SulawesiPos.com – Warga Kabupaten Bone yang menggunakan mobil untuk aktivitas sehari-hari perlu mempertimbangkan kondisi kendaraan yang sesuai dengan karakter jalan dan kebutuhan perjalanan di wilayah tersebut. Lebih dari 61 persen jaringan jalan di Bone berada dalam kondisi rusak ringan hingga rusak berat, dengan sejumlah ruas memiliki permukaan jalan yang bergelombang, aspal yang mengelupas, serta beberapa bagian yang membutuhkan perhatian lebih saat dilalui. Saat musim hujan, karakter permukaan jalan dapat berubah karena adanya genangan dan tanah yang lebih basah, sedangkan pada musim kemarau permukaan jalan cenderung lebih berdebu.
Sejumlah jalur seperti Poros Maros-Bone, Poros Bone-Sinjai, dan Poros Bone-Wajo juga melewati kawasan pegunungan dengan tanjakan, turunan, serta tikungan tajam yang mengikuti kontur wilayah.
Mobilitas warga dari 26 kecamatan penyangga menuju pusat Kota Watampone turut membuat kendaraan digunakan untuk perjalanan rutin dengan waktu tempuh normal sekitar 60 hingga 120 menit, tergantung rute yang ditempuh.
Di sisi lain, aktivitas pertanian yang menjadi mata pencaharian utama warga membuat kendaraan juga digunakan untuk membawa hasil panen seperti padi, jagung, dan komoditas hortikultura dari kawasan pedalaman menuju pasar kecamatan.
Dengan karakter perjalanan yang beragam tersebut, beberapa hal seperti jarak bodi mobil dari permukaan jalan, kemampuan mesin saat membawa beban, kapasitas penumpang, dan fitur keselamatan perlu diperhatikan sebelum memilih kendaraan.
Ground clearance yang lebih tinggi dapat membantu menjaga jarak bagian bawah mobil dari permukaan jalan ketika melewati ruas dengan permukaan tidak rata maupun genangan air akibat luapan sungai di sejumlah wilayah.
Mitsubishi Xpander facelift terbaru memiliki ground clearance 220 milimeter, sama dengan Toyota Rush dan Daihatsu Terios yang juga memiliki ground clearance 220 milimeter.
Torsi dan Kapasitas untuk Medan Berbukit
Kemampuan mesin membawa kendaraan saat melewati tanjakan menjadi salah satu pertimbangan bagi warga yang rutin melintasi jalur berbukit seperti Poros Camba dan Poros Bulukumba-Sinjai.
Mitsubishi Xpander tercatat memiliki torsi 141 Nm, sedangkan Toyota Rush dan Daihatsu Terios masing-masing memiliki torsi 136 Nm.
Toyota Rush menggunakan penggerak roda belakang yang memberikan karakter traksi berbeda dibanding Xpander ketika kendaraan digunakan menanjak dengan membawa penumpang penuh.
Kapasitas penumpang juga menjadi pertimbangan bagi warga yang rutin bepergian dari kecamatan penyangga menuju Watampone untuk keperluan administrasi, kesehatan, maupun pendidikan.
Mitsubishi Xpander, Toyota Rush, dan Daihatsu Terios sama-sama menyediakan kapasitas hingga tujuh penumpang untuk mendukung perjalanan keluarga maupun kebutuhan mobilitas sehari-hari.
Untuk kebutuhan yang lebih spesifik, seperti perjalanan menuju kawasan pertanian pedalaman, Toyota Hilux Double Cabin 2.8 4×4 memiliki ground clearance sekitar 310 hingga 312 milimeter serta torsi 500 Nm.
Konfigurasi 4×4 dengan differential lock pada Hilux juga dapat menjadi pertimbangan untuk kebutuhan perjalanan di kawasan dengan karakter permukaan jalan yang lebih beragam dibanding jalan pada umumnya di Bone.
Selain kemampuan melewati berbagai kondisi jalan, fitur keselamatan juga perlu diperhatikan, terutama ketika kendaraan digunakan pada jalur pegunungan dengan banyak tanjakan, turunan, dan tikungan tajam.
Fitur seperti Hill-Start Assist, Vehicle Stability Control, dan ABS dengan EBD dapat menjadi bagian yang dipertimbangkan ketika memilih kendaraan untuk kebutuhan perjalanan tersebut.
Daihatsu Terios pada varian tertentu turut dilengkapi Around View Monitor yang dapat membantu pengemudi saat melakukan manuver di titik jalan yang lebih sempit, seperti kawasan perbatasan Kajuara dan Sinjai.
Dengan mempertimbangkan kondisi jalan, kebutuhan membawa penumpang atau hasil pertanian, serta karakter perjalanan yang dilakukan, pilihan kendaraan dapat disesuaikan dengan kebutuhan mobilitas warga di Kabupaten Bone.


