacitan Tembus Pasar Eropa hingga Australia

“Yang di HOREKA, hotel, rumah-rumah, restoran itu 10 juta ton. Di Bulog kurang lebih 5 juta ton, berarti 25–26 juta ton. Kebutuhan per bulan 2,5–2,6 juta ton,” kata Mentan Amran.

Irigasi dan Pupuk Menjaga Produksi

Berdasarkan perhitungan kasar dari komponen tersebut, total pasokan yang disebut pemerintah berada pada kisaran 25 juta ton atau sekitar 25–26 juta ton, sedangkan kebutuhan nasional mencapai sekitar 2,5–2,6 juta ton per bulan.

Perbandingan itu memberikan gambaran bantalan pasokan yang besar untuk melewati periode antarmusim, tetapi stok tetap harus diperbarui melalui produksi yang berjalan hingga memasuki panen berikutnya.

Ketahanan pangan, menurut pemerintah, tidak hanya ditentukan oleh jumlah beras yang tersedia saat ini, tetapi juga kemampuan menjaga produktivitas lahan serta memastikan pasokan baru terus masuk ke dalam sistem pangan nasional.

Karena itu, pemerintah memperkuat produksi dari sisi hulu melalui pembangunan infrastruktur pertanian, khususnya irigasi.

Presiden Prabowo Subianto dalam sambutannya pada HUT ke-28 PAN menyampaikan pemerintah telah membangun lebih dari 1.000 kilometer irigasi.

“Lebih dari 1.000 kilometer irigasi terbangun,” ujar Presiden Prabowo.

BACA JUGA:  Cadangan Beras Pemerintah (CBP) Tembus Rekor Tertinggi 4,72 Juta Ton, Bukti Nyata Ketahanan Pangan Nasional Kian Kokoh

Pembangunan irigasi menjadi instrumen untuk menjaga kesinambungan produksi karena ketersediaan air yang lebih baik memungkinkan lahan pertanian tetap produktif.

Infrastruktur tersebut juga mendukung peningkatan luas dan intensitas tanam sehingga pasokan pangan dapat terus mengalir ketika stok yang tersedia digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Selain irigasi, pemerintah memperkuat produksi melalui kebijakan pupuk dengan menurunkan harga sekaligus meningkatkan jumlah pupuk yang tersedia.

“Pertama kali dalam sejarah Indonesia, kita bisa turunkan harga pupuk. Harga pupuk turun, tapi jumlah pupuk tambah,” kata Presiden Prabowo.

Harga pupuk yang lebih terjangkau dan ketersediaan yang meningkat membantu petani memperoleh salah satu input utama produksi sehingga kegiatan budidaya dapat terus berlangsung.

Presiden Prabowo juga menyebut Indonesia telah mencapai swasembada delapan komoditas pangan dalam satu tahun.

Capaian tersebut berjalan bersama kebijakan yang diarahkan untuk memperkuat produksi dan infrastruktur pangan nasional.

Dari Pasokan Domestik Menuju Ekspor

Bagi Kementerian Pertanian, ketahanan pangan tidak hanya berbicara tentang kemampuan menghasilkan pangan pada saat panen raya.

Kemampuan negara menjaga pasokan di antara satu musim panen dan musim berikutnya juga menjadi bagian penting dalam mempertahankan ketahanan pangan.

BACA JUGA:  Survei Indikator: Purbaya Teratas, Andi Amran Menteri Kedua Terbaik

Dengan produksi yang terus berjalan, irigasi yang semakin diperkuat, pupuk yang lebih terjangkau, serta cadangan dan pasokan yang tersedia, Indonesia memiliki bantalan lebih kuat untuk menghadapi periode paceklik.

Kekuatan tersebut sekaligus membuka ruang bagi Indonesia untuk bergerak dari sekadar memenuhi kebutuhan domestik menuju pengelolaan surplus pangan.

Mentan Amran mengatakan Indonesia kini mulai melakukan ekspor beras setelah kebutuhan dalam negeri dapat dipenuhi dan produksi menghasilkan surplus.

“Kita kan sudah ekspor. Coba sekali bertanya, kapan lagi ekspor?” ujar Mentan Amran.

Pemerintah terus menjaga momentum tersebut agar swasembada tidak berhenti sebagai capaian produksi, tetapi menjadi fondasi ketahanan pangan yang mampu menjaga pasokan sepanjang tahun sekaligus menciptakan peluang ekonomi lebih besar bagi petani.

Mentan Amran memastikan stok beras aman hingga panen Maret melalui cadangan Bulog, standing crop, irigasi, pupuk, dan penguatan produksi. Pernyataan itu dikatakan Mentan Amran saat menghadiri peringatan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta, Jumat (18/9/2026) malam, sebagaimana sampaikan melalui rilis Kementerian Pertanian pada Sabtu (19/9/2026) pagi.

 

SulawesiPos.com – Menteri Pertanian (Mentan) Amran memastikan stok beras nasional cukup kuat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga panen berikutnya yang diperkirakan memuncak pada Maret, meski Indonesia menghadapi musim kering dampak El Nino. Pemerintah memperkuat ketahanan pasokan melalui cadangan beras, pembangunan irigasi, peningkatan produksi, serta kebijakan pupuk yang lebih terjangkau.

Hal itu dikatakan Mentan Amran saat menghadiri peringatan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta, Jumat (18/9/2026) malam, sebagaimana disampaikan melalui rilis Kementerian Pertanian pada Sabtu (19/9/2026) pagi.

Mentan Amran mengatakan, pengamanan pasokan dilakukan melalui kesinambungan produksi dari hulu hingga tersedianya stok pada periode antarmusim.

Menurut Mentan Amran, rentang pasokan dari September, Oktober, November, Desember, Januari hingga Mei masih memiliki ruang pengaman sebelum memasuki panen puncak pada Maret.

“Sekarang September, Oktober, November, Desember, Januari sampai Mei. Pada yang puncak, Maret. Overlap,” ujar Mentan Amran.

Ia menjelaskan kekuatan pasokan tersebut berasal dari beberapa sumber, yakni standing crop yang diperkirakan sekitar 10 juta ton, beras pada sektor hotel, restoran, dan katering atau HOREKA sekitar 10 juta ton, serta Cadangan Beras Pemerintah yang dikelola Perum Bulog di kisaran 5 juta ton.

BACA JUGA:  Rekor Baru! Stok Beras RI Tembus 4,5 Juta Ton, Gudang Sampai Tak Muat

“Yang di HOREKA, hotel, rumah-rumah, restoran itu 10 juta ton. Di Bulog kurang lebih 5 juta ton, berarti 25–26 juta ton. Kebutuhan per bulan 2,5–2,6 juta ton,” kata Mentan Amran.

Irigasi dan Pupuk Menjaga Produksi

Berdasarkan perhitungan kasar dari komponen tersebut, total pasokan yang disebut pemerintah berada pada kisaran 25 juta ton atau sekitar 25–26 juta ton, sedangkan kebutuhan nasional mencapai sekitar 2,5–2,6 juta ton per bulan.

Perbandingan itu memberikan gambaran bantalan pasokan yang besar untuk melewati periode antarmusim, tetapi stok tetap harus diperbarui melalui produksi yang berjalan hingga memasuki panen berikutnya.

Ketahanan pangan, menurut pemerintah, tidak hanya ditentukan oleh jumlah beras yang tersedia saat ini, tetapi juga kemampuan menjaga produktivitas lahan serta memastikan pasokan baru terus masuk ke dalam sistem pangan nasional.

Karena itu, pemerintah memperkuat produksi dari sisi hulu melalui pembangunan infrastruktur pertanian, khususnya irigasi.

Presiden Prabowo Subianto dalam sambutannya pada HUT ke-28 PAN menyampaikan pemerintah telah membangun lebih dari 1.000 kilometer irigasi.

“Lebih dari 1.000 kilometer irigasi terbangun,” ujar Presiden Prabowo.

BACA JUGA:  Kementan Ingatkan Bahaya Paracetamol untuk Tanaman Cabai, Petani Diminta Tak Ikuti Konten Viral

Pembangunan irigasi menjadi instrumen untuk menjaga kesinambungan produksi karena ketersediaan air yang lebih baik memungkinkan lahan pertanian tetap produktif.

Infrastruktur tersebut juga mendukung peningkatan luas dan intensitas tanam sehingga pasokan pangan dapat terus mengalir ketika stok yang tersedia digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Selain irigasi, pemerintah memperkuat produksi melalui kebijakan pupuk dengan menurunkan harga sekaligus meningkatkan jumlah pupuk yang tersedia.

“Pertama kali dalam sejarah Indonesia, kita bisa turunkan harga pupuk. Harga pupuk turun, tapi jumlah pupuk tambah,” kata Presiden Prabowo.

Harga pupuk yang lebih terjangkau dan ketersediaan yang meningkat membantu petani memperoleh salah satu input utama produksi sehingga kegiatan budidaya dapat terus berlangsung.

Presiden Prabowo juga menyebut Indonesia telah mencapai swasembada delapan komoditas pangan dalam satu tahun.

Capaian tersebut berjalan bersama kebijakan yang diarahkan untuk memperkuat produksi dan infrastruktur pangan nasional.

Dari Pasokan Domestik Menuju Ekspor

Bagi Kementerian Pertanian, ketahanan pangan tidak hanya berbicara tentang kemampuan menghasilkan pangan pada saat panen raya.

Kemampuan negara menjaga pasokan di antara satu musim panen dan musim berikutnya juga menjadi bagian penting dalam mempertahankan ketahanan pangan.

BACA JUGA:  Cadangan Beras Pemerintah (CBP) Tembus Rekor Tertinggi 4,72 Juta Ton, Bukti Nyata Ketahanan Pangan Nasional Kian Kokoh

Dengan produksi yang terus berjalan, irigasi yang semakin diperkuat, pupuk yang lebih terjangkau, serta cadangan dan pasokan yang tersedia, Indonesia memiliki bantalan lebih kuat untuk menghadapi periode paceklik.

Kekuatan tersebut sekaligus membuka ruang bagi Indonesia untuk bergerak dari sekadar memenuhi kebutuhan domestik menuju pengelolaan surplus pangan.

Mentan Amran mengatakan Indonesia kini mulai melakukan ekspor beras setelah kebutuhan dalam negeri dapat dipenuhi dan produksi menghasilkan surplus.

“Kita kan sudah ekspor. Coba sekali bertanya, kapan lagi ekspor?” ujar Mentan Amran.

Pemerintah terus menjaga momentum tersebut agar swasembada tidak berhenti sebagai capaian produksi, tetapi menjadi fondasi ketahanan pangan yang mampu menjaga pasokan sepanjang tahun sekaligus menciptakan peluang ekonomi lebih besar bagi petani.

Mentan Amran memastikan stok beras aman hingga panen Maret melalui cadangan Bulog, standing crop, irigasi, pupuk, dan penguatan produksi. Pernyataan itu dikatakan Mentan Amran saat menghadiri peringatan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta, Jumat (18/9/2026) malam, sebagaimana sampaikan melalui rilis Kementerian Pertanian pada Sabtu (19/9/2026) pagi.

 

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru